Petani Batui Tak Ingin Lagi Bermitra Dengan PT Sawindo Cemerlang

Petani Batui Tak Ingin Lagi Bermitra Dengan PT Sawindo Cemerlang

Foto: Istimewa

Transsulawesi.com, Batui -- Tak terhitung berapa kali petani plasma sawit di Kecamatan Batui memperjuangkan hak-hak mereka atas tanah mereka. Salah satu petani sawit di Batui Widiastuti selaku perwakilan dari petani sawit menjelaskan kronologis kejadian mulai Sejak Tahun 2010/2011 masuknya PT. Sawindo Cemerlang di wilayah Kecamatan Batui.

Perkebunan Kelapa Sawit tersebut telah melakukan penyerobotan lahan disertai penggusuran. Dengan iming-iming kesejahteraan masyarakat tanpa adanya GRTT terhadap lahan Petani Batui.

Pada tahun 2017, PT. Sawindo sudah mulai menawarkan SPK/SPHu ke petani namun petani menolak, dengan alasan sistem tangung renteng dan utang yang terlalu besar serta merugikan Petani. Dan pada tahun 2018 beberapa petani diduga dipaksa untuk menandatangani SPK/SPHu.

Menurut keterangan yang didapatkan, semenjak hampir 4 tahun Petani belum merasakan bagi hasil dari Plasma Sawit. Tercatat di tahun 2018 petani hanya mendapatkan 2 kali pembayaran. Tahun 2019 sebanyak 3 Kali Pembayaran. Dan pada tahun 2020 sebanyak 5 kali pembayaran. Dengan Nominal (Rp. 300.000/200.000) serta ketidakjelasan utang Petani terhadap PT. Sawindo Cemerlang (SPK/SPHu).

Dengan alas hak Sertifikat dan SKPT, petani Batui yang tergabung dalam Front Lingkar Sawit Batui dengan jumlah pemilik lahan kurang lebih 79 orang dengan luas kurang lebih 300 Hektare. Langkah-langkah telah dilakukan petani sejak tahun 2018 dengan berkirim surat ke PT. Sawindo Cemerlang, Ke Polsek Batui, hingga hering ke kantor DPRD Banggai, dan PT. Sawindo berjanji akan menyelesaikan segala permasalahan.

Bulan Agustus 2020 Petani melakukan Aksi Demo serta hering bersama Komisi 3 DPRD Banggai dan pihak PT. Sawindo. Hasil kesepakatan bahwa PT. Sawindo akan segera menyelesaikan persoalan dengan Petani dengan batas bulan Desember 2020. Namun, Perusahaan kembali ingkar.

Petani Batui yang tergabung dalam Front Lingkar Sawit Batui melakukan Aksi dan menduduki kantor PT. Sawindo Cemerlang selama dua hari yakni  22-23 Januari 2021. Petani menduduki dan mengambil alih lahan, tapi pada Senin 26 Januari 2021 petani di Polisikan dengan tuduhan pencurian buah Sawit oleh PT. Sawindo Cemerlang.

Petani plasma sawit di Kecamatan Batui menuntut agar perusahaan mengembalikan lahan masyarakat agar dapat dikelola secara mandiri dan membatalakan SPK/SPHU.

Meminta perlindungan/Jaminan kemanan pada TNI/POLRI dlam Hal Pengelolahan dan Aktifitas Masyarakat dilahan Masing-masing.

Memintah Pemerintah Kabupaten Banngai meninjau/memeriksa izin HGU secara Admiistrasi maupun operasional dilapangan.

PT Sawindo Cemerlang dan petani di minta menghentikan sementara kegiatan di area lahan yang masih bersengketa.

Tulus selaku Kordinator Gerakan Mandiri Pembela Rakyat (Gempar) dalam wawancaranya selesai pertemuan mengatakan bahwa kesepakatan ini masih belum memberikan kabar baik bagi petani. Karena tidak ada penguatan pembelaan terhadap pemilik lahan bersertifikat melaikan malah berpegang teguh bahwa masyarakat harus tetap bermitra dengan perusahaan.

Sementara kemauan masyarakat sudah tidak ingin lagi bermitra karena sudah cukup merasakan ketidakadilan selama 10 tahun lamanya, dan pemerintah dimana instansi terkait kelihatan seperti melanggengkan perusahaan tersebut beroperasi di kecamatan batui.

(mhr)

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.