NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

REGIONAL

Bukti Awal Penguasaan Tanjungsari Berdasarkan Jejak Benteng “Kota Mosanda”

Sabtu, 24 /02/ 2018 00:59:41 2049 Pembaca  

Pernyataan Sikap Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA). Pemerintah segera hentikan penggusuran paksa tanah masyarakat Tanjung Sari, Luwuk – Banggai
Pernyataan Sikap Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA). Pemerintah segera hentikan penggusuran paksa tanah masyarakat Tanjung Sari, Luwuk – Banggai

Transsulawesi.com, Luwuk -- Sebenarnya keluarga Donga Diening tidak ambil pusing soal eksekusi lahan di Tanjungsari Kelurahan Karaton yang dimenangkan ahli waris Albakar. Namun, beberapa pekan terakhir mereka mulai gerah ketika mendengar akan ada eksekusi lanjutan dengan jumlah luasan yang bertambah.

“Ini bagaimana bisa, sedangkan kami adalah pewaris dari lahan yang ada di Tanjung ini. Okelah jika mereka hanya punya 3 atau 6 hektar.” Kata Iskandar (44) cicit dari Diening “Tapi kalau sampai ada eksekusi 18 hektar luasnya itu sangat konyol”.

Menurutnya, ia sangat memahami asal usul lahan yang ada di Tanjung, karena ada cukup bukti untuk mengetauhi asal muasal kepemilikan, ”Jika ahli waris bicara tempo dulu soal kepemilikan, itu sebuah kesalahan karena kami yang paling mengerti,” tuturnya.

Dijelaskannya bahwa di lahan yang terancam eksekusi ini, ada sebuah benteng pertahanan yang dibuat sekitar era 1600-an, dan itu sebutnya merupakan cikal bakal dari status penguasaan hingga kemudian menjadi sebuah kepemilikan. “Kota Mosanda adalah nama benteng itu,” sebut Iskandar.

Ia yang merupakan generasi kelima dari Donga Diening selaku pemimpin diwilayah itu masih cukup mengingat bahwa proses jual beli diatas kawasan Tanjungsari, banyak didominasi dari kerabatnya. Salah satu contohnya adalah areal pelabuhan kontainer dan Pelni, dimana sekitar tahun 1994 ibunya salah satu pemilik yang mendapat dikonpensasi dari pemerintah (Sulteng). “Nah kalau sekarang ekseskusi yang dimenangkan ahli waris Albakar juga menunjuk areal pelabuhan sebagai milik mereka tempo hari, kenapa ibu saya yang mendapat konpensasi, dan bukan mereka,” tambah Iskandar.

“Perlu diketauhi buyut saya (Donga Diening) sudah menguasai lahan yang ada di tanjung, mengingat buyut kami adalah perpanjangan tangan pemerintah kerajaan hingga kemudian di naungi pemerintahan belanda. Dan bukan Albakar,” kata Iskandar.

Sehinga tak heran jika kerabat mereka banyak menguasi lahan ditanjung, sementara Albakar sendiri jelas Iskandar merupakan saudagar yang datang, “sehingga adapun kepemilikan lahan yang kini dipermasalahkan ahli warisnya merupakan hasil pembelian. Luasannya pun tidak seperti yang diisukan mencapai 18 hektar,” kata Iskandar. (syf)

BACA : Soal eksekusi jilid II di Tanjungsari, Nasrun Hipan Ingatkan semua pihak

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan