14 Tahun Tsunami Aceh, Sebuah Refleksi dan Mitigasi Bencana

14 Tahun Tsunami Aceh,  Sebuah Refleksi dan Mitigasi Bencana

Tepat 14 tahun silam, pada 26 Desember 2004, Aceh dilanda tsunami yang menyusul gempa 9,3 skala Richter. Bencana tersebut menelan ratusan ribu korban dan merusak sebagian besar kota yang berada di tepi pantai provinsi tersebut.

Transsulawesi.com, Banggai -- Tepat 14 tahun silam, pada 26 Desember 2004, Aceh dilanda tsunami yang menyusul gempa 9,3 skala Richter. Bencana tersebut menelan ratusan ribu korban dan merusak sebagian besar kota yang berada di tepi pantai provinsi tersebut.

Peringatan akan bencana tersebut dilakukan setiap tahunnya berlandaskan empat tujuan utama, yaitu; refleksi, apresiasi, mitigasi dan promosi.

"Refleksi kejadian gempa dan tsunami masa lalu sudah selayaknya menyadarkan masyarakat betapa kecil dan tidak berdayanya manusia di hadapan kemahakuasaan Allah SWT. Setiap kejadian bencana tersebut harus menjadi ibrah (pelajaran) sebagai introspeksi diri," jelas Kepala Bidang Pemasaran Disbudpar Aceh, Rahmadhani, seperti dikutip Indopos, Rabu (26/12).

Sedangkan dengan apresiasi, masyarakat diharapkan dapat mengenang dan berterima kasih kepada masyarakat nasional dan internasional atas segala dukungan dan solidaritas sosial dalam mendukung pembangunan Aceh kembali.

Lalu ada mitigasi, yang membuat pemerintah berharap agar masyarakat dapat bersahabat dengan bencana, selalu siaga dalam mengantisipasi berbagai hal yang mungkin terjadi di masa depan. Terutama mengingat Aceh berada dalam daerah rawan bencana, ring of fire.

Oleh karena itu, tema peringatan ke-14 ini mengambil tema "Bangun Bersama, Siaga Utama."

"Peringatan ini merupakan momentum untuk membangun budaya kesiagaan masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai ancaman bencana yang kerap terjadi di negeri kita," kata Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dalam sambutannya dikutip detikcom.

Peka bencana sejak dini

Kegiatan untuk memperingati peristiwa tersebut pun diisi dengan berbagai acara. Misalnya seperti Aceh-Japan Community Art Project, sebuah proyek yang menyatukan para penyintas dan generasi muda dari kedua wilayah yang sama-sama pernah mengalami bencana tsunami, melalui seni.

Rangkaian acara yang telah dua kali diselenggarakan tersebut digelar pada 13-26 Desember 2018 di Museum Tsunami, Banda Aceh.

Kegiatanya beragam, mulai dari mendongeng yang dipercayakan kepada Komunitas Kampung Dongeng Aceh, menggambar oleh Komunitas Doodle Art, menggambar dan menulis cerita oleh Penerbit CBK, dan membuat diorama oleh Home Education Aceh.

Ada pula pameran pakaian adat Aceh dan Jepang, pameran karya 30 seniman disabilitas dari Jepang, serta pemutaran film dokumenter tentang saksi hidup kapal di atas rumah, sekaligus video dokumenter di Lamno, dan beberapa kegiatan lainnya.

"Hal terpenting dari kegiatan ini, agar generasi muda Aceh yang tidak mengalami bencana, tanggap terhadap bencana. Seperti kita tahu, Aceh sangat rentan dengan bencana (gempa dan tsunami). Jadi sedini mungkin diajak untuk peka," jelas Ketua Proyek Melukis di Atas Kain, Siti Nurhidayah, dikutip dari Liputan6.com, Minggu (23/12).

Selain itu, ribuan warga menghadiri peringatannya yang dipusatkan di Masjid Tgk Chik Mahraja Gurah, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar.

Acara dimulai sejak pagi, diawali dengan doa dan zikir yang dipimpin oleh Ustaz H Zamhuri Ramli. Kegiatan yang dibanjiri ribuan warga itu juga dirangkai dengan tausiah yang disampaikan Ustaz Abdul Somad.

Tamu yang hadir pun tak hanya dipadati oleh warga setempat, ada pula wisatawan dari mancanegara seperti Malaysia dan Jepang.

Tak hanya itu, sebelumnya personel gabungan TNI-Polri telah bergotong royong membersihkan kuburan massal korban gempa dan tsunami di Pantai Ujung Kareung, Desa Suak Indra Puri, Kabupaten Aceh Barat, Senin (24/12).

Hal ini dilakukan untuk menghormati para korban serta keluarga yang biasanya akan berziarah pada momen peringatan tersebut. Apalagi, dahulu lokasi yang dijadikan pemakaman massal itu merupakan daerah pemukiman keluarga besar TNI-Polri.

Untuk memeringati kejadian tersebut pula, Lembaga Panglima Laot Aceh telah mengingatkan nelayan di Negeri Serambi Mekkah itu agar tidak melaut pada 26 Desember. Larangan ini telah tertuang dalam surat edaran yang dikeluarkan pemangku adat laut.

Adapun aturan tersebut berlaku setiap tahunnya pada 26 Desember pukul 00.00 WIB hingga 27 Desember pukul 00.00 WIB.

"Bagi nelayan yang tidak mematuhi larangan melaut pada hari Rabu (26/12) maka akan diterapkan sanksi yang telah ditetapkan sebagaimana juga pantang melaut Hari Jumat, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha," tegas Wakil Sekretaris Jenderal Panglima Laot Aceh, Miftach Cut Adek di Banda Aceh, seperti dikutip Bisnis, Senin (24/12).

Sanksi yang dimaksud Miftach yakni berupa penahanan kapal nelayan selama minimal tiga hari dan maksimal tujuh hari lamanya.

Hingga kini belum ada nelayan yang tercatat pernah menerima sanksi. Beberapa komunitas nelayan pun biasanya mengisi masa libur melaut dengan mengadakan kegiatan keagamaan, seperti menyantuni anak yatim, hingga zikir dan doa bersama.

Tak hanya di lokasi peringatan, di media sosial pun tagar #14tahuntsunamiaceh ramai dicuitkan. (mhr)