NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Petani Plasma Sawindo Cemerlang Meradang

Reportase Sabtu, 25 /11/ 2017 01:50:07 1739 Pembaca  

ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
ANTARA FOTO/Budi Candra Setya

Transsulawesi.com, Batui - Kerjasama perkebunan kelapa sawit dengan sistem plasma seharusnya membawa keuntungan besar bagi masyarakat Kecamatan  Batui dan Batui Selatan, Kabupaten Banggai, namun faktanya pihak perkebunan dinilai masih sering merugikan para petani.

“Jujur saja saya pribadi menolak dengan sistim yang diterapkan perusahaan PT. SCEM (Sawindo Cemerlang),” ujar Jafar salah seorang pemilik lahan plasma di Desa Sukamaju I, Batui Selatan.

Sejauh ini PT. Sawindo Cemerlang tuding Jafar terkesan menghindari kompromi dengan petani, bahkan ia pernah dilaporkan ke Kantor Polisi oleh pihak perkebunan hanya karena ikut melakukan aksi protes.

“Padahal waktu itu saya cuma mau memagari kebun, tapi seolah mereka adalah pemilik lahan yang asli, sementara kesepakatan pembagian hasil plasma belum ada pula,” keluh Jafar.

Selanjutnya mengenai surat perjanjian yang mereka terbitkan belum lama ini, ia menilai sama sekali tidak memberi keuntungan kepada petani.

“Saya prihatin dengan rekan rekan (petani) lain yang menyepakati perjanjian pembagian hasil itu, yang akhirnya hanya dihargai 300 ribu bahkan kurang dari nominal tersebut untuk setiap hektarnya. Itupun tanpa kejelasan waktu bayar apakah setiap bulan atau setiap enam bulan sekali. Dan sekarang mereka menyesal,” imbuhnya.

Dan Ia mengaku belum bisa menerima hasil bayar buah yang rendah tersebut, karena belum mau menandatangani perjanjian. Penolakan Jafar beralasan, baginya isi dalam surat perjanjian hanya menguntungkan sepihak saja.

Keluhan yang sama juga datang dari petani plasma lainnya, Mudjiono, dirinya mengaku sangat khawatir dengan pola plasma serta tindakan main lapor.

“Dikit dikit lapor polisi,” kata dia.

Sehingga saat ini banyak petani yang memilih bungkam, termasuk dirinya, aku Mudji.

“Padahal seharusnya semua tau, sebelum dijadikan plasma, tanah kami adalah tanah produktif, bukan tanah hutan yang dibabat perusahaan terus kami dapat bagian. Sama sekali bukan,” tuturnya.

Memang diakui banyak pihak, lahan yang kini dijadikan plasma oleh perkebunan sawit, sebelumnya adalah tanah perkebunan warga yang sudah tertanami kakao, cengkeh dan tanaman produktif lainnya. Dan sama sekali bukan lahan bongkaran kelompok.

“Jadi jangan heran jika kami meminta sedikit hitungan yang masuk akal yang bisa menggantikan kerugian atas tanah kebun yang telah dijadikan plasma.” Pungkasnya.

(IRF/SF)

BACA :  Walhi Sulteng Minta Bupati Banggai Evaluasi Kepala Dinas TPHP Terkait Informasi Publik


 
BERITA TERKINI

#HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan