NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

NEWS MAKER

Akitifis Hak Asasi Manusia, Eva Bande Ungkapkan Keprihatinan Terkait Eksekusi Lanjutan Tanjung

Minggu, 18 /03/ 2018 20:45:15 5114 Pembaca  

Screen Metro TV News Room Program
Screen Metro TV News Room Program "Mata Najwa"

Transsulawesi.com, Luwuk -- Aktivis hak asasi manusia, Eva Susanti Hanafi Bande, mengaku sangat prihatin terkait pelaksanaan eksekusi lanjutan di kawasan Tanjungsari, yang dilaksanakan Senin, 19 Maret 2018.

“Saya sungguh sangat berduka atas kondisi warga Tanjung saat ini. Mereka itu saudara-saudara kita, jumlahnya lebih dari 1400 jiwa,” kata Eva Bande kepada transsulawesi.com melalui sambungan telepon.

Belum lagi hilang trauma pada eksekusi (penggusuran) pertama, pada Rabu, 5 Mei 2017. Kini, kata Eva mereka harus merasakan hal yang sama terulang lagi, ”rasa sakitnya belum pulih, trauma yang mereka alami belum hilang, karena (masih) terhampar didepan mata mereka sisa-sisa bangunan yang rata dengan tanah,” ucapnya dari Jakarta.

Eksekusi di wilayah Kelurahan Karaton, Banggai, Sulawesi Tengah ini merupakan eksekusi lanjutan dari yang sebelumnya, dengan  luasan kurang lebih 7 hektar. Namun karena dalam putusan maupun peninjauan kembali (PK) yang menetapkan batas kepemilikan Berkah Albakar, mengacu pada batas alam, maka dimungkinkan eksekusi semakin meluas, bahkan sejumlah objek vital turut disebut ikut tergusur dalam eksekusi.

Karena itu, Eva mempertanyakan bagaimana dengan legalitas hak milik (SHM) warga yang berada diatas objek eksekusi, bagaimana ketika mereka mempertahankan hak mereka.

“Bagaimana jadinya nasib rakyat Tanjung yang berjuang mempertahankan hak mereka yang rata-rata memiliki SHM ?, bukankah mereka juga memiliki legalitas yang dijamin negara?,” tanya Eva, menanggapi adanya pengawalan luar biasa dari aparat kemanan yang mencapai 1000 orang itu.“Ini sangat luar biasa,” tutur dia.

Diapun mengingatkan, lembaga pengadilan agar senantiasa menjunjung tinggi keadilan seperti yang selalu termuat dalam perkara peradilan pada semua tingkatan.  

“Bentuk keadilan itu bukan sekadar rangkai kata demi kata untuk keadilan di atas lembaran kertas, bukan pula sekadar ucapan-ucapan retorik. Tapi seharusnya keadilan itu menghentikan penderitaan,” terang Eva.

“Terutama bagi rakyat yang teraniaya,” tutur perempuan yang pernah menerima grasi langsung presiden RI, Ir. Joko Widodo.

Maka aparat kepolisian hendaknya dapat bertindak dengan alas kemanusiaan yang adil dan beradab, “ Tentu sebagai pengawal tegaknya HAM, tegaknya Pancasila, bukan mengkhianati azas dasar negara kita”, tutup Eva Bande. (end)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan