Dorong Untuk Desa Mandiri, JOB Tomori Resmikan Biogas di Moilong

Dorong Untuk Desa Mandiri, JOB Tomori Resmikan Biogas di Moilong

oint Operating Body Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi di dukung oleh Pemerintah Daerah dan SKK Migas saat meresmikan Plot Biogas di Desa SUmber Harjo. (Foto: JOB Tomori/Amar)

Transsulawesi.com, Moilong – Joint Operating Body Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi di dukung oleh Pemerintah Daerah meresmikan demo plot biogas di Desa Sumber Harjo, Kecamatan Moilong, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Kegiatan ini merupakan program Pengembangan Kawasan Ekonomi Produktif melalui Konservasi Energi dan Pertanian Berkelanjutan berlangsung pada tanggal 17 Juli 2019.

Program Pengembangan Kawasan Ekonomi Produktif melalui Konservasi Energi dan Pertanian Berkelanjutan melalui aplikasi teknologi biogas berhasil menggembangkan teknologi pengolahan biogas yang kini diaplikasikan kepada kelompok tani binaan JOB Tomori di Desa Sumberharjo dan Desa Slametharjo sebagai target penerima manfaat.

Peresmian fasilitas ini dilakukan Damar Setiawan, mewakili Kepala Departemen Humas SKK Migas Perwakilan Kalimantan-Sulawesi. Turut di dampingi pemerintah daerah yaitu Staft Ahli Bidang Pelayanan Publik dan Rekayasa Sosial Pemda Banggai, Hasanudin Idris, Kepala Dinas Peternakan, Camat Moilong Fahmi Arifudin Rizal SSTP, pemerintah desa se-Kecamatan Moilong, JOB Tomori, PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan), kelompok-kelompok tani, dan masyarakat umum.

Field Senior Manager JOB Tomori, Iwan Sutrisno, mengatakan, “Program ini dimulai sejak Oktober 2018 dan masa pelaksanaan program adalah dua tahun. Program ini hadir dilatarbelakangi dengan potensi wilayah pertanian di dua desa. Selain itu, diharapkan dengan adanya program ini dapat membantu mengatasi pengelolaan hewan ternak sapi yang seringkali tidak dikandangkan dan menjadi persoalan karena mengganggu lahan-lahan pertanian serta belum termanfaatkannya limbah kotoran hewan.”

Pada tataran kebijakan, program ini hadir untuk mendukung Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Nomor 2 Tahun 2017 mengenai pengendalian ternak sapi terutama terkait penanganan, penempatan dan pengandangan ternak agar terkelola dengan baik oleh masyarakat menjadi upaya strategis dan sejalan dalam memunculkan program yang produktif dengan konservasi energi dan pertanian berkelanjutan. Maka berdasarkan hal-hal tersebut, program ini memiliki kegiatan utama yang difokuskan pada pengelolaan potensi limbah organik (dalam hal ini kotoran ternak sapi) melalui teknologi biogas, pengembangan pupuk organik & turunan produk pertanian lainnya berbasis bio-slurry (ampas biogas).

Dalam masa dua tahun, program menargetkan terbangunnya 20 unit reaktor Biogas Rumah (BIRU) berukuran 4 m3 sebagai prasarana fisik di dua desa. Implementasi program diawali dengan pembangunan infrastruktur, antara lain pembangunan reaktor biogas dan demo plot untuk bisnis berbasis bio-slurry. Dalam masa ini secara beriringan juga dilaksanakan berbagai pelatihan teknis maupun peningkatan kapasitas bagi para penerima manfaat langsung.

Sejak biogas mulai digunakan oleh para penerima manfaat, rumah tangga pengguna biogas kini secara optimal memanfaatkan energi yang dihasilkan dari biogas serta mengolah bio-slurry. Energi dari biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar memasak selama 3-4 jam per harinya serta energi penerangan melalui penggunaan lampu biogas.

Di sisi lainnya, bio-slurry kini juga telah dimanfaatkan terutama sebagai pupuk organik yang diaplikasikan ke pekarangan maupun lahan sawah milik para pengguna biogas. Setiap harinya reaktor biogas dapat menghasilkan bio-slurry sebanyak 30 liter. Bio-slurry juga dapat diolah untuk menjadi pupuk padat yang kaya akan bahan organik, bernutrisi lengkap, dan mengandung mikroba probiotik, serta sangat bermanfaat sebagai pembenah lahan (soil conditioner) karena mengandung 1020% asam humat. Keunggulan bio-slurry ini diharapkan dapat membantu para penerima manfaat maupun para petani lainnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian.

Para penerima manfaat juga didorong untuk dapat mengolah bio-slurry melalui budidaya ikan air tawar dan budidaya cacing. Pemanfaatan bio-slurry sebagai pakan ikan dan pakan cacing juga akan menciptakan potensi atau peluang ekonomi alternatif selain hasil tani untuk menghasilkan sumber pendapatan baru dan meningkatkan taraf ekonomi rumah tangga. Berkaitan dengan budidaya cacing, para penerima manfaat juga dapat memperoleh keuntungan dari media bekas budidaya cacing yang bernilai ekonomis sebagai pupuk vermikompos atau kascing.

“Aplikasi teknologi Biogas Rumah (BIRU) diharapkan dapat menjadi upaya komprehensif dalam mengembangkan kegiatan pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan yang berwawasan konservasi energi dan lingkungan secara berkelanjutan. Upaya-upaya dilakukan dengan merangkul dukungan dan kerja sama dengan berbagai pihak dalam menjadikan dua desa sebagai kawasan ekonomi produktif," ujarnya Agus Sudaryanto. 

"Selain itu juga tercipta lapangan kerja untuk pengembangan sektor biogas secara lokal terutama tenaga pembangun instalasi biogas yang memiliki keahlian dan kompetensi di bidangnya,” tambahnya.

Dari kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan, program ini ke depannya tetap akan berupaya menuju tujuan dan target program dalam mencapai keberlanjutan. Secara khusus diwujudkan dengan menjadi sentra produk pertanian organik dan ditunjang dengan keberadaan Biogas Learning Center atau pusat belajar pertanian organik terintegrasi berbasis biogas yang secara mandiri dikelola oleh masyarakat kedua desa. (amar)