Kelompok Nelayan Maju Bersama DSLNG

Kelompok Nelayan Maju Bersama DSLNG

Corporate Communication Manager DSLNG, Thamrin Hanafi saat bersama dengan beberapa kelompok nelayan. (Foto: Transsulawesi.com/Muhajir)

Transsulawesi.com, Batui -- Kelompok nelayan Garuda Laut merupakan salah satu kelompok nelayan binaan PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) yang telah maju dan berkembang saat ini. Kelompok yang beralamat di Kelurahan Bugis, Kecamataan Batui, Kabupaten Banggai ini, beranggotakan sebanyak 10 orang.

Garuda Laut mendapatkan perhatian yang cukup intens dari DSLNG dalam program tangung jawab sosial perusahaan (TJSP) untuk peningkatan perekonomian masyarakat pesisir khususnya nelayan.

Aspan Lasanang ketua kelompok nelayan Garuda Laut mengatakan bahwa kelompoknya bisa maju hingga saat ini karena sering mendapatkan banyak pelatihan dan studi banding dari DSLNG.

Nelayan mendapatkan pelatihan dengan melakukan studing banding di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) di Kabupaten Buleleng, Bali.

Saat melakukan studing banding di (BBRBLPP), Aspan banyak belajar tentang cara pembenihan dan pembesaran komoditas budidaya laut, seperti ikan laut, krustasea (udang-uadangan), dan kekerangan.

“Torang 12 orang mendapatkan pelatihan di Bali, disana saya belajar banyak cara budidaya ikan,” ujarnya saat di temui, Minggu (30/9/2018).

Maju dan berkembangnya kelompok Garuda Laut karena tidak lepas dari peran DSLNG yang sering memberikan mereka pelatihan penguasaan tekhnis alat tangkap ikan terhadap nelayan dan manajemen dalam usaha koperasi di Fishery Training Center yang merupakan fasilitas pengembangan masyarakat nelayan DSLNG di Desa Uso, Batui.

Menurut Aspan, pelatihan tersebut sangat penting, karena biasanya mereka membutuhkan dua sampai tiga hari untuk melaut. Kini dengan adanya pelatihan tersebut, ia bisa lebih banyak tahu metode keselamatan saat berada di laut.

“Nelayan dilatih navigasi malam hari, cara bertahan, dan menyelamatkan diri saat berada di laut,” ujar Aspan.

Dari hasil pelatihan tersebut, kini hasil tangkapan ikan untuk kelompok Garuda Laut bisa meningkat dari sebelumnya. Dari hasil tangkapan ikan, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-sehari.

Menurut Aspan, sebelum mendapatkan pembinaan dari DSLNG, pendapatan mereka jauh dibawah rata-rata dengan hanya mendapatkan hasil tangkapan ikan sebanyak 50 kilogram setiap kali melaut.

Kini pendapatan nelayan meningkat 50 persen dengan hasil Rp 3,5 juta setiap kali melaut. Bermodalkan Rp 350 ribu, setiap nelayan bisa mendapatkan hasil tangkapan ikan rata-rata sebanyak 100 kilogram. Hasil tangkapan ikan mereka dijual dengan harga Rp 35 ribu per kilogram.

Jika kondisi cuaca bagus dan tidak berombak, nelayan bisa melaut empat kali dalam sebulan.

“Modal cuma Rp 350 ribu beli solar, kita bisa dapat 100 kilogram lebih,” ungkapnya.

Sebelumnya, Corporate Communication Manager DSLNG, Thamrin Hanafi mengatakan bahwa perhatian terhadap nelayan merupakan program perusahaan pada upaya pengembangan masyarakat pesisir khususnya nelayan disekitar kilang.

“Program di donggi senoro itu tidak di titik beratkan pada pemberdayaan, tapi pengembangan masyarakat,” ujarnya.

Thamrin juga mengatakan bahwa selain dibekali teori dan praktek lapangan, nelayan juga mendapatkan bantuan peralatan (tool) sebagai penunjang saat mereka melaut.

“Nelayan juga mendapatkan bantuan peralatan untuk melaut,” ungkap Thamrin.

Program pengembangan terhadap nelayan merupakan sebuah perhatian DSLNG terhadap kehidupan perekonomian nelayan disekitar kilang dengan melihat apa saja kendala-kendala yang dihadapi oleh nelayan.

Hingga saat ini kelompok nelayan yang terbentuk di Batui sebanyak 8 kelompok dengan masing-masing anggota 8 orang. DSLNG juga membentuk kelompok nelayan di Kecamatan Kintom dan Nambo dengan total sebanyak 20 kelompok nelayan di tiga kecamatan.

Melihat potensi kelompok-kelompok nelayan yang terbentuk, DSLNG menginisiasi untuk pembentukan unit koperasi untuk nelayan. 20 kelompok nelayan tersebut saat ini telah mempunyai unit koperasi dengan nama koperasi nelayan Bakimbo. Koperasi yang beralamat di Nambo ini menjadi tempat unit usaha untuk para nelayan. Untuk saat ini modal koperasi Bakimbo diperoleh dari sebagian hasil nelayan yang disisihkan. (mhr)

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.