Cerita 10 Tahun DSLNG di Batui

Cerita 10 Tahun DSLNG di Batui

Kilang LNG PT Donggi Senoro LNG, Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. (Foto: Transsulawesi.com/Muhajir)

Transsulawesi.com, Banggai -- Hiruk pikuk pekerja konstruksi menjadi cerita awal saat tahap konstruksi Donggi Senoro Liquefied Natural Gas (LNG) tancap gas pada awal 2011 silam di Desa Uso, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai.

Jalanan berubah sesak oleh lalu-lalang ribuan pekerja yang bergegas berangkat kerja. Udara dingin setengah enam pagi yang menusuk tulang, tak menghalangi semangat para pekerja kontruksi kilang LNG Donggi Senoro.

Sekitar 100 meter dari depan pintu proyek, puluhan warung makan menjamur sejajar bahu jalan mencari peruntungan dari usaha kuliner mereka hingga senja tiba mengakhiri sore.

Lokasi kilang LNG seluas 350 hektar yang dulunya tertutup semak belukar hampir setinggi setengah tiang listrik dengan pohon-pohon besar, berubah menjadi tempat tersibuk dengan segala aktivitasnya saat tahap konstruksi.

Haris Apok merupakan sosok yang tau betul cerita berdirinya objek prestise kilang LNG Donggi Senoro bercat putih di tanah kelahirannya. Haris banyak bercerita kenapa proyek Donggi Senoro LNG harus di dorong saat itu.

Saat bertemu di Jakarta, ia banyak bercerita tentang mega proyek Donggi Senoro LNG yang akan hadir di kampungnya. Saat itu investasi besar di depan mata yang akan hadir sempat tersendat karena tarik ulur proyek minyak dan gas Donggi Senoro LNG. Dengan isu utama “Nasionalisasi Gas Donggi Senoro” arah kebijakan proyek LNG Donggi Senoro kian tak menentu arahnya.

Percaturan politik Donggi Senoro cukup alot, dimana Yusuf Kalla yang dikala itu menjabat wakil presiden pada era Susilo Bambang Yudhoyono mengirimkan surat dengan Nomor 23/WP/7/2009 kepada Menteri ESDM dan Direktur Utama Pertamina menjadi polemik berkepanjangan pada proyek Minyak dan Gas (migas) Donggi Senoro.

“Kita harus dukung ini proyek migas, supaya masyarakat bisa maju,” ujar pria yang mendapatkan gelar “Bosanyo” (ketua adat) dengan menggunakan bahasa Saluan dengan teratur dan hati-hati di ruang lobi hotel tempat ia menginap.

Pria berbadan tegap dengan janggut lebat segenggam ini tahu betul bagaimana pertumbuhan ekonomi di daerahnya saat masuknya investasi besar. Sebagai ketua adat Batui, Haris mempunyai latar belakang pendidikan yang cerah, ia merupakan sarjana ekonomi yang telah lama bergelut dalam dunia perbankan.

Kondisi perekonomian Batui kala itu sempat lesu pasca beberapa perusahaan yang berada di Kecamatan Batui terpaksa gulung tikar. Kolapsnya perusahaan tambak udang PT. Banggai Sentral Shrimp (BSS) pada tahun 2006. Hingga perusahaan terpaksa gulung tikar pada pertengahan 2008 dikarenakan serangan parasit berimplikasi buruk pada kehidupan perekonomian masyarakat.

Banyak masyarakat yang mengalami kerugian ekonomi, tidak hanya pekerjanya saja yang telah berjumlah 2000 orang, wajah murung dari juragan-juragan petani plasma tambak udang terlihat dikala perusahaan tambak udang dengan luasan lahan 100 Ha itu berakhir masa kejayaannya.

Banyak warga yang coba banting setir kala itu dengan mencoba peruntungan di kebun sawit milik PT. Sawindo Cemerlang dan PT. Delta Subur Permai, bukan untung yang didapat, malah buntung karena sering berkonflik lahan dengan perusahaan sawit.

Haris bersama masyarakat adat Batui kala itu menampikkan segala keraguan untuk tetap mendukung proyek migas bisa ada dikampungnya. “pusat boleh menentukan arah Donggi Senoro, tapi torang juga bisa menentukan sikap,” tegasnya kepada saya.

Pertumbuhan Ekonomi

Setelah dua tahun tertunda akibat isu alokasi gas untuk domestik dan nilai konstruksi proyek yang tinggi, Haris bisa bernafas lega setelah proyek Donggi Senoro LNG kembali dilanjutkan setelah ditetapkannya alokasi gas untuk bahan bakar pembangkit PT Perusahaan Listrik Negara dan bahan baku pupuk PT Panca Amara Utama pada pertengahan 2010 silam.

Dibawah bendera PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) empat perusahaan raksasa asia PT Pertamina (Persero), PT Medco Energi Internasional Tbk, Mitsubishi Corporation dan Korea Gas Corporation (KOGAS) meluncurkan dana investasinya hingga mencapai angka US$ 2,8 miliar.

Donggi Senoro LNG pun menjadi proyek pertama yang menerapkan skema hilir dengan memisahkan produksi gas di hulu dengan pengolahan gas alam cair di hilir. Dengan skema tersebut bisa mengoptimalkan penerimaan negara dengan tidak membebani keuangan negara.

Saat mengunjungi JGC Corporation, kontraktor utama proyek DSLNG, Humas JGC Richard memberikan cacatan bahwa puluhan perusahaan subkontraktor konstruksi kilang telah menyerap sebanyak 4000 tenaga kerja hingga pertengahan 2012. Dari data yang diberikannya, 60 persen pekerja adalah warga lokal sekitar kilang LNG.

Richard juga mengatakan bahwa sistem pengupahan pada proyek DSLNG cukup tinggi jika dibandingkan dengan upah minimum provinsi (UMP). Rata-rata pekerja kilang LNG berpenghasilan Rp5 juta hingga Rp10 juta perbulannya.

Masifnya tenaga kerja pada proyek kilang, tidak menjadi alasan untuk mengabaikan prosedur keselamatan kerja. DSLNG berhasil mencatat jumlah jam kerja aman tanpa kecelakaan kerja sebanyak 23.470.926 jam hingga 2017.

Proyek Donggi Senoro LNG yang hadir di Batui membawa dampak positif yang besar dengan Multiplier Effect yang cukup tinggi. Usaha jasa kos-kostan warga Batui dengan tarif sewa rata-rata Rp500 ribu perbulan, terisi penuh dengan pekerja yang berasal dari luar daerah. Tidak hanya itu, banyak rumah warga yang dikontrakkan kepada beberapa perusahaan subkontraktor.

Toko kelontong dan kios-kios kecil tumbuh menjamur hampir ditiap sudut kampung. Begitu juga pasar rakyat Batui yang dulunya hanya buka di hari senin dan jumat, kini buka tujuh hari dalam seminggu karena lajunya perputaran uang.

Laju pertumbuhan perekonomian di Batui mendapatkan dukungan dari beberapa Bank Perkreditan Rakyat yang hadir di Kecamatan Batui. Untuk sebuah ukuran Kecamatan di Sulawesi Tengah, Batui tersedia layanan bank dengan tiga anjungan Tunai Mandiri (ATM) bank swasta dan satu buah ATM bank daerah.

Tak heran, jika banyak masyarakat sekitar Kabupaten Banggai sering menyebut Batui sebagai “Kampung Donggi Senoro” karena daerah ini mampu menyedot perhatian dengan laju pertumbuhan ekonominya.

Senin, (3/8/2015), Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan pengapalan perdana kargo LNG Donggi Senoro di Desa Uso, Batui. Hari itu terakhir saya berjumpa dengan Haris. Ia duduk gagah mengenakan songkok nasional hitam dengan baju batik.

Diantara ribuan tamu penting yang hadir, DSLNG memberikan tempat terdepan untuk Haris dan perangkat adat lainnya sebagai bentuk penghormatan kepada masyarakat adat Batui. 

Haris menghampiri saya dan meminta untuk mengabadikan momen tersebut. Sebuah kebanggaan besar untuknya tatkala duduk sejajar dengan Presiden Jokowi saat itu. “baru ini saya liat Jokowi langsung, foto akan saya,” sambil tersenyum lebar.

(Haris Apok (batik merah) saat acara peresmian pengapalan perdana kargo LNG Donggi Senoro di Desa Uso, Batui.)

Berselang dua tahun, tepat 14 Januari 2017 menjadi hari berduka untuk masyarakat adat Batui, dimana Haris menghembuskan nafas terakhirnya. Masyarakat adat Batui kehilangan sosok ketua adat yang mereka hormati. Ia dikenal sebagai sosok ketua adat dengan keputusan yang cukup berani untuk kepentingan masyarakat adat di Batui.

Walau Haris bukanlah sosok yang bisa menerawang jauh kedepan, keputusannya dengan masyarakat adat kala itu untuk mendorong percepatan mega proyek Donggi Senoro LNG dikampungnya cukup beralasan jika melihat kontribusi Donggi Senoro LNG untuk perekonomian kabupaten Banggai.

Pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banggai mencapai angka 17, 67 persen. Dipenghujung tahun 2014, laju pertumbuhan ekonomi Banggai telah mencapai 16,9 persen, jauh di atas kabupaten lainnya di Sulawesi tengah.

Perekonomian Sulawesi Tengah tahun 2015 mencapai 15 persen, di atas rata-rata nasional yang hanya sebesar 4,7 persen. Kabupaten Banggai menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia pada tahun 2016 dengan adanya investasi migas. Banggai mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 37 persen pada 2016.

Gubernur Sulteng, Longki Djanggola juga mengungkap bahwa kontribusi terbesar pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah berasal dari Kabupaten Banggai. Kontribusi ekonomi daerah menyentuh 15,56 persen.

Pengembangan Masyarakat

Selain pertumbuhan ekonomi yang signifikan dengan hadirnya DSLNG, pengembangan masyarakat di sekitar kilang telah dilakukan DSLNG sejak 2008. DSLNG banyak melakukan Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSP) di tiga kecamatan terdekat dengan daerah operasi kilang.

Untuk infrastuktur, kontribusi DSLNG sangat besar ketika melakukan perbaikan jalan ruas Luwuk-Toili pada akhir 2013. Banyak jalan di Kecamatan Batui yang rusak kala itu dikarenakan usia jalan yang cukup tua. Perbaikan jalan sepanjang 30,77 kilometer dari Desa Tangkian, Kecamatan Kintom hingga Kecamatan Toli, menjadikan akses transportasi masyarakat di tiga kecamatan kian berkembang.

Pada dunia pendidikan di Kabupaten Banggai, banyak sekolah yang mendapatkan bantuan tenaga pendidik bahkan dipelosok sekalipun. Sejak 2013, DSLNG bekerjasama dengan Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) telah mengirimkan 36 Pengajar Muda yang ditugaskan di 10 desa di delapan kecamatan di sekitar Kilang.

Corporate Communication Manager DSLNG Thamrin Hanafi mengatakan bahwa kemitraan dengan Indonesia Mengajar adalah program peduli terhadap pendidikan di kabupaten Banggai. “DSLNG melakukan monitoring berkala sejak awal, dan bentuk konkrit kami yakni turun kelapangan seperti saat ini,” ujar Thamrin, kala melakukan monitoring program pendidikan DSLNG di Desa Ampera, Kamis (30 /11/ 2017).

Tidak hanya tenaga pendidik, DSLNG juga merealiasasikan program air bersih untuk sekolah di tiga Kecamatan Nambo, Kintom, dan Batui. Saat itu saya berksempatan melihat program air bersih untuk pendidikan kesehatan dan juga untuk membiasakan hidup sehat. Setiap sekolah tersedia keran-keran air di depan pintu kelas lengkap dengan tandon air dan sebuah mesin pompa air.

DSLNG juga melakukan peningkatan kehidupan nelayan di tiga kecamatan sekitar kilang. Program untuk peningkatan nelayan adalah dengan memberikan pelatihan manajemen dalam usaha pembentukan koperasi perikanan untuk kelompok nelayan dan penguasaan tekhnis alat tangkap ikan terhadap nelayan.

CSR Program Officer, Rohani Simbolon mengatakan bahwa kelompok nelayan dikembangkan ditiga kecamatan yakni Batui, Kintom, dan Nambo. “untuk kecamatan batui ada 7 kelompok, satu kelompok terdiri dari 5 orang nelayan, totalnya 35 orang. DSLNG juga mengembangkan kelompok-kelompok nelayan di Kecamatan Nambo dan Kintom,” ujar Rohani saat di Fishery Training Center, Jumat (28 /04/ 2017).

Beragam program TJSP juga dilakukan oleh DSLNG, seperti memberikan bantuan fasilitas perawatan dan bangunan fisik untuk puskesmas, pembentukan koperasi simpan pinjam (KSP) ibu-ibu di sekitar kilang, mempromosikan produk lokal tenun Nambo, dan kepedulian terhadap kelestarian habitat burung Maleo.

Dengan usianya yang telah memasuki 10 tahun, kinerja DSLNG pun semakin solid. Perusahaan yang mengoperasikan kilang Donggi Senoro LNG di  Banggai, Sulawesi Tengah ini mampu mempertahankan kinerja operasional maupun sosial yang mantap.

Muhajir Badjeber

0 Komentar

TULIS KOMENTAR

Alamat email anda aman dan tidak akan dipublikasikan.