NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Pemda Banggai Ingatkan Tabung Elpiji 3 kg Hanya untuk Masyarakat Miskin

Metro Banggai Senin, 13 /11/ 2017 21:38:55 12475 Pembaca  

tabung elpiji 3 kg
tabung elpiji 3 kg

Transsulawesi.com, Luwuk - Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai mendorong seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Masyarakat golongan menengah keatas  untuk menggunakan LPG Bright Gas 5,5 Kg. Hal ini untuk mengurangi konsusmsi elpiji bersubsidi 3 kg yang di peruntukan bagi masyarakat miskin.

Upaya dalam bentuk imbauan secara resmi sudah disampaikan pemerintah daerah melalui surat edaran tertanggal 16 Oktober 2017 lalu. Namun, sayangnya surat yang ditujukan kepada seluruh Lurah dan Kades se-kabupaten Banggai masih belum dilaksanakan maksimal.

Surat edaran yang ditanda tangani oleh Bupati Banggai Herwin yatim adalah merupakan tindak lanjut Surat Gubernur Sulawesi Tengah tanggal 9 Januari 2017 perihal penggunaan LPG Bright Gas 5,5 Kg, serta Peraturan Menteri  ESDM - RI Nomor 26 Tahun 2009 tentang penyediaan Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Pada hekekatnya bahwa penggunaan gas 3 Kg adalah merupakan LPG yang bersubsidi dan diperuntukan bagi masyarakat miskin dengan penghasilan 1.500.000/bulan. Disamping itu, penggunaan gas 3 kg bagi semua kalangan tanpa pembatasan yang dimaksud dalam surat edaran, menyebabkan kelanggkaan tabung gas itu sendiri.

Sebelumnya Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ego Syahrial di Jakarta menegaskan, elpiji bersubsidi 3 kg seharusnya digunakan masyarakat tidak mampu. Sebab itu pada tabung gas berkelir hijau tersebut tertulis ‎hanya untuk masyarakat miskin. "Kan tabung melon itu dituliskan untuk rakyat miskin," kata dia di belum lama ini di Jakarta, Jumat (13/10/2017).

Menurut Ego, langkah mendorong masyarakat mampu tak lagi mengkonsumsi elpiji 3 kg, merupakan salah satu cara untuk meredam kenaikan konsumsi elpiji bersubsidi melebihi kuota. Selain itu, sebagai langkah awal sebelum penyaluran subsidi elpiji tepat sasaran terlaksana.

Sementara itu dipihak PT Pertamina (Persero) mengaku terus berupaya memenuhi kebutuhan elpiji bersubsidi. Namun terkadang di beberapa wilayah masih ditemukan kelangkaan pasokan.

Manager External Communication Pertamina, Arya Dwi Paramita mengungkapkan, elpiji 3 kg adalah barang subsidi dan disediakan untuk masyarakat miskin dan usaha mikro. Namun saat ini penyaluran elpiji 3 kg masih bebas sehingga bisa digunakan masyarakat mampu.

Alhasil, karena semua orang bisa membeli elpiji 3 kg maka kerap terjadi kelangkaan. Padahal jumlah elpiji 3 kg juga sudah disesuaikan dengan jumlah masyarakat miskin. "Inilah kontras sekali penggunaan elpiji 3 kg. Banyak yang tidak berhak menggunakan elpiji ini," ‎kata Arya.

Selanjutnya Arya menjelaskan, pihak yang masuk dalam rumah tangga miskin bisa ditinjau dari beberapa acuan, yaitu mereka yang berpendapatan Rp 350 ribu per bulan per kapita. Selain itu, dinding dan lantai rumah ‎tidak permanen.

Sedangan pengusaha mikro yang bisa mengkonsumsi elpiji 3 kg adalah yang tingkat pendidikannya relatif rendah. Jumlah pekerja kurang dari 10 orang, dari sisi aset Rp 50 juta, dengan omzet maksimal Rp 300 juta per tahun. "Usaha mikro menjadi sasaran penerima subsidi Elpiji, karena usaha mikro sulit mendapat akses perbankan," tutup Arya.

(SYF/AL)


 
BERITA TERKINI

#HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan