NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Publika

Publik Banggai Bicara Melorotnya Daya Beli Warga

Minggu, 18 /02/ 2018 21:37:15 6410 Pembaca  

Ilustrasi pasar / FOTO. Liputan6
Ilustrasi pasar / FOTO. Liputan6

Transsulawesi.com, Luwuk -- Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai harus bekerja ekstra memulihkan kondisi perekonomian mikro terhadap wilayah yang berpenduduk lebih dari 342.698 jiwa ini. Inisiatif Pemda diperlukan seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi nasional sejak 2017 lalu.

Dari hasil investigasi transsulawesi.com pada sejumlah kecamatan baik wilayah perkotaan maupun desa, didapatkan informasi adanya penurunan daya beli warga yang turut terpicu dengan naiknya harga bahan pokok pasca pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM), serta pengurangan subsidi listrik.

Sementara itu meningkatnya angka pengangguran juga menjadi salah satu faktor lambannya perputaran ekonomi disektor lokal. Sebut saja di Kecamatan Batui, kehadiran Banggai Amoniak Plant garapan PT. Panca Amara Utama (PAU) yang minim melibatkan tenaga kerja setempat, nyaris membuat wilayah investasi migas terbesar di Sulawesi Tengah ini tak dapat bergerak maju lagi.

Ini didukung oleh pengakuan pelaku usaha kecil menengah, dimana usaha yang dulunya ramai saat ini menjadi sepi. Fadli Umar salah seorang pemilik toko bahan bangunan di Batui mengatakan, tak banyak lagi pembeli datang seperti sebelumnya. “Sejak surplus besar besaran yang datang belanja ikut berkurang,” kata Fadli. “Dan itu terus berlangsung sampai hari ini”.

Harapannya, pemerintah daerah dapat turun tangan menyiasati hal itu agar mampu merangsang kemampuan daya beli. Mengingat stok barang tetap tersedian namun tak berputar. “Semoga pemerintah bisa paham dengan kondisi ekonomi kelas bawah, termasuk perusaahan yang ada di Batui bisa memberikan kesempatan bekerja bagi warga sekitar,” harap Fadli.

Tak jauh berbeda, Kiki Amstrong salah satu pegiat sosial di Luwuk Banggai, yang kesehariannya banyak berinteraksi dengan warga di wilayah perkotaan turut mengakui fenomena melorotnya daya beli masyarakat.

Menurutnya, kurangnya serapan tenaga kerja di sektor Migas turut berimbas pada pelaku ekonomi menengah diperkotaan.“Jika daya beli turun, ini tentu dapat berpengaruh terhadap siklus perputaran uang dan barang,” kata Kiki. Dan kurangnya tenaga lokal yang dilibatkan sebagai pekerja di BAP hanyalah salah satu faktor dari sekian banyaknya kasus yang menyebabkan kenaikan harga barang.

“Saya juga kaget kalau harga barang terus melonjak, sementara, daya beli masyarakat terus menurun. Ini semua disebabkan oleh banyak kasus,” ungkap dia.

Selanjutnya pedagang di Kecamatan Moilong mengeluhkan hal serupa, Cak Nur  sebagai pedagang sayur keliling mengatakan dagangannya banyak tersisa di saat saat ini. “Jualan dari Toili sampai Batui, tapi yang belanja sangat kurang,” aku Nur. Ini berbeda dari sebelumnya. “Kalau dulu belum siang sudah banyak yang terjual”.

BACA: Harga Beras di Kecamatan Merangkak Naik dalam Dua Bulan Terakhir

Dijelaskannnya, harga dagangan yang dinaikan bukan disengajakan begitu saja. Ini karena kebutuhan yang sama,” kalau gas naik, bensin naik. Tentu kami sebagai pedagang turut menaikannya pula,” ujar Nur.

Sehingga dia berharap pemerintah dapat mencarikan solusi perbaikan ekonomi di Kabupaten Banggai. “Harapnya ada perhatian dari pemerintah,” pungkas Nur. (syf/irf)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan