NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Internasional

Kali Pertama Perayaan Natal digelar di Mosul, Irak Pasca Kekalahan ISIS

Senin, 25 /12/ 2017 03:16:21 2987 Pembaca  

Jemaat saling berjabat tangan usai mengikuti Misa Malam Natal di Mosul./ AMAR SALIH/EPA
Jemaat saling berjabat tangan usai mengikuti Misa Malam Natal di Mosul./ AMAR SALIH/EPA

Transsulawesi.com, Mosul - Kali pertama dalam beberapa tahun terakhir, pemeluk Kristen di kota Mosul, Irak, dapat merayakan Natal menyusul kekalahan kelompok yang menyebut diri Negara Islam (ISIS).

Ketika masih dibawah kekuasaan ISIS, kegiatan keagamaan Kristen nyaris tidak pernah dilaksanakan secara terbuka. Mengingat hal itu adalah tindakan yang berbahaya.

Sehingga tidak sedikit pemeluk Kristen yang melarikan diri dari Mosul. Disebutkan ISIS juga tak segan-segan memaksa warga Kristen masuk ke Islam, membayar pajak atau dibunuh.

Namun kondisi kini berubah kekalahan ISIS di Mosul, Juli lalu. Dilansir dari BBC, Pemimpin Gereja Katolik Khaldea Irak, Louis Raphael Sako memimpin Misa Malam Natal di Katedral Santo Paulus, Minggu (24/12).

Kepada media itu, ia mengatakan suatu keajaiban kini situasi memungkinkan bagi pemeluk Kristen dan Islam berdoa bersama-sama untuk memohon perdamaian.

Dalam misa, Pater Louis Raphael Sako menyerukan kepada puluhan jemaat yang hadir untuk mendoakan perwujudan perdamaian di Mosul dan di dunia.

"Pesan kami adalah pesan perdamaian. Yesus adalah pembawa perdamaian di Bumi, dan perdamaian ini merupakan tuntutan orang Kristen dan Muslim dan tuntutan setiap manusia. Tanpa perdamaian, tak ada kehidupan," katanya.

"Pesan kami adalah setelah semuanya yang telah terjadi, setelah kemenangan besar yang kita capai melawan kelompok yaang menamakan diri Negara Islam dan kelompok-kelompok lain, kita semua harus memohon perdamaian, pertama-tama di relung hati kita masing-masing, sampai tercermin di luar hati," tambahnya.

Pater Louis Raphael Sako berharap warga Irak yang beragama Kristen, yang sebelumnya menyelamatkan diri dari persekusi ISIS, akan bisa kembali ke rumah-rumah mereka.

Selama perayaan Natal, aparat keamanan berjaga-jaga di luar gereja. Kendaraan lapis baja disiagakan di halaman Katedral Santo Paulus. Seakan mengingatkan bahwa gereja tersebut pernah menjadi sasaran serangan ISIS, kain putih digunakan untuk menutupi jendela yang rusak karena bom.

Sejumlah warga Muslim turut hadir dalam perayaan Natal di gereja, seperti Iman Khader.

"Kami dari komunitas Muslim dan hari ini kami sama-sama merayakan kesempatan meriah ini bersama saudara-saudara Kristen di Provinsi Nineveh dan di kota Mosul. Kami berbagi kebahagiaan dengan mereka. Dan saya berharap saudara-saudara kami dari komunitas Kristen yang mengungsi ke luar dari Irak akan kembali ke Mosul karena kami semua bersaudara dan kami bersatu."

Harapan positif juga disuarakan oleh Hossam Qahwaji dari komunitas Kristen di Mosul.

"Saya menyampaikan terima kasih kepada saudara-saudara Muslim dan Kristen, anak-anak muda yang membangun kembali gereja ini. Kami sebagai umat Kristiani mengharapkan mereka membangun kembali masjid-masjid," ungkapnya.

Katedral Santo Paulus tercatat sebagai satu-satunya gereja yang masih berfungsi di Mosul, dan bisa digunakan lagi berkat bantuan para relawan, lapor kantor berita AFP.

Sebelum kekuasaan ISIS tahun 2014, sejumlah pemimpin gereja memperkirakan pemeluk Kristen di Mosul mencapai 35.000 orang.

Perang selama tiga tahun melawan ISIS di Irak dinyatakan berhasil oleh Perdana Menteri Haider al-Abadi awal bulan ini.

Dikatakannya, pasukan militer Irak telah berhasil menguasai secara penuh perbatasan Irak-Suriah.

Sejumlah wilayah di perbatasan kedua negara itu merupakan wilayah terakhir yang dikuasai ISIS.

 

(SYF)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan