NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Titah Bosanyo Langkoyang, Hentikan Ritual Tumpe Jika Itu Sumber Perpecahan

Metro Banggai Senin, 04 /12/ 2017 02:10:48 3309 Pembaca  

Foto: Irfan Monoarfa / transsulawesi.com
Foto: Irfan Monoarfa / transsulawesi.com

Transsulawesi.com, Batui - Para perangkat adat di wilayah Batui, Kabupaten Banggai resah oleh gencarnya acara seremonial pariwisata serta kuatnya nuansa politik dalam setiap pelaksanaan ritual adat oleh warga setempat.

Seperti pelaksanaan ritual pengantaran telur maleo atau tumpe yang seharusnya turut mengangkat kebudayaan dan adat justru menggeser makna ritual adat itu sendiri.

Hal itu mengemuka saat detik detik pelaksanaan pengantaran telur maleo di rumah adat (kabasaran) di Kelurahan Tolando, Sabtu 2 Desember 2017.

Kuatnya aroma politik dalam pelaksanaan ritual tumpe, ini ditanggapi pemangku adat tertingi yang bergelar Bosanyo Langkoyang, adalah awal perpecahan masyarakat adat Batui.

Dalam pengantar kata dengan berbahasa lokal, Bosanyo Langkoyang, Hj. Zaenabu mengultimatum jika pelaksanaan ritual tumpe hanya dilakukan sepihak (lembaga adat) tanpa melibatkan perangkat yang justru sebagai pewaris, maka sebaiknya ritual tumpe dihentikan untuk selamanya.

“Kalau bukan Le (turunan) jangan dibuat dibuat,” tegas Hj. Zaenabu atau Tetang Nabu dalam panggilan kesehariannya.

Menurutnya, pelaksanaan ritual tahun 2017 ini berjalan tanpa saling kordinasi, dan itu sangat menyinggung para leluhur, sekaligus sangat tidak dibenarkan seperti yang sudah diamanahkan jauh sebelumnya.

“Saya liat semua berjalan sendiri sendiri (baca: posi posi), kalau sudah tidak bersatu maka lebih baik hentikan,” ungkapnya disertai sumpah serapah.

Mendadak ratusan pelaku adat baik yang berada didalam rumah adat maupun dihalaman langsung menangis, bahkan sebagian dari mereka mendadak ‘Totembang’ atau kedatangan arwah leluhur.

Menurut sejumlah sumber yang hadir mereka para warga yang Totembang sudah dimasuki roh para leluhur  ‘Tano’ (Tanah) Batui. “ Mereka sedih dengan ungkapan Hj. Zaenabu yang tidak biasa itu, sehingga para leluhur turut sedih. Dan apa yang diucapkan Bosanyo Langkoyang sangatlah benar,” tutur sumber yang juga merupakan warga adat setempat.

Acara yang dihadiri pula Wakil Bupati Banggai, H. Mustar Labolo itu pun kemudian sempat terhenti, padahal para penjemput telur berpakaian warna merah sudah berada dalam rumah adat. Bosanyo Langkoyang yang duduk di tempat ‘Kabasaran’ berulang  berulang memberikan peringatan dihadapan para pengurus Lembaga adat maupun para perangkat adat.

“Janganlah kalian terpecah belah, karena semua jelas dalam garis darah siapa yang berhak melakukan ritual tumpe,” tegasnya.

Memang oleh banyak sumber versi perangkat adat, dalam dua tahun terakhir, nilai kesakralan ritual tumpe sering terabaikan akibat nuansa politik yang kuat.

Selain karena upacara adat dominan dihadiri pejabat pemerintah. Lebih parah lagi tidak ada pengatur tata tertib siapa saja yang bisa naik rumah adat ketika proses ritual, justru pantauan transsulawesi.com, banyak fotografer atau warga yang naik sekedar selfi.

Ada masukan dari sejumlah pemuka maupun pemerhati adat, seharusnya Lembaga adat, termasuk pemerintah permisi pada para perangkat, jika ingin ikut serta dalam pelaksanaan adat, karena dalam hal ritual adat, perangkatlah yang mempunyai kewenangan penuh.

Bahkan kata mereka, harus ada kesepakatan, bahwa harus ada batas yang jelas intervensi pemerintah dalam adat. Karena jika dibarkan berlarut larut maka bisa merusak esensi ritual yang menjadi tradisi masyarakat.

Bagi sejumlah masyarakat, menanggapi polemik pelaksanaan maupun pembagian tugas dalam pelaksanaan pengantaran “Tumpe” sudah cukup lama terjadi. Baik itu ditingkat perangkat adat, maupun lembaga adat yang terbentuk sekitar tahun 2004.

Faisal Lahadji masyarakat Batui mengaku sangat menyayangkan terjadinya perdebatan didalam rumah adat antara perangkat dan pengurus lembaga, “dan padahal itu tidak pelu terjadi lagi,” ungkapnya.

Sehingga menurutnya, perlu ada kelompok pemersatu yang bisa menghubungkan antara para perangkat adat dan lembaga adat itu sendiri, “mengingat secara perorangan semua memiliki garis kekeluargaan yang sama. Tepatnya satu rumpun,” imbuh Faisal.

“Untuk itu, semua kita butuh mentor, selain bisa memersatukan, namun juga yang paham dengan esensi tatanan adat serta wawasan dalam aspek antropologi kesejarahan adat batui itu sendiri,” jelasnya.

Karena adat Batui yang ada saat ini, merupakan khazanah budaya yang ada dan perlu dilestarikan. Mengingat adat adalah sebuah idetintas komunal yang sampai kapanpun harus tetap tejaga keasliannya.

“Agar semua bisa berjalan dengan baik, maka saran saya harus ada ruang kerja masing masing, mana yang boleh dilaksanakan lembaga adat, mana yang boleh dibuat perangkat adat. Dengan demikian, esensi adat budaya hingga nilai kesakralan ritual tidak akan ikut hilang,” pungkas Faisal.

(IRF)

BACA JUGA : Kerusakan Habitat: Maleo Bertelur Di Tumpukan Pasir Halaman Rumah Warga


 
BERITA TERKINI

#HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan