NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Nasional

Empat Terduga Teroris Ditembak Mati Usai Teror Bom Surabaya

Senin, 14 /05/ 2018 18:46:31 852 Pembaca  

Kobaran api diduga dari bom bunuh diri di depan GKI Jl Diponegoro, Kota Surabaya, Minggu (13/5/2018) (Foto:Tribune Jatim)
Kobaran api diduga dari bom bunuh diri di depan GKI Jl Diponegoro, Kota Surabaya, Minggu (13/5/2018) (Foto:Tribune Jatim)

Transsulawesi.com, Surabaya  -- Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur, Komisaris Besar Frans Barung mengatakan, sejak dini hari tadi sampai sore hari ini, Detasemen Khusus 88 Antiteror sudah melakukan penindakan terhadap 13 terduga teroris di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur. Empat orang di antaranya ditembak mati karena mencoba melawan.

"Sembilan terduga teroris ditangkap hidup, dan empat kita tembak mati. Empat orang ini di Sidoarjo, sembilan yang hidup ditangkap di Surabaya," ujar Frans dalam konferensi pers d Mapolda Jatim, Surabaya, Senin (14/5).

Frans menambahkan, 13 terduga teroris itu ditindak Densus karena diduga akan melakukan serangan teror di sejumlah tempat. Namun Frans enggan merinci titik mana saja yang dijadikan target oleh mereka. Frans juga enggan membeberkan identitas 13 terduga teroris dimaksud.

"Untuk sasaran dan nama-nama sementara kita tutup dulu," ujar Frans.

Sementara tu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan kelompok teroris yang dua hari ini melancarkan serangan teror bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur termasuk dalam kelompok teroris generasi ketiga. Diketahui, serangan teror bom bunuh diri ini dilakukan oleh kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAD).

Dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (14/3) Ryamizard menyebut, secara global kelompok teroris terbagi ke dalam tiga generasi.

Kelompok teroris generasi pertama, yakni Al-Qaeda yang telah menjadi ancaman di berbagai belahan dunia, salah satunya dalam peristiwa 11 September 2001 ketika gedung World Trade Center di Amerika Serikat diserang.

Generasi kedua, Islamic State of Iraq Suriah (ISIS) setelah Abu Bakar Al Baghdadi mengumumkan pembentukan khilafah dan Negara ISIS pada bulan Juni 2014.

"Generasi ketiga adalah pejuang-pejuang yang kembali, mereka ini yang melakukan ledakan-ledakan itu. Mereka sudah menyatakan Islamic State Indonesia, Islamic State Malaysia, Islamic State Philippines," ujar Ryamizard.

Ia beranggapan, salah satu penyebab serangan-serangan teror ini bisa terjadi karena kurangnya persatuan di Indonesia, terlebih menjelang Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.

"Ketika kita kurang bersatu, orang bisa masuk, baik teroris maupun yang lain-lain. Coba kita bersatu dululah, masa satu nusa satu bangsa tidak bisa bersatu," tuturnya.

(Mhr)

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan