NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Internasional

Marak Pelecehan, Australia Minta Pastor Dibolehkan Menikah

Jum'at, 15 /12/ 2017 22:51:38 1245 Pembaca  

Australia meminta Gereja Katolik untuk membolehkan pastor menikah. (Reuters/Tony Gentile)
Australia meminta Gereja Katolik untuk membolehkan pastor menikah. (Reuters/Tony Gentile)

Transsulawesi.com, Australia  - Salah satu komisi negara Australia mengajukan serangakaian rekomendasi kepada Gereja Katolik untuk menghindari pelecehan seksual anak di institusi keagamaan tersebut, salah satunya menghentikan kewajiban hidup selibat atau tidak menikah bagi para pastor.

Dalam laporan akhirnya yang dirilis hari ini, Jumat (15/12), Komisi Respons Institusi terhadap Pelecehan Seksual Anak Australia menuliskan bahwa Takhta Suci Vatikan harus harus mempertimbangkan risiko pelecehan terhadap anak yang berkaitan dengan aturan selibat dalam kehidupan religi.

"Ini harus mencakup pertimbangan apakah model kehidupan keagamaan dapat dimodifikasi untuk memfasilitasi bentuk lain dari asosiasi, jangka yang lebih pendek untuk komitmen selibat, dan/atau kehidupan selibat secara sukarela," demikian bunyi salah satu rekomendasi tersebut.

Rekomendasi ini merupakan salah satu dari 189 saran untuk mengatasi yang disebut oleh komisi tersebut sebagai "kegagalan serius" dari institusi Australia untuk melindungi warga paling rentan di negaranya, anak-anak.

 

Menurut komisi itu, anak-anak menjadi korban pelecehan seksual di berbagai instansi di Australia, termasuk organisasi keagamaan.

Dari para korban kekerasan seksual di instansi keagamaan yang diwawancarai komisi tersebut, 61,4 persen di antaranya mengatakan bahwa pelecehan itu terjadi di organisasi Katolik.

Komisi itu pun menyumbangkan sekitar 20 dari 189 rekomendasi tersebut bagi Gereja Katolik. Selain mengenai hidup selibat, rekomendasi tersebut mencakup terkait protokol penyaringan pastor dan kewajiban untuk melaporkan pengakuan keagamaan.

"Yang sekarang perlu dilakukan oleh para pemimpin Gereja adalah menanggapi dengan serius rekomendasi dan temuan ini dan mereka mau bertindak untuk mengatasi temuan ini," tulis komisi tersebut.

Salah satu temuan terbesar tersebut dilansir pada Februari lalu, yaitu fakta bahwa tujuh persen dari pastor Gereja Katolik di Australia diduga melakukan pelecehan seksual di dalam institusi keagamaan.

Sejumlah tokoh penting Katolik di Australia sudah meminta maaf atas temuan ini. Namun, Uskup Agung Melbourne, Denis Hart, mengatakan bahwa temuan dan rekomendasi ini masih harus dikaji dan dipelajari.

Menanggapi rekomendasi terkait hidup selibat, Hart hanya mengatakan, "Kami mengetahui bahwa institusi yang memiliki pastor selibat dan institusi yang tidak memiliki anggota selibat juga menghadapi masalah yang sama. Kami mengetahui bahwa ini juga terjadi di keluarga-keluarga yang tidak mempraktikkan hidup selibat."

Kasus pelecehan seksual para pastor terhadap anak binaannya yang sudah terjadi selama puluhan tahun ini pertama kali diungkap secara publik melalui laporan Boston Globe pada 2002.

Saat itu, Keuskupan Boston dilaporkan memindahkan para pendeta pelaku pelecehan ke berbagai tempat untuk melindungi mereka dan menutupi kasus itu. Sejak saat itu, ratusan korban dan skandal terungkap di AS dan berbagai negara, penyelidikan global juga dimulai.

Konferensi Uskup Katolik AS memperkirakan Keuskupan Amerika telah merogoh kocek hampir US$4 miliar sejak tahun 1950 untuk menyelesaikan kasus pelecehan dengan para korban.

Laporan Boston Globe yang memenangkan Penghargaan Pulitzer itu menginspirasi film peraih Academy Awards, "Spotlight." (has/nat)

CNN INDONESIA

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan