Sejarah Baru, Anakan Maleo F1 Berhasil Menetas di Maleo Center DSLNG

Sejarah Baru, Anakan Maleo F1 Berhasil Menetas di Maleo Center DSLNG

Anakan Maleo generasi F1 berhasil menetas di mesin inkubator Maleo Center DSLNG. (Foto: Transsulawesi)

Transsulawesi.com, Batui -- Perjalanan panjang konservasi ex situ di Maleo Center PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) terjawab sudah. Senin, 11 November 2019 konservasi yang terletak di Desa Uso, Kecamatan Batui ini mencatat sejarah baru untuk dunia pengetahuan dengan menetasnya seekor anakan Burung Maleo generasi pertama individu filial 1 (F1) anakan Maleo dari indukan (Parental/P) yang bereproduksi di dalam fasilitas penangkaran.

Anakan Maleo yang berhasil menetas merupakan hasil penangkaran Maleo Center merupakan penantian panjang ex situ di maleo center yang telah memulai upayanya untuk melestarikan maleo sejak 2012 silam.

Generasi kedua burung maleo yang berhasil menetas di ex situ maleo center menjadi kontribusi besar untuk ilmu pengetahuan sehaligus harapan baru yang jauh dari teori selama ini bahwa maleo hanya bisa beregenerasi dihabitat aslinya.

Anakan maleo F1 yang saat ini berhasil menetas dengan mesin di inkubator maleo center DSLNG merupakan generasi yang didapatkan dari generasi sebelumnya. Yakni telur-telur hasil sitaan BKSDA diselamatkan ditetaskan oleh mesin inkubator DSLNG. Sebanyak 16 ekor burung maleo pada tahun 2013 yang berhasil di selamatkan, kemudian di rawat di penangkaran maleo center dengan tujuan untuk pengembangan ilmu pengetahuan terhadap burung endemik tersebut.

Setelah melalui proses panjang yang berliku, burung maleo yang berada di penangkarang tersebut kawin dan berhasil bertelur untuk pertama kalinya. Dalam catatan, burung maleo yang berada di penangkaran menghasilkan 4 butir telur. Namun 3 butir telur rusak karena dipatuk oleh sang induk, sehingga hanya 1 butir telur yang berhasil diselamatkan dan kini menetas dengan sempurna di mesin inkubator DSLNG di Maleo Center.

Untuk mendapatkan anakan maleo generasi F1 ini, setidaknya membutuhkan waktu 4 tahun lebih. Dengan usia 4 tahun tersebut burung maleo yang berada di penangkaran telah matang untuk bereproduksi.

Mustar hasan, seorang petugas di Maleo Center, menjadi salah satu saksi bersejarah dimana generasi F1 anakan Maleo berhasil menetas. Pria kelahiran Kecamatan Batui itu mencatat dengan detail saat telur maleo generasi F1 masuk pada mesin inkubator.

Menurutnya untuk menetaskan anakan maleo F1 memerlukan waktu setidaknya 79 hari untuk di erami dengan mesin inkubator. Hal tersebut melihat catatannya yakni saat telur tersebut masuk pada tanggal 24 agustus 2019, dan berhasil menetas pada tanggal 11 november 2019.

Menurutnya selama ini perjuangan untuk menghasilkan anakan maleo F1 itu tidak gampang, karena selain memperhatikan maleo yang berada di penangkaran, ia juga harus terus berjuang selama 79 hari untuk memperhatikan suhu di mesin inkubator agar tetap stabil.

Menurut Mustar, anakan maleo yang berhasil ditetaskan akan bisa berjalan pada hari ketiga. Karena membuthkan waktu 3 hari untuk merontokkan bulu dan menumbuhkan bulu barunya. Dalam proses tersebut, anakn maleo perlu diberikan asupannya nutrisi aer gula dan kemiri.

Sementara itu, Media Relations Officer DSLNG, Rahmat Azis, saat di mintai keterangan mengatakan dengan hadirnya generasi F1 di maleo center mengatakan ini terobosan untuk pertamakalinya di dunia dan merupakan sumbangsih besar Maleo Center PT Donggi-Senoro LNG bagi ilmu pengetahuan dan dunia penelitian.

"Sejarah lahirnya anakan maleo hasil konservasi ex situ generasi pertama yang membahagiakan hari ini menjadi sumbangsih besar Maleo Center PT Donggi-Senoro LNG bagi ilmu pengetahuan dan dunia penelitian. DSLNG membuktikan konsistensi program CSR di bidang lingkungan hidup selama enam tahun telah memberi peluang upaya domestifikasi burung endemik maleo”, ujarnya.

“Anakan maleo hasil sitaan BKSDA yang ditetaskan di inkubator sebagai generasi pertama anakan maleo di Maleo Center DSLNG, bisa kawin dan menetaskan telur lagi sebagai generasi kedua di penangkaran ex situ. Sumbangsih ini merupakan pencapaian luar biasa perusahaan yang bergerak di bidang energi, namun menjadikan konservasi maleo sebagai program CSRnya," tambahnya.

DSLNG perusahaan swasta yang menjadi pionir konservasi ex situ Maleo yang dimulai sejak 2012 bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah dan peneliti Maleo dari Universitas Tadulako Palu. (mhr)

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.