NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

REGIONAL

Pemilik Lahan Ambil Alih Kebun Sawit di KM 6 Bakung

Sabtu, 03 /02/ 2018 19:30:31 1048 Pembaca  

Ilustrasi perkebunan sawit
Ilustrasi perkebunan sawit

Transsulawesi.com, Batui - Kurang lebih hampir seratusan hektar perkebunan Sawit inti plasma PT. Sawindo Cemerlang (Scem) di KM 6, Kelurahan Bakung , Kecamatan Batui, Banggai Sulawesi Tengah dikuasai kembali oleh masing masing pemilik lahan. Penguasaan ini dilakukan dengan menutup akses jalan pengambilan buah dengan berbagai alat rintang.

Ketua Aksi Randianto, SP mengatakan aksi yang dilakukan warga merupakan bentuk kekesalan setelah sekian lama penggunaan lahan oleh perusahaan tidak memberikan hasil bagi pemiliknya, malah kata dia selama ini pemilik lahan hanya bisa menonton pemanenan buah diatas tanah mereka sendiri. “Ini kan lucu, dimana mana perkebunan bisa membagi hasil dari setiap panen, namun tidak demikian dengan perusahaan (Scem) ini”.

Aksi ambil alih ini dilakukan sejak awal pekan lalu, Senin (29/1/2018), sebelumnya sempat dilakukan mediasi antara pemilik lahan dengan perusahaan. Namun, dari rapat yang dilangsungkan tidak ada keputusan yang dihasilkan. “Maka saya dan pemilik lahan lainnya memilih untuk kembali menguasai lahan kami,” tegas lulusan SI pertanian tersebut.

Dari sejumlah tuntutan warga, desakan yang paling kuat adalah permintaan kejelasan status lahan, dimana ada isu bahwa lahan milik mereka yang telah bersertifikat tersebut sudah masuk dalam areal Hak Guna Usaha PT. Scem tanpa sepengetahuan pemilik lahan, “Sehingga kami butuh kejelasan, jangan asal ploating begitu saja. Karena kami punya sertifikat hak milik,” imbuh Randianto yang karib disapa Randi itu.

“Selanjutnya perlu diketauhi, akses jalan yang kami tutup adalah akses panen buah yang berada diatas lahan kami dan bukan milik perusahaan,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan pemerintah daerah agar tidak tergesagesa memberikan izin pembangunan pabrik olahan sawit yang berada di Seseba, Desa Honbola. Mengingat pabrik tersebut nantinya akan menjadi tempat pengolahan buah sawit milik warga, sementara warga sendiri belum memiliki kejelasan status lahan mereka baik itu batas maupun blok plasma yang diakui. “Harapan terbesar kami terkait pabrik mohon pemerintah untuk tidak mengeluarkan izin pendiriannnya, mengingat status agraria belum ada yang jelas. Selesaikan dulu konflik agraria baru berpikir kelanjutannya,” tutup Randi.  

(syf)

 

Komentar

#HEADLINE

PHE dan Medco E&P Indonesia Tandatangani Perjanjian Jual Beli Gas dengan PLN
BERITA TERKINI
BERITA PILIHAN

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan