NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Publika

Membangun Banggai Kepulauan Dari Jasa Ekosistem Karst

Selasa, 20 /03/ 2018 23:05:29 6106 Pembaca  

Ekosistem karst di Banggai Kepulauan menjadi potensi ekowisata. Selain dari 124 mata air, 7 danau dan 15 gua, terdapat juga 6 air terjun menjadi lokasi ekowisata.
Ekosistem karst di Banggai Kepulauan menjadi potensi ekowisata. Selain dari 124 mata air, 7 danau dan 15 gua, terdapat juga 6 air terjun menjadi lokasi ekowisata.

Transsulawesi.com, Bangkep -- Berdasarkan PP 28 tahun 2011 Ekosistem Karst merupakan Ekosistem Esensial yang perlu dilindungi dengan fungsinya sebagai sistem penyangga kehidupan. Saat ini terdapat kesan di masyarakat bahwa kawasan karst merupakan daerah kritis, tandus, kering dengan kehidupan masyarakat yang masih miskin. Namun dibalik itu keunikan karst mengandung sumberdaya alam hayati dan nirhayati yang potensial untuk mendukung kehidupan masyarakat.

Secara administratif luas wilayah Banggai Kepulauan sekitar 248.879 ha, namun secara ekologis karakteristiknya sebagai pulau kecil yang terbatas dalam pemanfaatan lahannya. Wilayahnya juga merupakan ekosistem karst, dan 97,7% diantaranya sebagai fungsi lindung ekosistem karst. Kondisi tersebut, membutuhkan kehati-hatian dari Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan, terutama lokasi kawasan pertambangan yang mencapai 28% dalam RT RW Kabupaten Banggai Kepulauan Tahun 2016-2036.

Ekosistem karst di Banggai Kepulauan memiliki karakteristik, antara lain 124 mata air, 103 sungai permukaan, 7 danau dan diantaranya 3 danau besar, mensuplai kebutuhan air bersih bagi 116.011 jiwa penduduk dan irigasi lahan pertanian. Dari 15 gua yang diidentifikasi, 6 gua diantaranya merupakan habitat kelelawar yang yang berperan dalam penyerbukan dan pemencaran bijiserta pengendalian hama tumbuhan. Dengan dukungan jasa ekosistem karst tersebut, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Banggai Kepulauan Tahun 2016 didominasi (50%) dari sektor pertanian, perikanan dan kehutanan yang mencapai Rp. 1,1  trilyun.

Disamping itu, ekosistem karst di Banggai Kepulauan juga menjadi potensi ekowisata. Selain dari 124 mataair, 7 danau dan 15 gua, terdapat juga 6 air terjun menjadi lokasi ekowisata. Mata air yang jernih pada umumnya dijadikan sebagai wisata pemandian. Danau selain airnya yang jernih, kondisi air yang menyusut saat musim hujan dan tinggi saat musim kemarau merupakan karakteristik yang unik. Demikian juga, air terjun yang jernih dan indah merupakan obyek wisata yang menarik. Sedangkan wisata minat khusus, yakni menyusur gua-gua dengan lorong vertikal maupun horisontal, danau dan sungai bawah tanah serta ornament gua yang indah. Selain karakteristik karst tersebut, pantai dan ekosistem mangrove yang indah menambah potensi ekowisata di Banggai Kepulauan.

Dari potensi ekosistem karst tersebut, maka diusulkan arah pemanfaatan dan pengembangannya berupa Ekowisata Agro Karst, yakni pengembangan ekowisata dan agro yang berbasis ekosistem karst. Komoditi unggulan untuk pengembangan agro, meliputi:

1. Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK): diantaranya rotan, aren, matoa dan buah-buahan lokal.

2. Tanaman pangan: diantaranya padi, jagung, ubikayu dan ubijalar.

3. Tanaman perkebunan: diantaranya durian,  duku,  pala dan kemiri.

Untuk pengembangan HHBK, terdapat sekitar 37 ribu ha tutupan lahan berhutan. Sedangkan untuk tanaman pangan dan perkebunan terdapat 52 ribu ha, dan agro forestri pada kawasan hutan yang terdegradasi seluas 47 ribu ha.

Untuk pelaksanaan pengembangan Ekowisata Agro Karst, dilakukan penataan kelembagaan melalui pengelolaan berbasis desa. Masing-masing desa mempunyai potensi ekowisata dan agro, sehingga ada keberagaman atraksi wisata dan komoditi agro unggulan. Desa Balayon, Popidolon dan Desa Lalandai merupakan desa yang telah mengembangan “desa wisata”.

Untuk pelaksanaan pengelolaan potensi tersebut, dibentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Beberapa desa telah memiliki BUMDes, sehingga dalam pengembangannya dilakukan dengan penambahan unit usaha sesuai potensi desa. Unit usaha yang dapat dikelola oleh BUMDes, antara lain pengelolaan sumber air (mata air), ekowisata dan pengelolaan agro yang melibatkan seluruh warga. Melalui pengelolaan BUMDes tersebut, seluruh masyarakat dapat terlibat dan sebagai alternatif dalam pemanfaatan dana desa.

Potensiekowisatadan agro di Banggai Kepulauan berada di kawasan hutan(50%) dan areal penggunaan lain (50%), yang terdapat di 12 kecamatan, 141 desa dan 3  kelurahan, maka dalam pelaksanaannya diperlukan penataan kelembagaan untuk pengelolaan ekosistem karst di Banggai Kepulauan. Kelembagaan pengelola dimaksud dapat berupa Forum Koordinasi yang melibatkan instansi vertikal dan instansi terkait di Banggai Kepulauan.

(adv)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan