Peduli Pendidikan Hingga Pelosok Banggai

Peduli Pendidikan Hingga Pelosok Banggai

Corporate Communication Manager DSLNG, Thamrin Hanafi saat bersama anak-anak sekolah SDN Karya Bakti, Desa Ampera, Pagimana. (Foto: Transsulawesi.com/Muhajir)

Transsulawesi.com, Pagimana -- Langit masih terlihat gelap saat sebuah mobil menjemput saya pukul 5.00 pagi pada liputan program tanggung jawab sosial perusahaan (TJSP) peduli pendidikan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) di Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai.

Program ini merupakan TSJP DSLNG untuk meningkatkan mutu pendidikan di Banggai dengan bermitra Gerakan Indonesia Mengajar (GIM).

Media Relations Officer DSLNG, Rahmat Azis menghampiri dengan singkat menyapa “sudah siap jalan?” saya pun hanya menganggukkan kepala karena masih mengantuk.

Tiga buah mobil dengan membawa enam orang wartawan dan tim Media Relations DSLNG melaju berpacu dengan waktu menuju Sekolah Dasar Negeri (SDN) Karya Bakti, di Desa Ampera, Pagimana.

“Maaf kita agak buru-buru karena mengejar waktu anak-anak sekolah masuk pagi,” kata Rahmat.

Kami harus menempuh perjalanan darat 65 kilometer dari kota Luwuk menuju Pagimana dikala matahari belum menampakkan wajahnya. Jalanan yang berkelok-kelok membuat rombongan wartawan mengalami mabuk darat.

Laju kendaraan kami terhenti karena salah satu wartawan stasiun televisi lokal Pritzno Dunggio mengalami mabuk darat yang cukup hebat. Pria yang biasa disapa Eno ini terlihat menundukkan kepala ketanah saat ditepi jalan karena mabuk darat yang dialaminya.

“Tidak gampang perjalanan ini,” kelakar Eno yang saat itu sedang menggunakan celana pendek dengan sepatu boot hitam bak roker 80-an.

Jajad, salah satu wartawan cetak lokal di kota Luwuk terlihat sedang menghirup minyak kayu putih dalam-dalam. Ia hanya duduk tersungkur didalam mobil dengan memejamkan mata dengan sesekali melihat kearah saya sambil geleng-geleng kepala.

Saya pun mengikuti metode terapi darinya dengan menghirup minyak kayu putih untuk menghilangkan mabuk darat yang sedang menghantui kami kami.

Rombongan kami harus berhenti untuk kedua kalinya di depan sebuah masjid ketika dalam perjalanan.

Corporate Communication Manager DSLNG, Thamrin Hanafi terlihat berupaya menjaga semangat kami dengan menghibur kami.

“Pada mabuk darat yah, nanti didepan kita istrahat dan sekalian sarapan yah,” ujar pria yang kerap disapa Tomi.

Sebuah warung makan di Pagimana menjadi tempat istrahat kami setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan karena medan yang cukup berkelok. Tanpa tunggu lama, kami langsung mengisi perut yang sedang kosong dengan bubur manado lengkap dengan ikan asin dan sambalnya.

Eno yang mengalami mabuk darat langsung menghabiskan makanan dimejanya dengan lahap. “saya tadi lapar, makanya saya mabuk darat,” dalih Eno kepada rombongan.

Setelah selasai sarapan kami kembali dihoror dengan perjalanan berjarak 13 kilometer menuju desa Ampera. Desa ini cukup terpencil karena terletak diantara bukit-bukit di Pagimana.

Jalanan rusak dan becek dikala musim penghujan kembali mawarnai perjalanan kami pasca lepas dari teror mabuk darat. Sang sopir sesekali membuka kaca untuk menengok lubang berlumpur diperjalanan. Suara meraung dari mesin 4x4 pabrikan Jepang terdengar jelas saat melalui tanjakan berlumpur menuju desa Ampera.

Sepanjang jalan hanya hutan dengan pohon-pohon besar disekitar menjadi pemandangan kami. Sesekali kami harus menegok kebelakang untuk memastikan rombongan lain yang berada di belakang tidak tertinggal. Memang bukan perkara mudah untuk mengunjungi SDN Karya Bakti, Ampera, setidaknya kami telah membuktikan itu.

Sesampainya kami di SDN Karya Bakti, dua tenaga pengajar muda dan seorang guru menjemput kami didepan pintu masuk depan sekolah.

Asri Sudarmiyanti, salah satu pengajar muda GIM terlihat gembira saat melihat rombongan kami datang. Wanita yang merupakan lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bengkulu, merupakan salah satu pegajar muda GIM yang telah mengabadi di SDN Karya Bakti, Ampera.

“Ayo silahkan masuk mas-mas semuanya” sambut Asri.

Rombongan kami memasuki sebuah ruangan kelas untuk melihat sejauh mana program peduli pendidikan DSLNG dengan GIM. Puluhan anak-anak dari beberapa tingkat kelas menyambut kami dengan yel-yel yang unik.

Mereka begitu antusias saat tatap muka dengan Media Relations DSLNG dan sejumlah wartawan. Kami pun kagum dengan semangat dari anak-anak SDN karya Bakti, ditengah segala keterbatasan mereka begitu atraktif saat bercerita dengan mereka.

Program DSLNG bersama GIM terhadap SDN Karya Bakti sungguh sebuah ketulusan untuk peduli terhadap dunia pendidikan. Sekolah yang berdiri sejak 1971 ini memang kekurangan guru pengajar dan fasilitas ruang kelas.

