Hari Patriotik Pagimana : Kritikan Terhadap Pemerintah

Hari Patriotik Pagimana : Kritikan Terhadap Pemerintah

Abdul Rahman Lasading : Ketua Umum Hmi Cabang Luwuk

Transsulawesi.com, Opini -- Hari Patriotik yang setiap tahun di rayakan oleh masyarakat Kecamatan Pagimana Kabupaten Banggai adalah hari di mana ingatan kita tertuju pada peristiwa 12 Februari 1942.

Sejarah telah mencatat bahwa hari itu, sebelum kemerdekaan secara nasional di proklamirkan oleh Soekarno. Rakyat Pagimana telah lebih awal mendahului untuk memproklamirkan tentang kemerdekaan. Sehingga oleh rakyat Pagimana di setiap momentum 12 Februari selalu diperingati peristiwa bersejarah tersebut.

Sudah sepatutnya momentum bersejarah yang selalu diperingati di setiap tahun, dijadikan sebagai edukasi terhadap pembangunan wilayah pada masa kini.

Sangat miris, jika wilayah yang memiliki sejarah yang peristiwanya sama dengan sejarah kemerdekaan negara masih sangat terbelakang.

Fakta-fakta kesenjangan sosial masih menjadi problem mendasar pada wilayah tersebut. Sektor pendidikan dan ekonomi masyarakat masih sangat jauh dari apa yang kita harapkan. Masyarakat miskin pada wilayah tersebut masih mendominasi dibandingkan dengan wilayah lainnya yang ada di Kab. Banggai Sulteng.

Kalau secara sekilas diamati, Pagimana merupakan wilayah yang sangat strategis. Pertama, Pagimana adalah jalan tempat transkit distrubusi ekonomi antar wilayah. Kedua, Pagimana merupakan daerah maritim. Ketiga, Pagimana juga memiliki potensi perkebunan dan pertanian. Artinya memiliki kekayaan alam yang tak kalah dengan wilayah lain.

Tetapi masyarakat yang ada pada wilayah tersebut masih sangat sering mengeluh tentang lapangan kerja dan pendapatan yang tak berkecukupan untuk untuk menghidupi keluarga mereka.

Lantas apa makna dari perayaan Hari Patriotik tersebut. Jika masyarakatnya masih diperhadapkan dengan situasi yang sangat jauh dari kata makmur dan sejahtera.

Apakah perayaan tersebut hanya dijadikan sebagai pencitraan dan panggung politik oleh para elit. Sangat disayangkan jika hal ini yang terjadi.

Sesungguhnya kemerdekaan dalam artian luas dapat dimaknai sebagai agenda pembebasan kemiskinan.

Maka perayaan Hari Patriotik 12 Februari, bukan hanya dijadikan sebagai euforia. Tetapi dijadikan sebagai bahan kritikan terhadap pemerintah setempat dan daerah untuk membebaskan rakyat pagimana dari jeratan kemiskinan.

Abdul Rahman Lasading : Ketua Umum Hmi Cabang Luwuk