Mina, Perempuan Koperasi Binaan DSLNG di Kota Malang

Mina, Perempuan Koperasi Binaan DSLNG di Kota Malang

Mina Indangan saat mengikuti studi banding di Kopaas Citra Kartini. (Foto: Transsulawesi.com/Muhajir)

Transsulawesi.com, Banggai -- 10 orang anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Posaanguan Boune Banggai binaan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) pagi itu tengah bersiap-siap di Bandar Udara (Bandara) Syukuran Aminuddin Amir Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Kamis (29 /09/ 2017).

Seragam mengenakan baju polo biru laut, mereka terlihat tidak sabar untuk keberangkatan mereka ke Kota Malang, Jawa Timur. Keberangkatan mereka ke Kota Malang bukan sekedar jalan-jalan saja, namun untuk melakukan studi banding di Koperasi Pedagang Pasar (Koppas) Citra Kartini di jalan Panjaitan, Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung, Kota Malang.

Mina Indangan, wanita paruh baya asal Desa Honbola, Kecamatan Batui tidak begitu pandai menyembunyikan wajah semringahnya tatkala akan melakukan studi banding di Koperasi Pedagang terbesar dan tersukses di Kota Malang. Wanita berbadan kurus dengan rambut sebahu ini dikenal warga sebagai wanita yang sering aktif dibeberapa kegiatan sosial di kampungnya.

Walau telah enam tahun tumbuh bersama KSP Posaanguan Boune Banggai, Mina masih perlu untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang manajemen KSP di Koppas Citra Kartini. “masih harus banyak belajar lagi saya ini,” ujar Mina saat di Bandara Syukuran Aminuddin Amir.

Setiba mereka di Bandara Juanda, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur dua buah bus travel dengan kode plat nomor N telah bersiap menjemput Mina dan anggota KSP Posaanguan Boune. Tanpa lama mereka segera beranjak dari bandara yang terletak 20 kilometer sebelah selatan Surabaya itu untuk menuju kota Malang.

80 kilometer jarak yang harus ditebus Mina demi menambah pengetahuannya tentang manajemen koperasi simpan pinjam. Kemacetan panjang pada sore hari mewarnai perjalanan Mina yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Jawa Timur. Bangunan-bangunan menjulang kelangit dengan gemerlap lampu-lampu menjadi hal baru untuknya saat menuju ke kota kedua terbesar di Jawa Timur

“Kalau dikampung tidak ada yang bagini ini,” ujar Mina sembari melihat sekeliling jalan dari balik kaca bus dikala langit sedang gelap dengan curah hujan yang membasahi jalan.

Setibanya dikota Malang, Mina segera beristrahat disebuah hotel dengan kolam renang tepat didepan kamarnya. Ia pun merapikan pakaiannya dan tidur untuk mengumpulkan tenaganya kembali setelah menempuh perjalanan yang melelahkan seharian.

Keesokkan harinya, Mina pun bersiap untuk menuju ketempat tujuan utamanya di Koppas Citra Kartini dikala raja siang telah menunjukkan wajahnya dengan terang saat pukul tujuh pagi. Ia pun terlihat rapi dengan rambut yang tersisir rapi dan polesan bedak yang menutupi keriput diwajahnya.

Setidaknya membutuhkan 30 menit untuk bisa sampai di desa Senggreng tempat Koppas Citra Kartini. Senyum kecil dari wajahnya terlihat saat di sambut oleh ibu-ibu pengurus Koppas Citra Kartini ketika turun dari bus yang mengantar.

Perempuan yang dikenal nyentrik dikampungnya ini kaget ketika melihat mini market, rental mobil, kantor koperasi, dan beberapa layanan unit usaha jasa dari Koppas Citra Kartini. “koperasi ini sudah maju sekali,” ujarnya kagum.

Tak berselang lama, Mina dan rekan-rekannya segera masuk ke sebuah aula besar Koppass Citra Kartini berukuran sekitar 15 meter untuk mengikuti acara sarasehan pelatihan manajemen koperasi simpan pinjam.

(KSP Posaanguan Boune saat mengikuti acara pelatihan. Foto:Muhajir)

Koppas Citra Kartini menjadi pilihan tempat studi banding karena koperasi ini telah melalui jalan panjang berliku dalam perjalanannya hingga kemudian memperoleh Badan Hukum Koperasi pada tanggal 1 Juni 1992 Nomor 7308/BH/II/92 dengan nama Koppas Citra Kartini yang dirintis sejak tahun 1978. Koppas Citra Kartini merupakan koperasi terbesar di kota Malang dengan jumlah anggota 1486 orang.

Duduk paling depan, Mina mendapatkan materi pertemanya dari Dra. Hartatik, MPd, Ketua Umum Koppas Citra Kartini tentang bagaimana membangun koperasi simpan pinjam. Hartatik juga memberikan beberapa tips untuk membangun sebuah KSP.

Koppas Citra Kartini maju dan berkembang seperti saat ini karena menerapkan sistem kelompok “Tanggung Renteng” sebagai wujud dari semangat gotong royong.

Hartatik menjelaskan bahwa Tanggung Renteng merupakan sebuah pola dalam seleksi anggota koperasi. Saat merekrut atau ada anggota yang ingin mendaftar di kelompok perlu proses seleksi dan verifikasi yang ketat. Semua itu bertujuan untuk menghindari adanya kredit macet dalam kelompok koperasi.

“Tanggung Renteng itu proses seleksi atau melatih tanggung jawab kelompok terhadap anggota kelompoknya,” ujar Hartatik saat memberikan materi di aula Koppas Citra Kartini, Jumat, (29 /09/ 2017).

Bukan perkara mudah untuk membangun Koppas Citra Kartini untuk bisa sampai pada titik saat ini. Karena butuh proses panjang dan berliku. “kita telah melalui jalan berdarah-berdarah dalam menjalankan koperasi ini,” kelakar Hartatik yang juga berprofesi sebagai dosen disalah satu universitas di Malang.

Sri Luluk handayani wanita yang menjadi bendahara Koppas Citra Kartini juga menjelaskan bahwa membangun sebuah koperasi simpan pinjam perlu diseriusi dengan baik. “dimana-mana semua usaha perlu serius dijalankan,” ujar Sri.

Namun, Sri kembali mengingatkan pentingnya sistem Tanggung Renteng sebagai kunci dari majunya pelayanan koperasi.

Enam jam mendapatkan materi, Mina banyak belajar bagaimana mengelola sebuah korperasi simpan pinjam. Dengan pengetahuan yang didapatkannya dari Koppas Citra Kartini, Ia pun berniat untuk mengaplikasikan pengetahuannya di KSP Posaanguan Boune Banggai sesampai dikampungnya.

Banyak yang dipelajari oleh Mina dan anggota KSP Posaanguan Boune saat DSLNG memfasilitasi mereka untuk studi banding di Koppas Citra Kartini guna pengembangan kapasitas.

“Kalau bagini torang bisa tau cara bakelola koperasi nantinya,” ujar Mina saat diujung acara.

KSP Perempuan Tersukses di Kabupaten Banggai

KSP Posaanguan Boune sebenarnya punya cerita panjang yang berliku. Koperasi ini merupakan gabungan dari 10 kelompok perempuan mikro finance ibu-ibu rumah tangga binaan DSLNG di desa-desa sekitar Kilang.

DSLNG menginisiasi dengan membentuk koperasi dengan nama Posaanguan Boune (Persatuan Ibu-ibu) untuk meningkatkan menjadi kegiatan simpan pinjam antar sesama anggota kelompok.

KSP Posaanguan Boune yang beralamat di Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai kini telah beranggotakan 60 orang dan menjadi KSP ibu-ibu yang sukses di Kabupaten Banggai dengan telah berbadan hukum dengan SK Nomor : 006003/BH/M.KUKM.2/X/2017.

Dalam pembentukan KSP Posaanguan Boune, DSLNG memberikan modal awal koperasi sebesar Rp 50 juta yang diberikan kepada masing-masing kelompok sebesar Rp 5 juta. Seiring waktu dengan kesungguhan anggotanya dan manajemen dikelola dengan baik, mereka memperoleh keuntungan hingga 22 juta hanya dalam waktu tiga bulan saja.

Ibu-ibu KSP Posaanguan Boune kini mereka bisa mandiri secara ekonomi. Dari hasil dari perputaran uang dan simpanan, mereka mengembangkan usahanya dengan mendirikan sejumlah unit usaha produktif di desa masing-masing, seperti unit dagang beras, usaha penyediaan makanan, dan penyewaan peralatan pesta perkawinan.

Rohani Simbolon, CSR Program Officer Donggi Senoro berharap progres KSP ini semakin membaik dan bisa melayani lebih banyak anggota lagi. Rohani mengatakan pendampingan kelompok keuangan mikro ini bertujuan untuk peningkatan ekonomi, khususnya ibu-ibu rumah tangga yang mandiri. Kegiatan ini merupakan salah satu program CSR DSLNG yang berkelanjutan.

Rohani Simbolon mengatakan seperti program CSR DSLNG lainnya, tujuan pendampingan di kelompok keuangan mikro ini agar terjadi peningkatan ekonomi, khususnya ibu-ibu rumah tangga yang mandiri.

“Ini merupakan program untuk meningkatkan perekonomian ibu-ibu rumah tangga,” ujar Rohani saat acara sarasehan Koppas Citra Kartini, Malang, Jumat, (29 /09/ 2017).

Muhajir Badjeber

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.