Bocah SMP Curi Alat Deteksi Gempa Di Sigi, Cuitan Kocak BMKG: Bukan Alat Memonitor Getaran Cinta

Bocah SMP Curi Alat Deteksi Gempa Di Sigi, Cuitan Kocak BMKG: Bukan Alat Memonitor Getaran Cinta

Mengetahui kabar tertangkapnya pelaku yang masih duduk di bangku SMP, admin Twitter resmi BMKG, @infoBMKG membuat cuitan sentilan yang bernada humor. (Foto: Twitter)

Transsulawesi.com, Palu -- Kabar pencurian alat deteksi gempa di Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi menjadi perbincangan warga setempat.

Alat tersebut merupakan salah satu sarana milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Palu.

Setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut, pelaku telah berhasil diamankan oleh pihak kepolisian Sigi.

Sedikitnya, dua pelaku yang berhasil diamankan pada Selasa (23/7/2019).

Keduanya ialah AP (14) warga Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru, dan Sofan alias Opan (43) warga Desa Mpanau, Kecamatan Sigi Biromaru.

AP yang merupakan pelajar salah satu Madrasah Tsanawiyah di Kota Palu, dibantu kedua teman sebaya berinisial S dan A yang masih dalam proses pengejaran.

Mengetahui kabar tertangkapnya pelaku yang masih duduk di bangku SMP, admin Twitter resmi BMKG, @infoBMKG membuat cuitan sentilan yang bernada humor.

Terlihat si admin terlihat gemas lantaran mengetahui si pelaku masih berstatus pelajar.

Bukannya mengimbau followers-nya dengan kalimat formal, BMKG justru membuat kalimat lucu yang membuat warganet salah fokus.

"Sudah dipastikan, sensor gempabumi sebesar ini, hanya bisa digunakan untuk memonitor getaran gempa bumi. . . Jika ingin memonitor getaran cinta si doi, sebaiknya tidak mencuri alat ini. Selain berat dibawa sudah pasti akan berurusan dengan polisi," tulis @infoBMKG pada Senin (29/7/2019) malam.

Cuitan tersebut sontak saja mendapat reaksi beragam dari warganet terkait artikel yang turut ditautkan di dalam cuitan tersebut.

Namun, banyak warganet justru salah fokus karena menganggap admin BMKG sedang tidak fokus karena mengaitkan kejadian ini dengan urusan asmara.

Warganet pun menimpali dengan komentar lucu untuk menanggapi guyonan admin BMKG tersebut.

Akibat ulahnya, AP dan Opan dikenakan dua pasal berbeda.

AP dijerat pasal 363 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara, sementara Opan dikenakan pasal 480 ayat 1 KUHP dengan ancaman 4 tahun penjara.

Sebelumya, alat pendeteksi gempa yang berada di stasiun mini Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi itu dicuri.

Akibatnya gempa dengan guncangan kecil atau di bawah 3 skala richter tidak tercatat akurat oleh BMKG sejak beberapa hari terakhir.

Berdasarkan keterangan dari pihak BMKG, alat deteksi gempa yang ditaksir seharga Rp 700 juta itu tidak dicuri secara bersamaan.

Pasalnya pada pertengahan Mei 2019, alat pertama yang hilang adalah sensor. Kemudian disusul solar sel, aki hingga regulator pada 16 Juli 2019. (mhr)

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.