Sampah dan Musim Hujan

Sampah dan Musim Hujan

(foto: Bambang Dwicahya)

Transsulawesi.com, Luwuk -- Pada awal Tahun 2019 bulan februari kita sudah dipertemukan dengan musim penghujan. Hujan merupakan salah satu rahmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia beserta seluruh makhluk hidup yang ada di bumi.

Harusnya kita mensyukuri ketika musim hujan itu datang. Akan tetapi, sebagian dari kita malah tidak menginginkan musim ini. Padahal sudah jelas bahwa musim hujan adalah musim yang kita lalui di setiap tahun. Mengapa mereka tidak menginginkan musim hujan?

Alasan mereka sangat objektif terkait dengan pertanyaan tersebut. Mereka tidak menginginkan hujan, karena ketika musim hujan datang, hampir sebagian masyarakat merasakan dampak negatif. Salah satu dampak negatif tersebut seperti dampak kesehatan.

Ketika musim hujan datang, ada beberapa kasus penyakit mulai meningkat. Ditambah lagi, ketika hujan deras, terdapat beberapa genangan yang ada di dalam Kota serta sampah yang berserakan. Apalagi sudah ada di satu kecamatan mengalami bencana banjir. Yang harus kita pahami bahwa banjir itu adalah bencana yang sebagian besar diakibatkan oleh manusia itu sendiri yang merusak alam.

 Saya akan memfokuskan pada sampah yang berserakan ketika hujan. Mengapa ketika hujan terdapat banyak sampah yang berserakan? Apakah ketika musim hujan semakin banyak produksi sampah dari masyarakat? Ataukah ketika musim hujan tidak ada pengangkutan yang dilaksanakan oleh Dinas lingkungan hidup. Ini menandakan pengelolaan sampah di kota ini masih belum memenuhi standar. Harusnya walaupun hujan, tidak ada sampah yang berserakan.

Karena salah satu alasan adalah pewadahan yang ada di masyarakat harusnya tertutup dan tidak bisa terbawa oleh air. Apalagi masih ada perilaku masyarakat yang suka membuang sampah pada selokan, dan sampah tersebut tersembunyi di dalam selokan. Tidak kelihatan, tetapi ketika hujan pun datang maka sampah-sampah tersebut mulai bermunculan di permukaan.

Masih rendahnya kesadaran masyarakat terkait dengan pengelolaan sampah. Padahal produsen sampah terbesar adalah rumah tangga. Harusnya kita yang menghasilkan sampah terbanyak, kita juga harus tahu cara pengelolaan sampah yang sesuai dengan pengelolaannya. Pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab Pemerintah Daerah, akan tetapi tanggung jawab kita bersama.

Tanggung jawab pemerintah terhadap pengelolaan sampah hanya pada pengangkutan sampai pada pengolahan tingkat akhir. Sementara pemilahan, pengumpulan, sampai pada pewadahan itu adalah tanggung jawab dari masyarakat sebagai produsen sampah itu sendiri.

Apalagi sekarang semua Kelurahan yang ada di dalam kota sudah memiliki Bank Sampah, sehingga membantu dalam pengolahan tingkat akhir sampah karena dengan adanya Bank Sampah akan mengurangi jumlah produksi sampah.

Pengelolaan sampah dengan sistem 3R (mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang) juga harus ditanamkan pada diri kita masing-masing. Mulai dari diri kita, kemudian ajarkan pada keluarga kita maupun tempat kerja kita.

Ketika pengelolaan sampah sudah berjalan dengan baik pada masyarakat maupun pada pemerintah, maka sampah tidak akan berhubungan lagi dengan hujan.

Hujan yang harusnya kita syukuri, bukan kita keluhkan. Bila kita mengeluh, yang kita keluhkan adalah perilaku masyarakat yang masih membuang sampah buka pada tempatnya. Semakin banyak orang yang sadar akan pentingnya pengelolaan sampah, semakin kita terhindar dari bencana yang disebabkan oleh ulah kita sendiri.

Bambang Dwicahya, Dosen FKM Universitas Tompotika Luwuk Banggai