Kembali Melesatarikan Burung Maleo Dari Kepunahan di Hari Bumi

Kembali Melesatarikan Burung Maleo Dari Kepunahan di Hari Bumi

PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG) kembali melepasliarkan 17 ekor burung Maleo (Macrocephalon Maleo) di Suaka Margasatwa Bakiriang, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Kamis (25/4/2019). (Dokumentasi: DSLNG)

Transsulawesi.com, Batui Selatan -- Memperingati Hari Bumi 22 April, PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG) kembali melepasliarkan 17 ekor burung Maleo (Macrocephalon Maleo) di Suaka Margasatwa Bakiriang, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Kamis (25/4/2019).

Maleo yang dilepasliarkan ke habitat alaminya merupakan hasil konservasi ex situ yang dilakukan perusahaan sejak tahun 2013.

Pelepasliaran satwa endemik Sulawesi yang terancam punah ini dilakukan DSLNG bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah.

Secara keseluruhan, DSLNG hingga saat ini telah melepasliarkan 85 anakan Maleo hasil konservasi ex situ di Bangkiriang.

Melalui konservasi ex situ, DSLNG menjadi perusahaan swasta pertama yang turut berperan penting dalam upaya peningkatan populasi itu.

CSR Manager DSLNG Pandit Pranggana mengemukakan, upaya konservasi Maleo oleh DSLNG merupakan wujud komitmen perusahaan untuk ikut menjaga dan melestarikan lingkungan hidup.

“Dengan pelepasliaran anakan maleo hasil konservasi, maka perusahaan turut membantu upaya peningkatan populasi maleo di alam melebihi target yang ditetapkan pemerintah.”

Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sulawesi Tengah Ir.H.Hasmuni H.Msi mengatakan bahwa pemerintah mengharapkan semua pihak bisa turut andil dalam melestarikan burung maleo.

“Kami berterimaksih kepada DSLNG atas inisiatifnya untuk melestarikan burung Maleo kita yang hampir punah,” ujarmya.

Pusat konservasi ex situ Maleo, didirikan pada tahun 2013 di lokasi Kilang LNG Donggi Senoro untuk membantu pemerintah dalam upaya meningkatkan populasi satwa yang menjadi salah satu ikon Sulawesi ini.

Sejak program konservasi dijalankan, DSLNG telah melepasliarkan 85 anakan Maleo hasil konservasi dari telur-telur sitaan yang diserahkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah. Telur-telur sitaan ini kemudian diinkubasi hingga menetas dan tumbuh di kandang-kandang yang tersedia di Maleo Center. Anakan Maleo yang berumur 2-3 bulan inilah yang kemudian dilepasliarkan di habitat alaminya.

Selain sebagai fasilitas konservasi, Maleo Center DSLNG juga menjadi sarana edukasi lingkungan bagi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat.

Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) No. 180 / IV-KKH / 2015, populasi burung Maleo di alam diperkirakan hanya tersisa kurang dari 600 ekor. Untuk itu pemerintah menargetkan pertumbuhan populasi Maleo sebesar 10 persen atau sebanyak 55 ekor dalam setiap lima tahun atau 11 ekor setiap tahunnya. (mhr)