NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Gaduh Pergantian Kepala Unit Hemodialisa di RSD Luwuk

Metro Banggai Selasa, 14 /11/ 2017 22:04:23 8824 Pembaca  

Ilustrasi Penyedia Layanan Hemodialisa atau layanan Cuci darah. FOTO. Google.com
Ilustrasi Penyedia Layanan Hemodialisa atau layanan Cuci darah. FOTO. Google.com

Transsulawesi.com, Luwuk - Desas desus keputusan Kepala Badan Rumah Sakit Daerah Luwuk, dr. H. NHD. Gunawan Nurdin, M.Kes. mengganti posisi kepala kegiatan di Unit Hemodialisa di BRSD dari dr. Ernita kamindang  kepada dr. Agus Salim, sp.PD perlu di pertimbangkan kembali. Pasalnya, unit Hemodialisa di RSD Luwuk masih sangat membutuhkan tenaga professional juga memiliki sertifikasi HD.

Selentingan terkait ganti posisi sebelumnya diperkuat dengan surat pergantian dengan hormat oleh Kepala Badan Rumah Sakit kepada dr. Ernita Kamindang seperti yang diterima transsulawesi.com, baru baru ini.

Surat pergantian pun di tembuskan ke Bupati Banggai, serta internal Pengawas BLUD BRSD dan berlaku pada bulan Nopember 2017.

Untuk diketauhi Unit Hemodialisa (HD) diperuntukkan bagi penderita gagal ginjal, dalam hal ini unit cuci darah. Tak mengherankan bila rumah sakit ternama sangat hati-hati memberikan tanggung jawab kepada pelaksana, mengingat unit Unit Hemodialisa harus didukung kerjasama tim yang beranggotakan dokter yang bersertifikat HD, serta dokter penyakit dalam, dokter nefrologi, juga perawat yang terampil, mahir dan sebaiknya bersertifikat pula.

Selain itu, unit ini sebaiknya dilengkapi dengan fasilitas pemeriksaan penunjang seperti; Pemeriksaan fungsi hati, Kadar ureum, Elektrolit Kalsium dan fosfat pada serum, Hitung sel darah merah, juga alat Rekam jantung (EKG).

Salah satu pasien yang dalam jadwal cuci darah ketika ditemui Transsulawesi.com menyangkan jika hal itu sampai terjadi, karena menurutnya jika kepala ruang perwatannya diganti dengan tenaga yang tak tepat tentu bisa menimbulkan resiko baru.

“Kasihan kalau sampai pasien jadi korban hanya gara gara ditangani dokter yang tidak tepat,” ujar sumber yang meminta namanya di rahasiakan.

Lagi pula menurutnya, jika itu sampai terjadi ia berharap pengganti dr. Ernita bisa memiliki sertifikat HD.

“Setidaknya kami sebagai pasien bisa merasa nyaman, karena kita tau yang menangani kami adalah dokter professional,” tutup dia.

Hingga berita diturun semua pihak belum dapat memberikan tanggapannya, adapun Kepala BRSD yang berusaha ditemui wartawan transsulawesi.com siang tadi, dalam kaitannya pengadaan alat kesehatan dirinya memilih meninggalkan lokasi wawancara.

(SYF)

BACA: Pengadaan Alkes Rumah Sakit Daerah Luwuk Diduga Sarat Korupsi

 

 
BERITA TERKINI

#HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan