NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Reportase

Pengajian Terduga Teroris Mojokerto, Pernah DIbubarkan Paksa Warga

Kamis, 17 /05/ 2018 23:54:00 5809 Pembaca  

Ledakan yang melukai empat anggota polisi dan enam warga terjadi pada Senin (14/5/2018) pagi di depan pos penjagaan pintu masuk Polrestabes Surabaya.(KOMPAS.com)
Ledakan yang melukai empat anggota polisi dan enam warga terjadi pada Senin (14/5/2018) pagi di depan pos penjagaan pintu masuk Polrestabes Surabaya.(KOMPAS.com)

Transsulawesi.com, Mojokerto – Pengajian yang dipimpin Sutrisno (52), terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror pernah dibubarkan paksa oleh warga. Sutrisno disebut pernah terkait Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Hal itu dikatakan Ali Imron, tokoh masyarakat Desa Betro, Kemlagi, Mojokerto.

Sutrisno dan anak pertamanya, Lutfi Teguh Oktavianto (27), yang sore tadi ditangkap Densus 88, sejak setahun lalu bekerja di perusahaan sablon map rapor milik Ali.

"Tahun 2011 masyarakat di sini bergerak karena tak ingin ada radikalisme. Warga merobohkan tempat yang akan digunakan untuk basecamp bagi kelompok Sutrisno. Saat itu Sutrisno mengaku sebagai Ketua JAT Mojokerto," kata Ali kepada detikcom di rumahnya, Kamis (17/5/2018).

Sebelum bergabung dengan JAT, lanjut Ali, Sutrisno pernah mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Betro pada akhir 1990. Saat itu Sutrisno juga berbisnis galian pasir. Namun pencalonan Sutrisno gagal. Usaha tambang pasir juga terhenti karena tak ada lagi tempat untuk menambang pasir.

Sebelum adanya aksi warga pada 2011, ulah Sutrisno dan kelompoknya kerap meresahkan warga. Rumah Sutrisno di Dusun Betro Barat, Desa Betro, Kemlagi, kerap dijadikan tempat untuk menggelar pengajian.

"Halaqoh di rumah Sutrisno itu rutin, sebulan dua kali. Anggotanya belasan orang, laki-laki dan perempuan, yang perempuan selalu pakai cadar," ungkapnya.

Tak hanya itu, kata Ali, Sutrisno dan kelompoknya juga kerap menyampaikan kalimat-kalimat berbau radikalisme kepada warga sekitar rumahnya.

"Kelompoknya kerap menuding orang lain kafir, menyebut NKRI negara toghut," terangnya.

Namun setelah diprotes warga, tambah Ali, perilaku Sutrino mulai berubah. Terduga teroris ini menghentikan pengajian di rumahnya.

"Kalau sekarang ini kadang ada tamu sekitar lima orang, hanya nongkrong di rumah Sutrino," tandasnya.

Sutrisno dan Lutfi ditangkap Tim Densus 88 Antiteror di rumahnya pada Kamis (17/5/2018) sekitar pukul 15.30 WIB. Polisi juga menyita 28 buku terkait ajaran 'jihad' dari rumah Sutrisno. Sedangkan istri dan menantu Sutrisno dibawa ke Mapolsek Kemlagi untuk dimintai keterangan.

(Irf)

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan