NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Polemik Adat di Tano Batui, Dari Titah Bosanyo Hingga Penetapan Hari Jadi

Metro Banggai Rabu, 06 /12/ 2017 03:03:34 521 Pembaca  

Transsulawesi.com, Batui - Mula kekisruhan antar pemuka adat Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah menguat ketika kelompok lembaga adat  dan perangkat yang tidak lagi sejalan dalam berbagai kegiatan. Puncaknya, ketika proses ritual pengantaran tumpe pada Sabtu, 2 Desember 2017.

Merasa tidak dilibatkan penuh dalam prosesi pelaksanaan ritual, membuat Bosanyo Langkoyang menyatakan sikap tegasnya.

Bosanyo Langkoyang yang dalam presepsi umum seperti halnya Ibu Suri, secara mutlak memiliki kebijakan penuh terhadap adat batui. Titah dan kebijakannya pun adalah absolut.

Melalui pengeras suara Bosanyo Langkoyang yang kini dijabat Hj. Zaenabu menyesalkan prosesi yang dilakukan tanpa saling koordinasi.

“Saya liat semua berjalan sendiri sendiri (baca: posi posi), kalau sudah tidak bersatu maka lebih baik hentikan,”  Ungkap Hj. Zaenabu dihadapan tamu undangan.

Menurut sejumlah sumber yang dekat dengan perangkat adat “babosanyo Batui” Kerisihan bosanyo langkoyang lebih awal sudah tampak ketika dihelatnya deklarasi penetapan hari jadi Batui yang ke - 710 hingga kemudian pelaksanaan Festival yang mencatut “Tumpe” dalam penamaannya.

“Boli mombau bau, le hanyo Le, nyo, ku sumpa akon” jangan membuat buat jika tidak memiliki garis keturunan, saya sumpahi, ungkap sumber mengutip titah Hj. Zaenabu dalam bahasa lokal.

Tetang Nabu sebutan keseharian Hj. Zaenabu, menilai jika dilakukan terus dilakukan pembiaran maka hal itu menggeser makna ritual adat tumpe itu sendiri.

Kisruh dilingkup adat Batui sudah terasa sejalk awal 2017, Dimana isu jabatan Bosanyo hendak dikembalikan pada pemerintah kecamatan sempat. Tapi oleh banyak pihak hal itu sangat mustahil, mengingat upaya perubahan tersebut dinilai bisa menghilangkan khazanah kekayaan budaya lokal.

“Baguslah kalau camat Batui adalah putra asli batui yang memiliki genetik pewaris tahta, tapi jika kemudian hari yang menjadi camat  adalah etnis jawa atau bali. Apakah mungkin serta merta bisa menjadi bosanyo,” tutur Ketua Generasi Muda Adat Batui, Ulan Gustian, baru baru ini.

Jika tetap dipaksakan, tentu bisa menggerus esensi adat batui itu sendiri.

Karena bagaimanapun, imbuh Ulan, upaya merubah keaslian perangkat  merupakan pola pemberangusan adat leluhur yang sejak lama dijaga secara turun temurun.

Penetapan Hari Jadi Batui

Selanjutnya mengenai penetapan hari jadi, sepekan sebelum pelaksanaan ritual tumpe, telah digelar deklarasi hari jadi Batui yang ke-710, cukup meriah, bahkan ratusan undangan hadir dimalam itu.

Tapi sayang, penetapan hari jadi ini kemudian menjadi peredebatan dilingkup akademisi dan pemerhati budaya setempat. Pasalnya, dalam penentuan hari lahir Batui para tokoh pemrakarsa terkesan hanya mencomot dari penuturan "konon kabarnya" lagi tanpa kajian empirik . 

Dari gagasan awal, kesimpulan rapat seba penetapan hari jadi Batui ditandai dengan kehadiran ulama besar asal Timur Tengah, yakni Syeh Abdul Djabar. Tokoh  ini sendiri berasal dari Hadramaut, dan para pemrakarsa menyimpulkan Syeh Djabar menginjakan kakinya pertama kali di "Tano Batui" sekitar tahun 1300-an Masehi atau bertepatan dengan berkobarnya perang dunia pertama atau dikenal dengan perang salib.

Atau bisa pula kedatangan sang guru Syeh Djabar dalam penyebaran Islam di Batui tergolong lebih tua satu abad dari penyebaran islam di Pulau Jawa, yang dibawa oleh sembilan wali (Wali Songo) di sekitar 1400 M.

Inilah kemudian melahirkan antitesa jika hal tersebut tidak masuk akal, memang untuk menggali sejarah Batui tidaklah mudah karena minimnya sumber data primer berupa artefak maupun bukti fisik lain, namun jika kemudian diukur dengan alternatif pertimbangan perolehan data sekunder, seperti merunut tutur para tetuah serta relevansi waktu penyebaran islam (Nusantara), maka penetapan hari jadi Batui dengan ditandainya kedatangan Syeh Djabar menyebarkan Islam era itu tidaklah logis.

(IRF)

Ikuti artikel ulasan berikutnya


 
BERITA TERKINI

#HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan