NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Sekian Lama Akhirnya Tambang Emas Pobaya Resmi Ditutup

Metro Sulawesi Minggu, 24 /12/ 2017 02:07:41 573 Pembaca  

Sejumlah warga duduk di sekitar rumahnya yang porak-poranda akibat banjir bandang di area pertambangan emas di Kelurahan Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (26/8). ANTARA/Basri Marzuki
Sejumlah warga duduk di sekitar rumahnya yang porak-poranda akibat banjir bandang di area pertambangan emas di Kelurahan Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (26/8). ANTARA/Basri Marzuki

Transsulawesi.com, Palu - Komitemen menutup aktivitas perusahaan yang menambang emas secara ilegal di lokasi pertambangan rakyat Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) akhirnya terealisasi pada Sabtu (23/12/2017) sore kemarin. Inspeksi penutupan langsung dipimpin Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Polisi Rudy Sufahriadi.

“Saya tadi naik ke atas (Poboya) memimpin melakukan penindakan terhadap tambang ilegal disana,” kata Rudy, kutip media setempat.

Menurut Kapolda Rudy Sufahriadi, aktivitas tambang Poboya dihentikan setelah ditemukan masih adanya warga yang menggunakan bahan kimia berbahaya jenis mercuri.

Sebelumnya isu rencana penutupan ini sudah di dengungkan sejak bulan Maret 2017 lalu oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan . Bahkan saat itu,  Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola angkat bicara.

Kata Longki, para penambang tradisional akan dimodali untuk beralih kerja menjadi petani kakao, cengkeh, dan kopi. “Setiap tahun kami mengekspor biji cokelat sebanyak 160 ribu ton. Tinggal dikembangkan agar sama menariknya seperti emas,” kata Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola, seperti diberitakan Koran Tempo edisi Selasa, 14 Maret 2017. Setidaknya, 35 ribu orang akan terkena dampak penutupan Tambang Poboya.

Sebenarnya, kata Longki, para penambang emas Poboya awalnya bekerja sebagai petani. Sekitar tujuh tahun lalu, mereka mulai beralih kerja menambang emas untuk perusahaan yang beroperasi secara ilegal di sana.

“Kami sejak awal tidak berwenang menutup karena ini ranahnya pemerintah pusat,” katanya. Alasannya, kata Longki, Kementerian Kehutananlah yang memberikan izin tambang kontrak karya di Poboya kepada sebuah perusahaan swasta pada 1997 seluas 30 ribu hektare.

Belakangan, empat perusahaan lain merambah lahan emas Poboya sejak 2010 secara ilegal. Empat perusahaan itu mempekerjakan penduduk setempat untuk mengolah emas menggunakan merkuri. “Kami sepakat sudah tutup, tidak ada kompromi lagi,” kata Longki.

Dari informasi yang dihimpun, lokasi tambang emas Poboya berada dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura), dan masuk dalam areal kontrak karya milik PT Citra Palu Mineral (CPM). Kawasan Tahura merupakan salah satu kawasan pelestarian alam di Sulteng yang dibentuk dari gabungan tiga fungsi hutan, yaitu Cagar Alam Poboya, Hutan Lindung Paneki, dan eks lokasi Pekan Penghijauan Nasional (PPN) XXX.

Sejak kegiatan pertambangan dilakukan, kerusakan lingkungan yang ditimbulkan sudah sangat besar dan mengancam keberadaan kawasan hutan seluas 7.128 Ha itu.

Bahkan Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Karliansyah, pernah menjelaskan, Tambang Poboya merupakan yang paling darurat pencemaran merkuri dibanding ratusan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) lain di seluruh Indonesia. Perusahaan tambang ilegal di kawasan itu mempekerjakan masyarakat setempat untuk mengolah emas dengan menggunakan merkuri dalam skala besar. Merkuri berfungsi memisahkan butiran emas dari tanah dan kerikil.

Akibatnya, kadar merkuri di lahan terbuka dan lahan pertanian milik penduduk mencapai 1,26 hingga 55,23 part per million (ppm) dibanding baku mutu 0,58 ppm. Adapun kandungan merkuri di sampel rambut penduduk setempat mencapai 13 kali lipat dibanding baku mutu. Dalam jangka panjang, tingginya kandungan merkuri bisa menyebabkan gangguan saraf dan menurunkan kecerdasan bayi.

 

(RN)


 

#HEADLINE

Kuasa Hukum Ny. Berkah Al Bakar Minta Eksekusi di Tanjung Dilanjutkan
BERITA TERKINI
BERITA PILIHAN

Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan