NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Transpedia

TS. Bullah dalam Gelora Perjuangan Rakyat Pagimana (Bagian I)

Selasa, 13 /02/ 2018 18:24:28 726 Pembaca  

Bangsawan Kerajaan Banggai dan Pemerintah Belanda / dok. google.com
Bangsawan Kerajaan Banggai dan Pemerintah Belanda / dok. google.com

Transsulawesi.com, Luwuk - Tidak banyak yang menyangka Tame Sulaeman Bullah bakal mengusir belanda yang bercokol di Kota Luwuk. Di District Pagimana (Kabupaten Banggai) Bullah muda yang baru saja kembali dari menuntut ilmu di sekolah melayu yang berada di Gorontalo mulai menunjukan minat menjadi sosok muda pemberani dan anti penjajahan.

Bullah polos kelahiran Lambangan 1894 sebenarnya sudah mengimpikan kedaulatan NKRI bisa ada di tanah Banggai (Banggai Laut, Banggai dan Banggai Kepulauan). Tapi sebuah perjuangan mustahil dapat dilakukannya sendiri, dan benaknya mengatakan itu.

Sehingga ketika beranjak dewasa dan matang, 1917 Bullah pun bergabung dengan organisasi Sarekat Islam. Ia bahkan terlibat sebagi pengurus anggota SI hingga 1922, dan karir berorganisasinya pun terus naik. Tahun 1931 Bullah diangkat menjadi Presiden Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) yang berkedudukan di Pagimana.

Dalam kurun dua tahu itulah, Bullah giat menyebarkan propaganda PSII ke masyarakat. Tentu apa yang dilakukannya itu sangat mengganggu pemerintahan Belanda di Banggai. Lewat centeng mata mata, Belanda mengawasi pergerakannya, dan benar di tahun 1933 ia di tangkap dengan tuduhan menyebarkan paham perjuangan Indonesia di Pulau Peat. Bullah yang dikenal keras kepala oleh Belanda langsung dijebloskan ke penjara.

Ditengah rembetan kekalahan pasukan Belanda pada tentara Jepang di beberapa tempat di Asia, menjadi berkah tersendiri bagi TS. Bullah. Dimana Belanda harus mengambil keputusan berat yakni membebasakan Bullah yang baru menjalani dua bulan masa penahanan. Ini dilakukan kolonial dengan maksud agar tidak menjadi boomerang bagi mereka. Mengingat pasca penahanan Bullah antipati warga terhadap pemerintahan Belanda terjadi dimana mana. Belum lagi disaat yang sam, propaganda Jepang sebagai pelindung asia sudah mulai sampai dikuping warga banggai

Melihat pengaruh yang kuat terhadap diri Bullah, Tahun 1938 Belanda pun tak segan mengangkatnya sebagai Menteri Jalan di bagian Tomini (Botch Tomini), pengangakatan itu dilakukan menyusul masuknya Jepang di Manado. Belanda juga berharap dengan diangkatnya Bullah bisa meredam kebencian rakyat terhadap mereka dan tidak balik mendukung pendudukan jepang di Sulawesi Utara dan tengah.

Atas itu pula 1941 Bullah ditarik dari menteri jalan dan menjadi kapitan Pagimana, mungkin ada trik yang disengajakan kolonial, yakni berharap sang mantan menteri jalan di Tomini itu bisa menjadi pemimpin garis depan untuk membackup pasukan belanda saat melakukan penghadangan tentara Jepang yang kian mendekat ke afdeling Banggai. (sam/syf)

 

Bersambung

 

Komentar

#HEADLINE

Tiga kabupaten di Sulteng bakal nikmati BBM satu harga
BERITA TERKINI
BERITA PILIHAN

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan