NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Internasional

Israel Alami Kekeringan Terparah, Ribuan Yahudi Meratap

Jum'at, 29 /12/ 2017 19:37:07 11261 Pembaca  

Umat Yahudi berdoa meminta hujan (Foto: REUTERS/Ronen Zvulun)
Umat Yahudi berdoa meminta hujan (Foto: REUTERS/Ronen Zvulun)

Transsulawesi.com, Yerusalem - Tembok Ratapan yang terletak sebelah barat dinding Masjidil Aqsa di Yerusalem menjadi tempat merepal doa ribuan umat Yahudi untuk meminta hujan. Permohonan doa ini dilakukan menyusul kekeringan yang melanda Israel.

Israel mengalami kekeringan terparah dalam kurun 40 tahun terakhir. Dikutip dari media The Times of Israel, doa minta hujan oleh warga Yahudi di inisiasi Menteri Pertanian Uri Ariel, serta dipimpin oleh beberapa rabbi, termasuk pemimpin rabbi Israel David Lau. Mereka meratap, menangis, meminta air turun dari langit. "Tahun ini menandakan kekeringan lima tahun berturut-turut dan, berdasarkan para ahli, ini musim kering terparah dalam 40 tahun," tulis The Times of Israel.

Dalam lansiran Media Israel ini disebutkan Israel hanya menerima 45 persen curah hujan dari rata-rata curah hujan normal pada September hingga November. Di bulan Desember, Israel hanya diguyur hujan dua kali. Sementara prakiraan cuaca setempat menunjukkan dalam beberapa hari ke depan Israel masih diterpa terik panas matahari. Hujan pun hanya diperkirakan terjadi di bagian utara, itu pun hanya gerimis.

Sedangkan pantauan Sungai Yordania bagian selatan lebih buruk lagi. Pekan ini aliran air sungai menurun menjadi hanya 30 juta kubik meter per tahun, seperempat dari rata-rata.

"Saya menyerukan publik untuk berpartisipasi dalam acara ini di Tevet ke-10. Bawa payung, karena bersama kita akan memaksa pintu langit terbuka," kata Ariel dalam ajakannya untuk doa minta hujan. Tapi hujan tidak juga turun.

Ajakan Ariel ini dipenuhi oleh ribuan umat Yahudi yang meratap di Tembok Barat kompleks Masjidil Aqsa. Dia juga menuai kritik karena dianggap percaya takhayul.

Ariel mengatakan, mereka tidak hanya mengandalkan doa, tapi juga berusaha. Contohnya, Israel mulai melakukan pengeboran untuk mencari air tanah di Dataran Tinggi Golan dan Galilee, membangun tambahan fasilitas desalinasi dan melakukan riset untuk menciptakan tanaman yang tidak butuh terlalu banyak air.

Menurut Ariel, doa minta hujan tidak ada ruginya dilakukan. Ini bukan pelaksanaan doa minta hujan pertama di Israel. Dalam delapan tahun terakhir, para umat Yahudi Israel telah melakukan empat kali doa minta hujan.

Kekeringan ini terjadi di situasi yang kian tegang antara Israel dan Palestina, terutama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Yerusalem adalah ibu kota Israel.

Berbagai aksi demonstrasi menentang klaim Trump itu berujung ricuh di Tepi Barat, Yerusalem, Gaza, dan beberapa wilayah Palestina lainnya. Israel menangkapi dan menembaki warga Palestina, membuat seorang bocah koma. (AL)

 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan