JOB Tomori

Hoax Corona, WHO Tegaskan COVID-19 Tak Menular Lewat Udara

Hoax Corona, WHO Tegaskan COVID-19 Tak Menular Lewat Udara

Badan Kesehatan PBB, WHO, menyebut kasus corona kini justru meningkat tajam di luar wilayah China. Namun WHO belum dapat mengumumkan wabah ini sebagai pandemic. Menurut WHO, sejak hari Minggu ada sekitar 200 kasus baru yang dilaporkan dari China. Namun di saat yang sama, diterima laporan lebih dari 8000 kasus dari 61 negara di luar china plus 127 angka kematian. (Foto: Youtube)

Transsulawesi.com, Jenewa -- Sebuah pesan sempat beredar di media sosil yang menyatakan Virus Corona COVID-19 dapat menular melalui udara dan mampu bertahan selama 8 jam.

Menanggapi hal tersebut, pihak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui akun Instagramnya @who menegaskan apa yang telah tersebar merupakan informasi palsu.

WHO pun memberi penjelasan bahwa jalur penyebaran utama dari Virus Corona adalah melalui droplets (tetesan) yang disebarkan ketika seseorang batuk, bersin, maupun bicara.

"Droplets ini terlalu berat untuk bertahan di udara. Mereka dengan cepat jatuh ke lantai maupun permukaan," tegas WHO.

Dalam penjelasannya, seseorang bisa terinfeksi ketika ia menghirup udara saat berada sejauh 1 meter dengan orang yang positif COVID-19, atau menyentuh permukaan benda lalu kemudian menyentuh bagian wajah seperti mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Maka dari itu, WHO memberi peringatan untuk tetap melakukan physical distancing, atau menjaga jarak sekurang-kurangnya satu meter dengan orang lain atau dengan permukaan yang paling sering disentuh banyak orang. Tak ketinggalan, WHO juga mengingatkan untuk sering mencuci tangan dan hindari menyentuh bagian wajah.

WHO mengatakan seseorang dapat terinfeksi Covid-19 dengan menghirup virus jika berada dalam jarak 1 meter dari seseorang yang menderita Covid-19 atau dengan menyentuh permukaan yang terkontaminasi dan kemudian menyentuh mata, hidung atau mulut sebelum mencuci tangan.

 Untuk melindungi diri dari penularan, WHO mengimbau untuk jaga jarak setidaknya 1 meter dari yang lain dan melakukan desinfeksi permukaan yang sering disentuh. Bersihkan tangan secara teratur dan hindari menyentuh mata, mulut, dan hidung juga menjadi opsi pencegahan.

Pernyataan ini dilontarkan untuk mengklarifikasi pemberitaan sebelumnya kalau Covid-19 bisa bertahan di udara. Dalam pemberitaan CNBC itu, Dr. Maria Van Kerkhove, kepala penyakit baru dan unit zoonosis, menyebut virus itu bisa bertahan di udara sedikit lebih lama ketika melakukan prosedur yang menghasilkan aerosol seperti terjadi di fasilitas perawatan medis.

Namun, yang patut diperhatikan dari pernyataan ini adalah perbedaan aerosol dan airborne. Airborne berarti suatu penyakit bisa menyebar lewat udara. Sementara aerosol adalah istilah untuk partikel halus hasil penyemprotan cairan dengan tekanan yang dapat bertahan lama di udara.

(mhr)

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.