Kisah Petani Cabai Binaan DSLNG Yang Sukses, Bermula Dari Kaum Ibu-ibu

Kisah Petani Cabai Binaan DSLNG Yang Sukses, Bermula Dari Kaum Ibu-ibu

Kelompok tani cabai Bilalang saat sedang memetik cabai di perkebunan mereka. (Foto: Transsulawesi)

Transsulawesi.com, Batui -- Puluhan ibu-ibu tengah ramai memetik cabai saat sejumlah wartawan mengunjungi kelompok pertanian Bilalang, lingkungan Kaman, Kelurahan Sisipan, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Senin (29/8/2019).

Kelompok Pertanian Bilalang merupakan salah satu kelompok tani cabai binaan PT Donggi Senoro LNG yang kini tengah mengembangkan usaha perkebunan cabai mereka. Dengan pendampingan tenaga ahli pertanian dari DSLNG, para petani kini mempunyai kemampuan dan pengetahuan tentang bagaimana bercocok tanam cabai.

Uniknya, kelompok Tani Bilalang dipelopori oleh ibu-ibu rumah tangga hingga akhirnya saat ini mempunyai anggota sebanyak 21 orang.

Berkat binaan dari DSLNG, para petani cabai di Kaman sukses menanam cabai varietas “Rica Gorontalo”. Varietas ini merupakan cabai yang digemari oleh masyarakat Sulawesi Tengah dan Gorontalo karena pedasnya dan daya tahan simpannya yang bisa berhari-hari.

Hal tersebut karena cabai varietas ini tidak memiliki kadar air yang tinggi seperti cabai lainnya. Harga jualnya pun tergolong tinggi dipasaran karena tidak mudah busuk.

Ketua kelompok tani Bilalang, Yurince mengatakan bahwa dengan pendampingan dari tenaga ahli tim CSR DSLNG mereka banyak mendapatkan ilmu bagaimana bercocok tanam cabai hingga manajemen kelompok. Bilalang mempunyai anggota yang bersama-sama mengelola perkebunan cabai dan simpanan pokok untuk kelompok.

“Kita berterimakasih dengan adanya pendampingan dari perusahaan terhadap kelompok tani disini,” uajr Yurince.

Walau baru memulai perkebunan cabai pada bulan april ini, para petani telah merasakan hasil dari penjualan cabai mereka. Saat ini para petani berhasil menanam sebanyak 5 ribu pohon cabai dengan target 15 ribu pohon cabai yang siap ditanam.

Untuk sekali panen, Kelompok tani Bilalang berhasil memetik sebanyak 25 kilogram cabai Gorontalo. Walau harga jual cabai dipasar naik-turun, namun penjualan pertama mereka, dibeli dengan harga Rp35 ribu perkilogramnya.

Kelompok pertanian Bilalang juga saat ini telah mampu membuat pupuk organik buatan sendiri dengan bahan-bahan alami sehinnga ramah untuk lingkungan dan kesehatan.

DSLNG sendiri memberikan pendampingan dengan memfasilitasi bibit, mengajarkan pembuatan pupuk organik, pengetahuan tekhnik bercocok tanam cabai, dan manajemen kelompok itu sendiri.

Manager CSR DSLNG Pandit Pranggana mengatakan perusahaan memberikan pendampingan dengan memberikan bibit unggul dan tenaga ahli untuk membina kelompok tani cabai Bilalang.

“DSLNG memfasilitasi bibit cabai dan tenaga ahli pertanian sebagai salah satu stimulan untuk para petani cabai Bilalang,” ujar Pandit. (mhr)

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.