Menjaga Asa, Menjaga Maleo

Menjaga Asa, Menjaga Maleo

Anakan Maleo yang di lepasliarkan oleh PT Donggi Senoro LNG di suaka marga satwa Bangkiriang, Kecamatan Batui Selatan, kabupaten Banggai. (Foto: Muhajir/Transsulawesi)

Transsulawesi.com, Batui – Kurangnya kepedulian terhadap kehidupan Maleo membuat burung dengan nama latin Macrocephalon maleo kini berada di ambang kepunahan. Sebagian orang hanya mengetahui burung Maleo karena ukuran telurnya yang 5 - 8 kali lebih besar dari telur ayam.

Ancaman terhadap kepunahan burung Maleo mendorong beberapa pihak untuk turun tangan berperan serta dalam menjaga kelestariannya. Salah satunya yang di lakukan oleh PT Donggi Senoro LNG (DSLNG), yang memberikan dedikasinya sejak tahun 2013 untuk menjaga keberlangsungan hidup burung yang menjadi ikon Kabupaten Banggai.

Saat memperingati hari bumi, saya dan rekan-rekan jurnalis di Kabupaten Banggai mendapatkan kesempatan langka untuk menghadiri pelepasliaran anakan burung maleo sebanyak 17 ekor ditahun ini.

Kegiatan ini dilakukan oleh DSLNG bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Tengah yang dilaksanakan di kawasan Suaka Margasatwa Bangkiriang di kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai.

Hanya butuh waktu 15-20 menit perjalanan dari kilang DSLNG, kami bisa sampai di tempat pelepasliaran anakan maleo kali ini di kawasan Suaka Margasatwa Bangkiriang.

Terik matahari tertutup langit mendung saat perjalanan menuju tempat pelepasliaran burung maleo. Jalan setapak yang dipenuhi rerumputan sebagai penunjuk arah yang harus kami ditelusuri. Sejauh mata memandang hanya ada hamparan luas hutan dengan pepohonan nan hijau yang sedang menyambut anakan maleo untuk pulang kerumah mereka.

Sesampainya di lokasi, kami berkesempatan melihat langsung 17 ekor anakan Maleo yang berusia 2 - 3 bulan yang siap dilepaskan kembali kehabibat alamnya. Mereka terlihat begitu lincah bergerak kesana kemari pada kotak penyimpanan berukuran 1,5 meter .

Anakan maleo yang akan dilepasliarkan kali ini merupakan hasil pentesan telur maleo di konservasi ex situ Maleo Center di area kilang LNG Donggi Senoro Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Maleo Center sendiri menancapkan pondasinya enam tahun silam untuk menjadi "rumah kedua" maleo diluar habitat aslinya. 

Untuk mendapatkan anakan maleo tersebut, diperlukan proses yang cukup panjang. Yakni telur-telur burung maleo yang berhasil disita oleh BKSDA Sulawesi Tengah dari tangan-tangan pemburu diserahkan kepada DSLNG untuk diselamatkan dengan cara ditetaskan melalui alat inkubator. Anakan maleo kemudian di rawat di kandang-kandang yang tersedia di ex situ maleo center hingga berusia 2-3 bulan agar bisa mengepakkan sayapnya terbang bebas dihabitat aslinya.

CSR Manager DSLNG, Pandit Pranggana mengatakan pelepasliaran anakan maleo kali ini genap keempat kalinya di lakukan DSLNG. Yaitu pada tahun 2013 berhasil melepasliarkan sebanyak 11 ekor anakan maleo, 37 ekor pada tahun 2017, 20 ekor pada 2018, dan 17 ekor di tahun ini bertepatan peringatan hari Bumi.

Anakan Maleo yang siap dilepasliarkan oleh PT Donggi Senoro LNG dan BKSDA Sulawesi Tengah. (Foto: Muhajir/Transsulawesi)

Konservasi maleo center melalui ex situ merupakan metode pertama kali yang berhasil diterapkan DSLNG dengan menggunakan inkubasi untuk pelestarian burung maleo. Metode ini membuahkan hasil yang cukup signifikan dengan tingkat keberhasilannya yang tinggi dibandingkan dengan proses alam.

“Kita adalah pioner untuk melakukan pelestarian maleo dengan cara ex situ yakni penetasan melalui inkubator, dengan tingkat keberhasilan 73 persen dibanding cara-cara alami yang hanya 26 persen,” ujar Pandit, Kamis (25/4/2019).

Upaya DSLNG dalam menjaga dan melestarikan burung maleo melalui program konservasi ex situ telah melampaui target yang ditetapkan pemerintah, dimana targetnya yaitu menumbuhkan populasi maleo sebanyak 10 persen setiap 5 tahunnya. Karena pada tahun 2013 hanya ada 557 ekor maleo yang hidup.

“DSLNG melalui program CSR salah satunya yaitu program pelestarian maleo melalui ex situ berhasil melepasliarkan 85 ekor jadi sudah memenuhi target yang dicanangkan pemerintah nasional terkait pelestarian burung maleo ini," ujar Pandit.

Selain rusaknya ekosistem alam, ancaman kepunahan burung maleo disebabkan oleh beberapa hal, yakni predator alam dan perburuan terhadap telur-telur maleo. Tidak seperti unggas atau burung lainnya, maleo membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sekali bertelur.

Tenaga ahli di maleo center, Mobius Tanari terlihat begitu gembira setelah 17 ekor anakan maleo berhasil dilepaskan di bangkiriang. Ia adalah sosok yang selama ini berhasil membidani penetasan telur-telur di maleo center.

Mobius mengatakan bahwa rata-rata burung maleo bertelur setiap 18 hari sekali. Setiap tahunnya burung maleo hanya akan menghasilkan rata-rata 10 butir telur saja.

“Rata-rata maleo bertelur 18 hari sekali, dalam proses bertelur itu biasanya mereka tidak akan makan selama 2-3 hari karena masih menyimpan makanannya di pusatnya,” ujar Mobius.

Saat ini pemerintah menaruh harapan besar agar semua pihak bisa turut andil dalam melestarikan burung maleo, mengingat kehidupan maleo terancam punah. Tanpa kerjasama dengan beberapa pihak pelestarian burung maleo tidak berjalan baik.

Menurut data BKSDA Sulawesi Tengah hingga saat ini, tercatat ada sebanyak 300 pasang maleo saja yang berada pada habitatnya di Kabupaten Banggai.

“Dari data, ada 300 pasang burung maleo yang ada di Kabupaten Banggai,” ujar Ir. H. Hasmuni H. Msi, Kepala BKSDA Sulawesi Tengah.

Menurut Hasmuni kunci utama untuk kelestarian burung maleo adalah dari masyarakat itu sendiri. Yakni peran serta masyarakat untuk ikut terlibat dalam menjaga keberlangsungan kehidupan burung maleo di Bangkiriang. Karena peran serta masyarakat dalam menjaga dan melestarikan maleo sangat dibutuhkan.

“Yang terpenting adalah menjadikan masyarakat sebagai subjek dengan melibatkan peran-peran masyarakat sehingga bisa berkolaborasi bersama,” ungkap Hasmuni.

PT Donggi Senoro LNG dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Tengah saat pelepasliaran anakan burung maleo dihari Bumi. (Foto: Muhajir/Transsulawesi)

Peningkatan terhadap sarana dan prasarana di fasilitas Maleo Center juga dilakukan. Karena menanamkan kesadaran nilai-nilai edukasi tentang burung maleo kepada masyarakat tentunya perlu dilakukan.

Selain rusaknya ekosistem alamnya, kendala yang dihadapi untuk melestarikan maleo yakni sebagian masyarakat hanya melihat telur maleo dari segi keekonomisannya. Yaitu diperjual belikan sebagai souvenir dan untuk dikonsumsi. Harga telur burung maleo cukup mengguirkan, dipasar gelap telur maleo dijual dengan harga 50-100 ribu perbutirnya.

Kondisi maleo saat ini memang cukup memprihatinkan, dimana burung maleo tergolong satwa endemik langka. Dengan kondisi tersebut, fasilitas konservasi maleo center mengambil perannya dengan menjadi tempat pusat informasi pengetahuan mengenai burung maleo sekaligus wisata untuk masyarakat umum. Maleo center juga menjadi pusat kegiatan-kegiatan CSR DSLNG.

“Maleo center menjadi pusat edu-wisata, yaitu pusat edukasi dan wisata untuk masyarakat, disitu nanti ada pusat integrasi antara kegiatan-kegiatan CSR DSLNG, salah satunya program pelestarian burung maleo,” ujar Pandit.

Selain program ex situ maleo center, DSLNG juga berupaya untuk menjaga ekosistem burung maleo dengan menanam pohon kemiri di Bangkiriang. Penanaman pohon kemiri ini bertujuan sebagai sumber makanannya dan tempat untuk berlindung.

Misi terbesar dalam pelestarian burung maleo konservasi ex situ maleo center saat ini adalah bisa menghasilkan generasi keduanya. Yaitu dimana burung maleo dari hasil penetasan telur dengan inkubator di maleo center bisa menghasilkan generasi selanjutnya.

“Kita mengharapkan berikutnya bisa melepasliarkan yang F1, bukan dari hasil telur yang kita dapatkan, tapi dari hasil dari penetasan telur tersebut, jadi generasi keduanya,” ujar Pandit.

Dedikasi panjang DSLNG melalui program konservasi ex situ maleo center telah menunjukkan komitmen kuat perusahaan untuk menyelamatkan burung maleo dari ancaman kepunahan. Namun, yang menjadi harapan baru adalah bagaimana generasi kedua dari maleo yang berada di maleo center segara hadir dihadapan dunia.

Penantian generasi kedua burung maleo di ex situ maleo center menjadi harapan baru yang bisa mematahkan fakta bahwa selama ini maleo hanya bisa beregenerasi dihabitat aslinya, mungkinkah harapan itu ada. (mhr)

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.