NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Internasional

Eks Presiden Peru Dapat Pengampunan, Massa Gelar Protes

Selasa, 26 /12/ 2017 17:03:09 3049 Pembaca  

Para demonstran berunjuk rasa atas pengampunan eks Presiden Peru Alberto Fujimori. (AP Photo/Martin Mejia)
Para demonstran berunjuk rasa atas pengampunan eks Presiden Peru Alberto Fujimori. (AP Photo/Martin Mejia)

Transsulawesi.com, Lima - Ribuan pengunjuk rasa bentrok dengan aparat keamanan Peru dalam demo untuk memprotes keputusan Presiden Pedro Pablo Kuczynski yang mengampuni eks Presiden Alberto Fujimori.

Kuczynski menyebut bahwa dirinya memberi pengampunan Fujimori, yakni dengan membebaskannya dari penjara dan memindahkan ke rumah sakit, atas alasan kesehatan.

Ia mengaku menyadari adanya gelombang kemarahan atas keputusannya itu. Namun, ia mengatakan bahwa dirinya tak dapat membiarkan membuarkan Alberto Fujimori meninggal di penjara.

"Saya yakin bahwa orang-orang yang menganggap dirinya adalah demokrat tidak mengizinkan Alberto Fujimori meninggal di penjara. Keadilan bukan balas dendam," ujar Kuczynski dikutip dari BBC, Selasa (26/12/2017).

"Keputusan saya sangat kompleks dan sulit, tapi ini keputusan saya, saya tidak bisa hanya menjadi presiden mereka yang memilih saya, saya harus melakukannya untuk semua orang Peru," imbuh dia.

Fujimori, 79 tahun, pada pekan lalu dipindahkan ke rumah sakit karena mengalami tekanan darah rendah dan irama jantung yang tak normal.

Fujimori yang berkuasa dari tahun 1990 hingga 2000, menjalani hukuman 25 tahun penjara atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan korupsi.

Pengampunan yang diberikan oleh Kuczynski terjadi beberapa hari setelah pendukung Fujimori di Kongres membantu Kuczynski untuk menghindari pemakzulan karena dugaan korupsi.

Menurut tuduhan berbagai politisi oposisi, sebagai bentuk balas jasa atas bantuan politik tersebut, Kuczynski berjanji untuk memberikan pengampunan terhadap sang mantan presiden Peru periode 1990 - 2000 itu. Namun, sang presiden membantah tuduhan tersebut.

Sebagai bentuk protes atas pengampunan itu, dua anggota Kongres mengundurkan diri. Mereka adalah Vicente Zeballos dan Alberto de Belaunde.

Sementara itu, pendukung Fujimori merayakan pengampunan itu di luar rumah sakit tempat dia dirawat.

Ia dikagumi sejumlah warga Peru karena upayanya dalam memberantas pemberontak Maois. Namun, para pengkritiknya menganggap bahwa ia adala diktator korup.

Pada 2007, Fujimori dijatuhi hukuman enam tahun penjara karena kasus suap dan penyalahgunaan kekuasaan.

Dua tahun kemudian, yakni 2009, dijatuhi hukuman 25 tahun penjara karena pelanggaran hak asasi manusia saat ia masih menjabat sebagai presiden. Ia juga mengizinkan pembunuhan yang dilakukan oleh "death squad" atau pasukan kematian.

Fujimori sempat membuat Peru berada dalam kesulitan besar saat ia menerapkan program radikal berupa reformasi pasar bebas, di mana peran negara berkurang di hampir semua bidang ekonomi.

Meski demikian, ia berhasil mengakhiri hiperinflasi yang merajalela dan membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di paruh kedua tahun 1990-an.

Fujimori juga menghentikan pemberontak sayap kiri yang aksinya telah menyebabkan ribuan kematian dalam 10 tahun. Namun, ia mengkau tak pernah menyetujui perang kotor terhadap pemberontak. (SYF)

BBC / Liputan6

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan