NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Fokus

Mungkinkah Narkoba Sudah Menjadi Industri di Negeri Ini

Selasa, 20 /02/ 2018 12:41:12 1819 Pembaca  

Ilustrasi penangkapan gembong Narkoba
Ilustrasi penangkapan gembong Narkoba

DUA institusi di Sulawesi Tengah, BNN Sulteng dan Kepolisian Daerah terus berjibaku melawan peredaran narkoba diwilayah ini. Namun sekuat apa upaya memerangi narkoba yang sudah mengakar hingga ketinggkat kecamatan itu, seolah tak ada tanda perang akan berakhir.

Malah dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun gejala penyalahgunaan dan peredaran narkoba bukannya semakin menurun, melainkan justru semakin meningkat. Peningkatannya pun berlangsung bukan sekadar dalam deret hitung, melainkan dalam deret ukur, secara eksponensial, sangat mengerikan dan masif.

Terlalu mudah bagi kita, dihari hari ini, untuk melihat pemberitaan mengenai siapa, kapan di mana, dan bagaimana proses barang haram tersebut beredar. Mengawali dua bulan 2018 saja BNN Sulteng juga jajaran Polres dibawah Polda Sulteng menangkapi para pengguna serta pengedar dari berbagai ragam latar pekerjaan.

Contohnya,  Erfin (32), warga Desa Binangga, Kecamatan Parigi Tengah, Kabupaten Parimo yang ditangkap pada Ahad (18/2/2018) adalah seorang petani. Ia ketahuan setelah warga melaporkan kepada aparat bahwa dirumah Ervin adalah tempat transaksi narkoba di wilayah itu.

Ada pula seorang Ibu Rumah Tangga di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai dengan alasan mencukupi kebutuhan hidup, dirinya turut terlibat dalam peredaran narkoba. Ketika diciduk IRT inisial YN itu terpaksa meninggalkan anaknya yang baru berumur 7 bulan.

Yang terbaru, Minggu (11/2/2018) Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Palu, Sulawesi Tengah baru saja berhasil menggagalkan pengiriman paket narkotika jenis sabu-sabu dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Petobo yang akan dikirim ke Kabupaten Tolitoli. Kepala BNN Kota Palu, AKBP Sumantri Sudirman menuturkan, penangkapan sabu seberat 7,6 gram itu dilakukan di salah satu agen rental mobil Jalan Rajawali, Kecamatan Palu Timur.

Jika merunut deret pendek kasus narkoba diatas, bisa jadi ada kesan pemberantasan narkoba baru dilevel 'mengobati gejala penyakit' daripada penyebab utamanya.

Seperti dikutip dari editorial Media Indonesia yang menuliskan bahwa penyebab utamanya narkoba karena telah menjadi industri. Dalam industri berlaku hukum pasar, ada supply and demand, ada penawaran dan permintaan.

Selama negara tidak memutus rantai itu, selama itu pula persoalan narkoba akan terus eksis. Alih-alih memaksimalkan rehabilitasi pengguna narkoba, negara lebih memilih memenjarakan mereka. Sekitar separuh narapidana berasal dari kasus narkoba. Itu artinya penjara penuh karena narkoba.

Penjara penuh tentu sama dengan meningkatnya anggaran yang mesti disiapkan negara untuk ‘memberi makan’ mereka membengkak. Belum lagi potensi kericuhan dan kerusuhan akibat penghuni melebihi kapasitas lembaga pemasyarakatan. Pemakai yang dipidana bisa baik pangkat dari sekadar coba-coba jadi pecandu narkoba.

Lebih parah lagi, mereka baik kelas dari pemakai menjadi pengedar. Sudah menjadi pengetahuan umum, lembaga pemasyarakatan menjadi pusat kendali peredaran narkoba. Itu artinya memidana pengguna narkoba justru membuat demand alias permintaan narkoba bukannya menyusut, melainkan justru membubung.

Meningkatnya demand, sesuai dengan hukum pasar, akan menaikkan harga narkoba. Implikasinya pemasok semakin bersemangat memproduksi dan memasarkannya. Oleh karena itu, rekomendasi kita atas persoalan ini ialah optimalkan rehabilitasi pengguna, maksimalkan hukuman pagi pengedar dan bandar serta cegah anak-anak bangsa menjadi pemakai narkoba. Semua itu akan memutus rantai supply and demand peredaran narkoba di Tanah Air. (Syf)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan