NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Reportase

Lumpur sampai blackout lampu masih jadi masalah di Festival Gelora Pagimana

Senin, 12 /02/ 2018 15:23:21 1210 Pembaca  

Camat Pagimana, Sumitro di lokasi FGP
Camat Pagimana, Sumitro di lokasi FGP

Transsulawesi.com, Pagimana - Pelaksanaan Festival Gelora Pagimana (FGP) yang merupakan rangkaian Peringatan tahunan Hari Patriotik Pagimana yang ke 76 tidak berjalan mulus.  Mulai dari pemadaman lampu mendadak, hingga kaburnya stand warga Desa Jayabakti dari lokasi expo menuai banyak tanya dan spekulasi warga.

Acara yang dibuka langsung Bupati Banggai Ir. Herwin Yatim pada Sabtu, (10 /2/2018) itu akhirnya mendadak menjadi pergunjingan, pasalnya rangkaian acara yang dieluk elukan bakal kedepan menjadi event tahunan bertaraf nasional, nilai mereka sangatlah berlebihan. 

Sebelumnya, Sabtu (10/2) Bupati Banggai Herwin Yatim dalam sambutannya sempat menyampaikan bahwa festival gelora pagimana di tahun mendatang tidak hanya diselenggrakan ditingkat kabupaten, melainkan bisa sampai ketingkat nasional hingga mendunia ke mancanegara.

“Kondisi begini bagaimana bisa keluar negeri,” ungkap Rihwan salah satu warga yang sedang memunguti sepatunya karena terbenam dilumpur. “Coba liat saja ini pece (lumpur) pe dalam ditempat acara,” keluhnya.

Ia juga menuturkan mengenai perihal batalnya desa Jayabakti ambil bagian dalam gelaran festival tersebut.

“Sesuai kesepakatan, FGP itu meliputi tiga tempat di Pagimana, yaitu Jaya Bakti, Dondolan dan Tinalapu atau disingkat Jatindo. Nah pas mau acara, Jayabakti dihilangkan dan singkatannya berubah Tindo,” katanya. Padahal saat itu aku Rihwan warga sedang bergotong royong mendirikan stand Jayabakti.

“Ya langsung bubar,” ungkapnya.

MN sumber lainnya menambahkan, saat pembongkaran stand tersebut interiornya sudah terhias dan saat itu akan di isi dengan berbagai cenderamata kerajinan khas Jayabakti. “Tapi pas tau tidak ada penyebutan Jayabakti makanya langsung dibongkar kembali. Kata MN.

"Kami kecewa sekali atas perubahan nama destinasi pariwisata dalam kegiatan FGP ini".

“Panitia sempat bujuk, tapi sudah terlanjur kecewa,” tutup MN.

Sementara peristiwa lain, yakni terjadinya balckout  atau pemadaman lampu tiba tiba dari PLN pada saat malam puncak hari patriotic Senin(12/02/2018), akibat itu lapangan 12 Pebruari lokasi acara mendadak gelap gulita. Pihak kecamatan selaku tuan rumah penyelenggara pun langsung turun tangan. Namun, belum dapat disimpulkan penyebab pemadaman tersebut. “Kami masih melakukan identifikasi dan melakukan langkah persuasif dengan pihak PLN rayon pagimana,” kata Sumitro Camat  Pagimana melalui sambungan telepon.

“Dan sampai saat ini pihak PLN Pagimana masih kewalahan dan belum ada jawaban,” imbuh Mitro.

Diketauhi pemadaman terjadi sekitar pukul 21.00 Wita, dan baru kembali menyala pada pukul 22.30 wita. Beberapa jam kemudian menjelang subuh sekitar pukul 05.00 Wita, lampu kembali padam.

Dari pihak panitia sendiri mengaku sangat menyesalkan peristiwa tersebut. Mengingat suplai daya dari PLTA yang berada di Desa Sepa sudah dianggap cukup. “Kenapa listrik tidak maksimal teraliri, ada apa dengan PLN?.” Ungkap salah satu panitia.

Sementara pihak PLN  sudah mengetahui pasti acara FGP dimulai tanggal  10 sampai dengan 22 Pebruari 2018.

“Seharusnya pemadaman sudah dijadwalkan dari kemarin, bukan pada saat acara FGP dan expo berlangsung,” tegas sumber Panitia FGP. (sam/abay)

 

Komentar

#HEADLINE

Bukti Awal Penguasaan Tanjungsari Berdasarkan Jejak Benteng “Kota Mosanda”
GEMPITA DEMOKRASI

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan