DSLNG Telah Berhasil Melepasliarkan 68 Ekor Anakan Maleo ke Habitatnya

DSLNG Telah Berhasil Melepasliarkan 68 Ekor Anakan Maleo ke Habitatnya

DSLNG melepasliarkan anakan Maleo ke habitat aslinya di Suaka Margasatwa Bangkiriang. (Foto:Muhajir)

Transsulawesi.com, Batui -- PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) kembali melepasliarkan 20 anakan ekor burung Maleo di kawasan Suaka Margasatwa Bakiriang, Kecamatan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, Kamis (27/9/2018).

Pelepasliaran burung dengan nama ilmiahnya Macrocephalon maleo ini, merupakan komitmen kepedulian perusahaan terhadap kelestarian burung endemik Sulawesi Tengah itu yang kian terancam populasinya.

Anakan maleo yang dilepasliarkan merupakan hasil penetasan di fasilitas konservasi Maleo Center di Kilang LNG Donggi Senoro  yang bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah Noel Layuk Allo mengatakan bahwa pelepasliaran burung Maleo di habitat aslinya merupakan upaya untuk melestarikan burung endemik Sulawesi Tengah ini dari kepunahan.

"Kita selalu berupaya untuk melestarikan burung Maleo, karena mengingat sudah terbatas pupulasinya," kata Noel.

Dari data Transsulawesi.com, populasi burung Maleo di Batui disebabkan banyaknya masyarakat yang berburu telur burung maleo untuk dijual bebas. Selain itu, masifnya pembukaan lahan perkebunan sawit membuat habitat burung Maleo kian terjepit.

Dengan adanya kerjasama antara DSLNG dan BKSDA diharapkan bisa terus bersinergi demi kelestarian burung ikon Kabupaten Banggai. “kerjasama antara DSLNG dengan BKSDA bisa lebih ditingkatkan agar satwa ini bisa lestari," ujar Noel pada sejumlah wartawan.

Hingga saat ini, DSLNG telah berhasil melepasliarkan 68 ekor anakan Maleo dalam kurun waktu lima tahun. Dimana sebelumnya pada tahun 2013, DSLNG melepasliarkan sebanyak 11 ekor, 17 ekor pada agustus 2017, 10 ekor pada 23 Oktober 2017, 10 ekor pada desember 2017, dan 20 ekor dibulan ini.

Operation Manager DSLNG Helfia M Chalis sebelumnya mengatakan bahwa pelepasliaran burung Maleo merupakan komitmen kepedulian perusahaan terhadap kelestarian burung endemik Sulawesi Tengah itu yang kini kian terancam populasinya.

Dari data Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPKH) Bangkiriang, populasi maleo pada area suaka Margasatwa Bangkiriang dengan luas 12.500 ha terdapat 30 sampai 40 pasang burung Maleo pada tahun 2017.

DSLNG memulai program konservasi Maleo pada tahun 2012 bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan dan Kehutanan serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, dan peneliti Universitas Tadulako, Palu.

Pelepasliaran anakan Maleo yang DSLNG merpakan wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR).

Penambahan jumlah anakan Maleo yang dilepasliarkan dari tahun ke tahun membuktikan bahwa konservasi ex situ yang dilaksanakan selama ini membuahkan hasil yang cukup baik.

Anakan Maleo yang berhasil dilepasliarkan merupakan hasil dari pengembangan konservasi di luar habitat alaminya (ex situ) melalui penangkaran. Fasilitas konservasi ex situ berada di sekitar lokasi Kilang LNG Donggi Senoro dengan nama Maleo Center.

Anakan Maleo yang dilepasliarkan DSLNG merupakan telur-telur yang ditetaskan dengan inkubator penetasan di Maleo Center. Telur-telur ini merupakan hasil sitaan BKSDA dari pemburu telur Maleo.

Konservasi ex situ Maleo Center juga terdapat area pemeliharaan sementara, hingga anakan Maleo berumur satu bulan untuk dilepasliarkan ke habitat aslinya.

Sejak diresmikan pada tanggal 5 Juni 2013, Maleo Center DSLNG telah mendapatkan beberapa penghargaan yakni penghargaan United Nations Environmental Programme (UNEP), World Environment pada 2013, penghargaan Kepala BPLH Banggai, Sulawesi Tengah, dan CSR Award kategori Silver pada 28 November 2014 untuk kategori pelibatan dan pengembangan masyarakat dan lingkungan. (mhr)

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.