NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

REGIONAL

Puluhan Warga Kembali Datangi Site PT SCEM. Pemda Diingatkan Tunda Perizinan

Sabtu, 06 /01/ 2018 18:45:18 8637 Pembaca  

Lokasi Perkebunan Sawit
Lokasi Perkebunan Sawit

Transsulawesi.com, Luwuk - Puluhan pemilik lahan plasma kelapa sawit di Batui dan Batui Selatan, Kabupaten Banggai Jumat (5/1/2018) kemarin, kembali mendatangi Kantor Site PT. Sawindo Cemerlang (SCEM) di Batui Selatan untuk meminta kejelasan konversi atas lahan mereka. Para pemilik mengaku masih tanda tanya dengan kebijakan perusahaan yang dinilai merugikan secara sepihak.

Diantara mereka yang ditemui transsulawesi.com mengatakan konversi dengan nilai kredit sebesar 63 juta rupiah telah ditetapkan oleh perusahaan secara mutlak dan seragam. Padahal, dalam penentuan angka kredit selalu memasukan item perongkosan seperti pembukaan lahan, Land Clearing (LC), harga bibit, penanaman sekaligus perawatan.

Item yang paling mencolok pada kebijakan itu adalah, penetapan biaya pembabatan (imas tumbang) dan LC, dimana item itu dimasukan dalam angka kredit, sementara sebagain besar dari lahan warga yang dijadikan plasma sama sekali tidak ada ongkos LC juga biaya pembabatan (Imas Tumbang).

“Bagaimana caranya menghitung ada biaya imas tumbang dan LC, sementara lahan kami bentuknya datar dan sama sekali tak ada biaya penggusuran. Jadi sangat tak adil jika dikatakan ada pengeluaran seperti itu,” ungkap Jafar salah satu pemilik lahan, asal desa Sukamaju I.

Selain itu pula, imbuh Jafar, penetapan angka kredit yang menjadi beban hutang petani (pemilik lahan plasma) tidak pernah diketahui proses pelunasannya. Mengingat bagi hasil yang baru sekali terjadi selama masa satu tahun panen, pemilik hanya dibayar 300 ribu.

“Kalau bagini kapan tanah warga bisa dikonversi menjadi milik sendiri, dengan hutang sebesar 63 juta,” tutur Widyastuti pemilik lahan lainnya, menimpali hal itu.

Pertemuan yang berlangsung tak kurang dari 2 jam itu akhirnya bubar tanpa keputusan,  kedatangan 50 warga (pemilik) itu sempat diterima pihak perusahaan yang di wakili legal department.

Gamangnya persoalan kepemilikan dan bagi hasil buah sawit sudah berlangsung hampir dua tahun lamanya. Selain soal konversi, masyarakat (pemilik) juga menyesalkan dengan cara perusahaan yang membuka lahan mereka tanpa izin.

Bahkan ada ratusan hektar lahan milik warga tidak diakui kepemilikannnya hingga kini.

“Misalnya lahan saya yang ada tanaman cengkeh dan kakao digusur perusahaan tanpa minta izin, ujung ujungnya menurut perusahaan (Sawindo) sudah dibayar ke orang lain,” ungkap Mbah Tulus, warga Sukamaju dengan nada kesal.

Kata dia, lahan yang diambil sepihak perushaan perkebunan tersebut merupakan lahan yang bakal diwariskan pada anak anaknya nanti.

“Mampus kami rakyat kecil kalau begini cara mereka,” imbuhnya.

Secara terpisah, Sarpin salah satu eks Humas dari PT. Sawindo Cemerlang mengungkapkan keprihatinan atas persoalan yang dihadapi masyarakat terhadap kerja PT. Sawindo Cemerlang. Ia pun berharap pemerintah Daerah Kabupaten Banggai agar lebih berhati hati mengambil keputusan dalam hal perizinan atau legalitas lainnnya untuk perusahaan yang satu ini.

“Sebaiknya perizinan yang mereka minta ditunda dulu, karena kondisi belum memungkinkan. Jangan sampai legalitas yang diberikan kepada perusahaan bisa memicu konflik agraria kedepan,” ungkap Sarpin yang pernah bekerja selama 4 tahun di pekebunan tersebut.

Baginya, pemerintah harus detail memeriksa segala dokumen sebelum memberikan keleluasaan PT. Scem dalam kegiatannya.

“Mulai verivikasi HGU (Hak Guna Usaha), yang dengar dengar masyarakat belum tau mana saja batas batasnya, jangan sampai ada warga yang buka lahan ternyata ada dalam HGU. Masalah lagi kan,” tuturnya. (SYF)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan