NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Peristiwa

Cerita Pilu Pengungsi Tanjung: Anak Bungsu Meninggal Dunia Karena Tinggal di Tenda Darurat

Sabtu, 14 /04/ 2018 03:50:38 1864 Pembaca  

Eva Bande Aktivis HAM di tepi jalan lokasi penggusuran
Eva Bande Aktivis HAM di tepi jalan lokasi penggusuran

Transsulawesi.com, Luwuk -- Hampir genap setahun warga Tanjung, Kelurahan Karaton, Luwuk Banggai yang terkena dampak penggusuran paksa dari eksekusi pengosongan lahan oleh PN Banggai harus menjalani hidup tanpa kecukupan sandang dan papan.

Secara berkelompok mereka tinggal di tenda tenda pengungsian, itu tercatat sejak eksekusi pertama pada 3 Mei 2017. Seluruh rumah mereka rata dengan tanah tanpa sisa. Demikian pula, dengan barang barang berharga yang tak luput dari penggusuran.

Sempat berusaha kembali membangun rumah darurat diatas tanah yang telah dieksekusi, namun itu tidak berlangsung lama. Pada Senin 19 Maret 2018 eksekusi tahap dua kembali meratakan rumah lainnya serta rumah darurat yang mereka telah bangun.

Hidup tanpa atap rumah bukanlah hal yang mudah, mereka mengibaratkan perasaan seolah hidup di negar yang sedang berperang. Tak ada tempat beristrahat dengan nyaman, tak ada MCK keluarga, dan bisa makan hanya dari uluran tangan orang lain.

Salah seorang yang paling merasakan itu, Nuryanti (38), ibu tiga anak ini merasakan pahitnya hidup tanpa rumah. Dimana, anak bungsunya yang baru berumur 11 bulan meninggal dunia karena tidak terurus. “Mungkin karena dingin tinggal di tenda terpal,” ujarnya kepada Transsulawesi.com, Jumat 13 April 2018.

Dari kejadian itu, kedua anak laki lakinya tidak lagi berada jauh dari dirinya. “Saya masih trauma dengan kepergian anak saya waktu eksekusi pertama lalu,” terangnya.

Sempat membangun rumah darurat dan berpikir optimis untuk memulihkan kondisi perekonomian pada beberapa waktu sebelum penggusuran kedua. Tapi langsung sirna begitu saja ketika seribuan aparat pengamanan melegalkan eksekusi kedua.

“Seperti eksekusi pertama, saya dan suami hanya bisa menangis sambil saya peluk kedua anak anak ini, kata Yanti dengan mata berkaca kaca.

"Kitorang (kami)dulu punya kehidupan yang baik di sini. Kitorang juga punya lingkungan, hidup penuh arti. Itu jadi kerinduan saya, selain rindu pada anak saya yang bungsu," tuturnya.

Menurut salah satu aktivis pendamping warga Tanjung, Kiki Amstrong, jumlah kepala keluarga yang tinggal ditenda tenda darurat sudah mencapai 154 kepala keluarga. “Kebanyakan mereka bertahan ditenda darurat karena sudah tidak memiliki apa apa lagi,” kata Kiki.

Nasib mereka benar benar berada dalam ketidakpastian. Wanita dengan balita gelisah dalam keheningan di tengah kota. Mereka binggung dengan masa depan. Jika beruntung, di pemerintah era Jokowi ini bisa memulihkan keadaan yang ada. Itu satu satunya jalan untuk selamat dari musibah eksekusi. (syf)

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan