NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Festival Jatindo Mendapatkan Penolakan Dari Masyarakat Pagimana

Reportase Sabtu, 13 /01/ 2018 13:22:21 1363 Pembaca  

Banyak kalangan mengkritik bahwa Festival Jatindo dalam rangka memperingati hari patriotik 12 februari di lakukan di Jaya Bakti, Tinalapu, dan Dondolan karena tidak mewakili masyarakat Pagimana. (Foto: Facebook Pagimana)
Banyak kalangan mengkritik bahwa Festival Jatindo dalam rangka memperingati hari patriotik 12 februari di lakukan di Jaya Bakti, Tinalapu, dan Dondolan karena tidak mewakili masyarakat Pagimana. (Foto: Facebook Pagimana)

Transsulawesi.com, Pagimana -- Festival  Jayabakti, Tinalapu, dan Dodolan (Jatindo) mendapatkan penolakan dari sejumlah kalangan masyarakat Kecamatan Pagimana. Festival Jatindo sendiri merupakan festival untuk merayakan hari patriotik yang jatuh pada 12 februari dinilai sejumlah kalangan masyarakat yang bertempat di luar pusat Kecamatan Pagimana tidak mewakili semangat masyarakat Pagimana.

Dalam memperingati hari patriotik, tempat sentral untuk memperingati hari tersebut seharusnya terletak di pusat Kecamatan Pagimana karena mengingat momen sejarah Pagimana itu sendiri.

Banyak kalangan mengkritik bahwa Festival Jatindo dalam rangka memperingati hari patriotik 12 februari di lakukan di Jaya Bakti, Tinalapu, dan Dondolan karena tidak mewakili masyarakat Pagimana.

Padahal sebelumnya, pada tahun lalu, peringatan hari Patriotik 2 Februari 2017, Pemerintah Kecamatan Pagimana beserta seluruh masyarakat memperingati Hari Patriotik di Kecamatan Pagimana.

Pada saat itu, Bupati Banggai Ir Herwin Yatim sempat mengatakan bahwa upaya meraih kemerdekaan telah ditunjukkan dengan pengorbanan yang besar seperti yang sudah dilakukan oleh orang terdahulu di Kabupaten Banggai, khususnya pejuang dari Kecamatan Pagimana yang saat itu terbagi atas tiga distrik yakni distrik Mendono ibu kota Pagimana (Lambangan), Distrik Kintom, ibu kota Lobu, dan Distrik Tangkiang ibu kota Bunta.

Pada 17 Februari 1942 silam, pejuang suku Loinang dari Kecamatan Pagimana berhasil merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda di Kota Luwuk. Sehingga setiap tahun, peristiwa bersejarah tersebut rutin dirayakan.

Menurut Mohammad Akbar, festival Jatindo secara esensi tidak mewakili masyarakat pagimana itu sendiri.

“pada initinya kami menolak kegiatan festival JATINDO di Pagimana, Karena nama Jatindo tidak mewakili masyarakat Pagimana secara keseluruhan dan ini yang membuat kami tersinggung”. Ujarnya.

(Mhr/Sam)


 
BERITA TERKINI

#HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan