Presiden Jokowi Digugat Sembilan Pengusaha Sulteng

Presiden Jokowi Digugat Sembilan Pengusaha Sulteng

Kuasa hukum sembilan pengusaha di Sulawesi Tengah, yang menggugat Presiden Jokowi dan Kementeriannya, Dr. Muslimin Mamulai (kanan), Sahrul dan Abdul Rajab. (Foto : Kumparan)

Transsulawesi.com, Palu – Akibat penjarahan pasca gempa bumi, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu, Sulawesi Tengah silam, sebanyak sembilan pengusaha di Sulawesi Tengah menggugat Presiden Joko Widodo.

Sembilan pengusahan tersebut, juga menggugat cabinet Kementerian Jokowi karena mereka mengalami kerugian materil senilai Rp 87,377 miliar.

Kementerian yang digugat tersebut adalah Menteri Dalam Negeri, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan RI, Kepala Kepolisian, RI, Cq Kapolda Sulteng, Menteri Dalam Negeri, Cq Gubernur Sulawesi Tengah dan turut tergugat Menteri Keuangan.

Gugatan tersebut, resmi didaftarkan, dengan perkara perbuatan melawan hukum (PMH) oleh penguasa sebagaimana dalam pasal 1365 KUH Perdata.

Perkara itu sendiri  telah teregister dengan nomor 21/Pdt.G/2019/PN Pal, di Pengadilan Negeri (PN) Palu.

Atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan para tergugat tersebut, sehingga   menimbulkan kerugian materil akibat penjarahan yang dialami 9 pengusaha tersebut  senilai Rp 87,377 miliar. Sedangkan  kerugian immateril berupa hilangnya rasa aman dan nyaman dalam berusaha serta trauma phisikis dihitung dengan uang senilai Rp 5 miliar untuk masing- masing penggugat, atau totalnya Rp 45 miliar.

Ketua Tim Kuasa Hukum Sembilan pengusaha tersebut, Muslim Mamulai, melalui keterangan tertulis mengatakan, para penggugat merupakan pelaku usaha, di antaranya, usaha ritel, distributor Consumer Goods, elektronik, hasil bumi maupun usaha lainnya.

Ia mengatakan, sesaat setelah terjadinya bencana, gempa, tsunami dan likuefaksi telah menimbulkan kepanikan, kekacauan luar biasa di kalangan masyarakat. Ini kemudian diperparah kondisinya karena keterbatasan pasokan kebutuhan pokok berupa makanan, minuman, air bersih dan lainnya yang berbuntut penjarahan.

"Kepanikan dan kekacauan berubah anarkis dengan melakukan penjarahan oleh berbagai kelompok masyarakat terhadap toko, gudang yang punya persediaan bahan pokok,"  kata Muslim Mamulai dikutip dari kumparan.com.

Ia mengatakan, penjarahan menemukan momentumnya dengan eskalasi  semakin masif dan meluas, ketika pemerintah pusat, daerah dan aparat keamanan tidak bertindak  sigap.

Sembilan pengusaha tersebut adalah Alex Irawan selaku direktur PT Bumi Nyiur Swalayan dengan total kerugian Rp 33,922 ,132,884 miliar;  Laksono Margiono selaku direktur utama PT Varia Kencana dengan total kerugian Rp 5,774,098,197 miliar;  Muhammad Ishak selaku direktur PT Aditya Persada Mandiri dengan total kerugian 1,429,988,921 miliar; Jusuf Hosea selaku direktur CV Manggala Utama Parigi dengan total kerugian Rp 12,010,863,739 miliar, dan Agus Angriawan  selaku direktur CV Ogosaka dengan total kerugian Rp 22 miliar.

Selain itu, Donny Salim sebagai pemilik Centro Grosir Elektronik dengan total kerugian Rp 5 miliar;  Iwan Teddy sebagai pemilik Swalayan Taman Anggrek dengan kerugian Rp 1,4 miliar, Sudono Angkawijaya dengan total kerugian Rp 4,5 miliar, dan Akas Ang sebagai pemilik Kelapa Toserba dengan total kerugian Rp 1,2 miliar. (mhr)