(Asri Sudarmiyanti, saat mengajar. Foto:Muhajir)

Rida, guru SDN Karya Bakti berterimakasih dengan adanya program dari DSLNG, menurutnya program tersebut banyak membawa perubahan untuk anak-anak sekolah di SDN Karya Bakti.

Dengan hadirnya pengajar muda GIM di sekolahnya, anak-anak SDN karya Bakti banyak berprestasi pada ajang – ajang sekolah di Kabupaten Banggai.

“Kita banyak menjuarai lomba-lomba yang diadakan oleh dinas pendidikan, pemerintah kecamatan, dan kabupaten,” ujarnya.

Peningkatan terhadap SDN Karya Bakti juga begitu signifikan menurutnya. Secara kualitas, banyak peningkatan dari segala aspek pendidikan di SDN Karya Bakti dengan hadirnya program dari DSLNG.

“Terimakasih DSLNG dan Indonesia Mengajar, sudah dua tahun disini, perubahan pada pendidikan disini sekitar 80 persen”. ungkap Rida.

Rida hanya menunduk terharu ketika saya menanyakan apakah sekolah ini sering mendapatkan bantuan dari pihak lain. Hanya gerakan tangan membersihkan sesuatu dimatanya, ia terdiam sejenak.

“Tidak ada, hanya ini (DSLNG) yang datang disini,” ujarnya.

“Sekolah ini sangat terbatas, guru tetap ada 3 orang, sementara untuk honorer ada 6 orang, namun karena jarak dan keterbatasan anggaran, jumlah tenaga honorer kian berkurang,” tambahnya, dengan suara pelan.

Asri yang setahun lebih mengajar di SDN Karya Bakti terlihat gembira walaupun ditempatkan didaerah terpencil di Ampera. Ia sedih ketika harus berpisah dari anak-anak sekolah SDN Karya Bakti nantinya dikarenakan ia telah mempunyai ikatan kuat dengan anak-anak sekolah dan masyarakat Ampera. Ia sosok yang sangat dihormati di desa karena dedikasinya dan ketulusannya untuk mengajar di sekolah SDN Karya Bakti.

“Saya bakal rindu jika berpisah nantinya,” kata pengajar muda yang pernah menjadi seorang guru di sebuah sekolah dasar swasta di Kota Cimahi, Jawa Barat.

Dedikasi Asri juga serupa dengan rekannya Destina Ratna Asih Khodijah yang telah setahun mengajar di Dusun Trans Batui V, Desa Ondo-ondolu, Kecamatan Batui.

Destina juga membawa perubahan besar pada metode mengajar disekolah. Destina yang merupakan lulusan Teknik Industri ITB ini berhasil mengangkat prestasi anak-anak sekolah SD Negeri Trans Batui V dengan mengikuti berbagai kegiatan tingkat nasional melalui olimpiade sains kuark, program anak sabang merauke, dan lomba menulis esai stronomi.

Ia mengatakan bahwa generasi di Banggai itu bisa berprestasi dan lebih maju lagi. Selama berada di desa Ondo-Ondolu ia tak mendapatkan banyak tantangan, karena menurutnya menjadi tenaga pengajar muda adalah panggilan hati.

“Gak ada tantangan yang berat kok, soalnya ini merupakan panggilan hati,” ujar Destina saat di mintai keterangannya.

Perhatian DSLNG terhadap dunia pendidikan di Banggai telah dilakukan sejak 2013. DSLNG yang telah bermitra bersama GIM menempatkan beberapa tenaga pengajar muda dibeberapa tempat yang terpencil.

Dalam kurun waktu 4 tahun, DSLNG dengan GIM telah mengirimkan 36 Pengajar Muda yang ditugaskan di sepuluh desa penempatan di delapan kecamatan di sekitar Kilang Donggi Senoro LNG.

Desa yang mendapatkan penempatan pengajar muda GIM yaitu Kecamatan Batui di Desa Ondo-ondolu SPC dan Dusun Trans Batui V, Kecamatan Kintom di Desa Solan, Kecamatan Batui Selatan di Desa Sinorang, Kecamatan Moilong di Desa Moilong, Kecamatan Pagimana di Dusun Pulo Tembang dan Desa Ampera,  Kecamatan Luwuk Timur di Desa Baya, Kecamatan Masama di Desa Tompotika Makmur, dan Kecamatan Lobu di Desa Uhauhangon.

Thamrin mengatakan bahwa kemitraan dengan Indonesia Mengajar adalah bagaimana perusahaan peduli terhadap mutu pendidikan di Banggai.

“Pendidikan merupakan salah satu program yang paling utama selain ekonomi, sehingga kami melakukan beberapa kerjasama dengan stakeholder khususnya di bidang pendidikan,” ujar Thamrin.

Dalam kunjungannya selain memonitoring kondisi di lapangan, pihak DSLNG juga memberikan bantuan buku baca untuk SDN Karya Bakti.

Thamrin terlihat tetap semangat walau lelah menempuh perjalanan panjang untuk bisa sampai di Desa Ampera. Ia menjelaskan bahwa DSLNG tidak hanya sekedar menerima laporan dilapangan dari GIM, namun perusahaan dalam kemitraannya melakukan proses monitoring dan turun langsung mengunjungi sekolah sekolah yang terpencil yang menjadi perhatian dari perusahaan. 

“Kami melakukan monitoring berkala sejak awal, dengan bentuk konkritnya kami turun kelapangan seperti saat ini.” katanya.

Kepedulian terhadap SDN Karya Bakti merupakan program TJSP yang mengajak sebanyak mungkin pihak untuk turun tangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di daerah.

Muhajir Badjeber

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.