NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Kids Jaman Now Mesti Tau, Kisah Pembebasan Irian Barat dari Salakan

Historia Sabtu, 11 /11/ 2017 19:27:59 11972 Pembaca  

PGT. ©52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat
PGT. ©52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat

Transsulawesi.com, Salakan - Pembebasan Irian Barat merupakan salah isu kedaulatan terbesar pada awal masa kemerdekaan Republik Indonesia. Konflik ini muncul ketika Belanda tidak bersedia untuk menyerahkan Irian Barat ke dalam bagian NKRI, dan memilih untuk menjadikan wilayah itu sebagai negara boneka. Konflik perebutan wilayah ini menguras banyak energi tokoh-tokoh NKRI untuk tetap menjaga kesatuan wilayahnya. Untuk mempertahankan Irian Barat, mereka berjuang melalui berbagai jalur mulai dari diplomasi hingga militer.

Irian Barat merupakan wilayah jajahan Belanda dan bagian dari kesatuan dari pulau-pulau lain di Indonesia dalam Hindia Belanda. Namun, ketika penyerahan kemerdekaan kepada RI, Irian Barat belum disertakan di dalamnya. Hal ini menyebabkan kepemilikan wilayah itu menjadi permasalahan antara RI dan Belanda, sehingga munculah upaya pembebasan Irian Barat dari tahun 1945-1963.

Gagal pada jalur diplomasi, pemerintah Indonesia memutuskan melakukan infiltrasi militer pembebasan Irian Barat. Setelah mempelajari medan dan situasi, TNI memutuskan segala tahapan persiapan dimulai dari perairan peling (Banggai Kepulauan).

Tak pelak, sekitar bulan Agustus 1962, perairan Bakalan Kecamatan Tinangkung, Salakan, seketika kedatangan kapal-kapal perang. Kapal perang berbagai tipe, termasuk kapal selam dan kapal perang pendukung jenis torpedo mulai merapat.

Salakan yang masih sangat sepi dipilih sebagai pusat konsentrasi pasukan karena dinilai strategis dalam pelaksanaan operasi militer. Di bawah pimpinan Mayjen Soeharto, konsentrasi pasukan kekuatan terbesar TNI dalam melaksanakan Operasi Jayawijaya Trikora (Tri Komando Rakyat) sudah berada  di Salakan.

Upaya pengerahan pasukan ini sebagai  tindak lanjut pencanangan  program Trikora oleh Presiden  Soekarno selaku Panglima Tinggi ABRI, setelah membentuk  Komando Mandala Pembebasan Irian Barat 1 Januari 1962 atau setahun sebelum pendaratan di Salakan.

Selain menyusun kekuatan penuh di Salakan, beberapa operasi dilaksanakan hampir bersamaan, diantaranya : Operasi  Banteng di Fak-Fak  dan Kaimana, Operasi Serigala di Sorong dan  Teminabuan, Operasi  Naga di Merauke dan Operasi Jatayu di Sorong , Kaimana, dan Merauke.

Mengenang perjuangan perebutan Irian Barat (Papua) Monumen Trikora didirikan kokoh di atas bukit Kota Salakan. Monumen setinggi 17 meter diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 12 Agustus 1995.

(SYF)


 

HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan