NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Internasional

Militer Myanmar Temukan Kuburan Massal di Daerah Konflik

Selasa, 19 /12/ 2017 04:22:29 1028 Pembaca  

Etnis Rohingya menyalatkan mayat seorang bocah, beberapa waktu lalu. Milter Myanmar menemukan kuburan massal di daerah rawan kekerasan. (Foto: Reuters)
Etnis Rohingya menyalatkan mayat seorang bocah, beberapa waktu lalu. Milter Myanmar menemukan kuburan massal di daerah rawan kekerasan. (Foto: Reuters)

Myanmar - Tentara Myanmar mengatakan, pasukan keamanan menemukan kuburan massal di sebuah desa di Negara Bagian Rakhine. Penyelidikan pun telah dilakukan.

Panglima militer Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, melalui pernyataan yang diunggah di laman Facebook milter Myanmar, pada hari Senin (18/12), mengatakan, temuan kuburan massal itu bermula dari laporan seorang sumber yang enggan diungkap identititasnya tentang adanya penguburan orang-orang yang dibunuh.

Penyelidikan pendahuluan kemudian dilakukan oleh pasukan keamanan. Hasilnya, ada temuan mayat-mayat tak dikenal di desa Inn Din, sekitar 50 km di sebelah utara ibukota Myanmar, Sittwe. Namun, pernyataan ini tak mengungkap jumlah mayat yang ditemukan.

"Sebagai hasil penyelidikan, mayat-mayat tak dikenal ditemukan di pemakaman Desa Inn Din. Penyelidikan terperinci sedang dilakukan untuk mencari kebenaran," menurut pernyataan dalam akun Facebook yang seringkali memuat pernyataan resmi militer Myanmar tersebut, seperti dikutip dari Reuters.

Diketahui, Myanmar tengah disorot dunia akibat tindakan keras oleh aparat keamanan dalam merespon serangan militan di negara tersebut. Penduduk etnis Rohingya menjadi yang paling terdampak. Sekitar 650.000 Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh dalam beberapa bulan terakhir. Laporan lainnya menyebutkan adanya pembantaian etnis ini oleh militer.

Saat dihubungi Reuters, juru bicara militer Kolonel Myat Min Oo menolak memberikan rincian lebih lanjut soal kuburan massal itu.
 

Desa Inn Din berada di wilayah Maungdaw, yang merupakan salah satu daerah yang paling parah terkena dampak kekerasan dalam operasi militer. Mulanya, militan Rohingya menyerang 30 pos polisi dan sebuah pangkalan militer, pada 25 Agustus. Pasukan bersenjata Myanmar kemudian meluncurkan operasi di Rakhine utara, di mana banyak minoritas Muslim yang tidak memiliki kewarganegaraan tinggal.

Etnis Rohingya pun menjadi yang paling terdampak akibat operasi ini. Pejabat tinggi hak asasi manusia PBB pun menuduh pasukan keamanan Myanmar telah melakukan genosida terhadap etnis Rohingya dengan beragam kekejaman. Diantaranya, pembunuhan, pemerkosaan massal, dan pembakaran.

Militer Myanmar mengatakan, hasil penyelidikan internalnya terhadap tuduhan itu adalah membebaskan pasukan keamanan dari semua tuduhan.

Pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi, yang tengah menghadapi kritik internasional karena dianggap gagal berbuat banyak untuk melindungi Rohingya, mengatakan bahwa operasi tentara tersebut sah. Ia berjanji untuk menyelidiki tuduhan pelanggaran di Rakhine jika ada bukti. (arh/arh)

CNN INDONESIA
 

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan