NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Metro Sulawesi

Pemuda Muhamadiyah Banggai Apresiasi Wakapolri Ancam Copot Kapolres Soal Aduan Polisi Bubarkan Zikir

Jum'at, 23 /03/ 2018 16:18:05 8115 Pembaca  

Detik detik terjadinya bentrok antara petugas yang dihalau para IRT yang melaksanakan doa bersama dan zikir di Jalan Yos Sudarso
Detik detik terjadinya bentrok antara petugas yang dihalau para IRT yang melaksanakan doa bersama dan zikir di Jalan Yos Sudarso

Transsulawesi.com, Luwuk -- Wakapolri Komjen Syafruddin menyatakan akan mencopot Kapolres Banggai dan akan mempidanakan pemerintah daerah setempat apabila aparat Polres Banggai terbukti telah melakukan tindakan represif ketika menghadapi kaum ibu yang sedang mengadakan zikir saat proses eksekusi lahan Tanjungsari, Banggai, Sulawesi Tengah, Senin, 19 Maret 2018.

Atas itu dirinya telah memerintahkan Karo Paminal Brigjen Teddy Minahasa untuk mengusut tuntas atas kasus tersebut, "Saya langsung perintahkan Propam, sekarang itu Karo Paminal Brigjen Teddy Minahasa sedang berada di TKP," ujar Syafruddin seperti dikutip detik.com sesaat setelah mendirikan salat Jumat di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (23/3/2018).

Ia pun mengancam jika ada pihak-pihak lain yang terlibat dalam pembubaran zikir itu, juga akan diusut. Bukan hanya secara etik, namun akan diproses secara hukum.

"Demikian pula Pemda yang melakukan kesewenang-wenangan terhadap masyarakat ya. Apalagi ibu-ibu pengajian saya dengar itu ya, itu sangat membuat tersingung untuk umat Islam," ujarnya.

Syafruddin menjelaskan Polri mengambil langkah cepat, yaitu investigasi di lapangan karena berita yang beredar di media sosial dan laporan yang diterimanya mengiris hati umat Islam. Selain memeriksa internalnya, Syafruddin memerintahkan penyelidikan terhadap pemerintah daerah Banggai.

"Karena beritanya sangat dahsyat, sangat mengiris hati umat Islam. Karena kalau itu beritanya benar, itu ibu-ibu sedang zikir, terus dieksekusi. Oleh karena itu, saya memerintahkan untuk investigasi menyeluruh terhadap internal Polri dan juga pemerintah daerah," kata Syafruddin.

"Manakala pemerintah daerah mau melakukan pembebasan-pembebasan lahan seperti itu, ya supaya memberikan solusi kepada masyarakat. Berikan solusinya dulu, baru melakukan langkah-langkah pembebasan lahan," tambah Syafruddin.

Aduan mengenai pembubaran zikir itu berkaitan dengan pembebasan lahan. Menurut Syafruddin, polisi dalam menangani persoalan itu seharusnya mengedepankan aspek solusi.

"Pemerintah harus toleran terhadap masyarakat. Polri juga, walaupun itu menegakkan hukum, tapi harus berkeadilan. Oleh karena itu, saya berjanji untuk menuntaskan ini semuanya. Kita tunggu laporannya Senin," sambung dia.

Terakhir, Syafruddin menyampaikan pihak Propam juga akan memeriksa Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen I Ketut Argawa terkait peristiwa itu. "Kita akan periksa semua, sampai kapoldanya akan kita periksa," tutup Syafruddin.

Sementara itu secara terpisah Ketua Pemuda Muhamadiyah Banggai, Baharuddin L Algi atau akrab disapa Bua, kepada transsulawesi.com menyatakan, apa yang diungkapkan Wakpolri sangat diapresiasi, mengingat pembubaran para ibu ibu yang sedang melangsungkan zikir dan doa bersama itu, adalah benar adanya.

“Karna keadilan yang mereka tidak dapatkan di pengadilan maupun pihak terkait lainnya, maka sandaran saat itu tinggal kepada Allah, dengan lewat dzikir dan shalat dzuhur di jalan diareal eksekusi,” ungkapnya .

Karena ada dalam kondisi kekhusyuaan saat zikir dan penuh kepasrahan, maka para ibu tidak bergeming, sekalipun aparat telah berhadapan dengan mereka, akhirnya aparat pun memaksa masuk dengan cara paksa dan menggunakan unit water canon.

Tapi sebelumnya kata Bua, sempat ada negosiasi, namun negosiasi mengalami jalan buntu.

“Aparat memaksa masuk dengan cara paksa dan menggunakan water canon sehingga ibu ibu lengkap dengan kerudung (mukenah/cipu) lari berhamburan dengan Al-Qur'an ditangan,” jelas bua. (end/ab)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan