NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Publika

Gembar Gembor Media dan Kebenaran Sejati Pemda Banggai

Jum'at, 09 /02/ 2018 12:52:12 756 Pembaca  

Ilustrasi wartawan meliput (Tribunnews)
Ilustrasi wartawan meliput (Tribunnews)

Transsulawesi.com, Banggai -- Hari Pers Nasional yang tepat jatuh pada 9 februari 2018 kali ini kembali dirayakan oleh insan pers dan pekerja di bidang media. Melihat sejarah, kegiatan jurnalistik diawali beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia yang menjadikan kewartawanan sebagai alat perjuangan.

Sebuah artikel singkat yang berjudul “Widodo's Smoke and Mirrors Hide Hard Truths” karya John McBeth mengkritik Presiden Joko Widodo yang menggembar-gemborkan keberhasilan pemerintahnya tanpa ada bukti nyata tentu perlu menjadi salah satu artikel yang menarik untuk dikupas oleh insan pers.

Singkatnya dalam artikel tersebut, sebagian besar proyek atau program pemerintah tidak berjalan dan klaim keberhasilan hanyalah omong kosong.  Artikel yang diterbitkan Asian Times itu menyebut "kebohongan" pemerintah Jokowi didukung oleh media di Indonesia yang cenderung hanya menerima data dan informasi yang diterima oleh "spin doctors" pemerintah tanpa melakukan pengecekan mandiri.

Artikel John McBeth cukup relevan jika disandingkan pada saat ini. Tidak hanya untuk Nasional saja, sistem ini masuk hingga ke ruang bawah seperti Pemerintah Daerah. Karena ruang untuk mengungkap kebenaran oleh media telah tertutup. Celakanya media juga ikut berkontribusi  gembar gembor keberhasilan pemerintah daerah dalam propaganda kebohongan.

Selama tiga tahun media Transsulawesi.com telah berhasil merevolusi menuju ke revolusi media digital. Sejak awal merintis dari titik nol secara mandiri, Transsulawesi.com mencoba menjadi media revolusioner yang dekat dengan masyarakat Banggai , di tengah himpitan keuangan dan fasilitas yang terbatas, niat itu tetap bersama kami.

Sejak awal kami tetap mengutamakan kecepatan, akurasi, dan berita yang berimbang. Menjadi media yang beda itu tentunya penuh dengan banyak konsekuensi yang kami terima.

Akibat yang sering kami terima yakni bagaiman beberapa pejabat pemerintah yang menganggap kami kurang bisa diajak kerja sama, ruang untuk kami bertemu dengan pejabat daerah selalu tertutup. SMS dan komunikasi di sosial media dengan narasumber tidak di sahut. Mungkin kami telah dilabeli dengan kata “musuh”.

Namun kami tetap “On The Track”, karena jika sebuah kebenaran tidak di kritisi dan bahkan sengaja di tutupi oleh media, maka sama saja media menyiapkan “karpet merah” untuk langkah kesewenangan pemerintah daerah.

Menjadi media yang berani itu memang penuh dengan segala resiko, namun pekerjaan sebagai jurnalistik akan menjadi sangat membosankan jika kami hanya bertugas sebagai corong dari narasumber.

Lebih aneh lagi jika kami menjadi corong yang selalu menutupi kebenaran dan menjadi kawanan media yang sering gembar gembor klaim kebohongan pemerintah daerah.

Ketika media masih sering terjebak dalam pusaran tersebut, dengan tujuan dasar sebagai corong pemerintah daerah tentunya pena kita semakin tumpul untuk menulis.

Di tengah perkembangan lajunya invasi digitalisasi, media Transsulawesi.com tetap yakin menjadi terdepan. Karena pada kenyataan bahwa ada perubahan mendasar di dunia media Indonesia. Media digital kini menjadi yang terdepan, menggantikan media cetak yang sudah berada di ujung jalan penghabisan.

Muhajir Badjeber (Redaktur Pelaksana Transsulawesi.com)

 

 

Komentar

#HEADLINE

Uniknya Proses Penyelamatan Hiu Tutul di Sombori
BERITA TERKINI
BERITA PILIHAN

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan