NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

EKONOMI

Nilai Tukar Dolar Saat Ini Parkir di Rp 14.285

Kamis, 24 /05/ 2018 18:25:40 2548 Pembaca  

Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini tembus di level Rp 14.205. (Foto: Republika)
Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini tembus di level Rp 14.205. (Foto: Republika)

Transsulawesi.com, Jakarta – Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini tembus di level Rp 14.285. Gejolak nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sendiri sudah terjadi sejak awal tahun. Dolar AS yang sebelumnya ada di level Rp 13.500 merangkak naik hingga menembus level Rp 14.000.

Sejumlah Ekonom memprediksi dalam jangka pendek nilai dolar AS terhadap rupiah memang masih kuat. Namun penguatan ini juga terjadi pada mata uang negara maju lainnya.

Bank Indonesia (BI) pun dinilai membutuhkan waktu untuk memengaruhi nilai Rupiah terhadap dolar AS. Penguatan dolar juga terjadi pada mata uang lain.

Dengan pergerakan nilai tukar ini banyak outflow atau aliran modal keluar. Kondisi ini akan menekan cadangan devisa (cadev) namun aliran masuk sangat terbatas. Dari data BI cadev RI per April 2018 tercatat US$ 126 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa tingkat konsumsi rumah tangga Indonesia pada 2017 di level 4,95%. Angka itu melambat jika dibandingkan dengan tahun 2016 yang tumbuh 5,01%.

Namun sayangnya kontribusi konsumsi rumah tangga RI sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi, sekitar lebih dari 50%. Sehingga ketika konsumsi rumah tangga melambat dampaknya sangat terasa terhadap kelancaran aktifitas ekonomi hingga ke hulu.

Belum selesai permasalahan masyarakat yang lebih irit, ekonomi RI kembali dihantam dari sisi nilai tukar. Dolar AS tiba-tiba mengamuk. Dari awal tahun dolar masih tenang di sekitar Rp 13.500, tiba-tiba menguat hingga posisi Rp 14.200.

Hantaman yang ketika adalah melebarnya defisit neraca perdagangan. BPS juga mencatat neraca perdagangan RI pada April 2018 mengalami defisit US$ 1,63 miliar. Ekspor tercatat US$ 14,47 miliar, sementara impornya US$ 16,09 miliar.

Bank Indonesia (BI) bahkan memprediksi tahun ini defisit transaksi berjalan diperkirakan berada di US$ 23 miliar atau melebar menjadi 2,3% dari produk domestik bruto (PDB).

(Mhr)

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan