NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Pelarian 5 Gadis Manado dari Kafe Serui 'So Tobat'

Peristiwa Rabu, 06 /12/ 2017 02:50:15 939 Pembaca  

Perdagangan manusia. Ilustrasi
Perdagangan manusia. Ilustrasi

Transsulawesi.com, Manado - Lima gadis asal Kecamatan Malalayang, Manado, Sulawesi Utara diduga menjadi korban perdagangan manusia. Iming -iming gaji besar dan hidup enak, bekerja, sebagai pemandu lagu di Papua ternyata kenyataan pahit yang meraka dapatkan.

Kelima gadis malang itu, ternyata masih belia Rata-rata usia mereka 15–17 tahun dan masih bersekolah. Kelimanya adalah Tasya (16), Wulan (15), Ika (16), Elsa (17), dan Hana (17). Semuanya adalah warga Kecamatan Malalayang, Kota Manado.

Mereka mengaku sudah sebulan berada di Kota Serui, Kabupaten Yapen, Provinsi Papua. Keberangkatan mereka pun tidak diketahui oleh orangtua masing-masing.

"Kami berangkat diam-diam, nanti sudah sampai baru beritahukan kepada orangtua," kata Tasya di Kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sulut, Minggu, 3 Desember 2017.

Mereka memilih berangkat ke Papua, karena diiming-iming gaji besar. Di sana, mereka dipekerjakan di dua kafe malam.

Tapi, ternyata janji itu berbeda dengan kenyataan. Karena mereka hanya digaji Rp 500 ribu per bulan. Pendapatan lain pun hanya didapatkan dari banyaknya minuman tamu yang dilayani dan tip.

"So tobat (sudah kapok), pengalaman buruk ternyata yang kami rasakan," ujar Tasya.

Lima gadis yang diduga menjadi korban perdagangan manusia di Serui, Papua, berhasil dipulangkan kembali ke Manado, Sulawesi Utara, Minggu, 3 Desember 2017.

Kelima gadis itu tiba di Bandara Sam Ratulangi, pukul 14.43 Wita. Mereka menumpang pesawat Garuda dengan nomor penerbangan G471 dari Sorong ke Manado.

(RN)


 
BERITA TERKINI

#HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan