Ilustrasi jalur Sutet
Ilustrasi jalur Sutet

Transsulawesi.com, Luwuk - Ratusan bekas pekerja di proyek Migas yang kini menganggur tengah menanti realisasi Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTG) di Desa Nonong, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Sulawesi Tengah. Mereka hanya berharap mendapat kesempatan bekerja di proyek baru ini.

Berburu menjadi buruh di lokasi proyek yang berhubungan dengan sektor migas memang menjadi pilihan untuk banyak orang di Kecamatan Batui maupun Batui Selatan. Setidaknya ada upah yang tinggi dibanding bekerja di perusahaan yang bergerak disektor lain.

“Kalau dihitung – hitung besar gaji di migas daripada yang lain, daripada kerja di perusahaan perkebunan seperti kebun sawit. Gajinya sangat rendah” ujar Arpan kepada transsulawesi.com.

Sehingga motivasi Arpan untuk menunggu kesempatan itu sangat besar. Tidak hanya dirinya, kata dia, ada ratusan lagi yang menunggu lowongan kerja di konstruksi PLTGU. Pasalnya, proyek ammonia di Desa Uso sudah akan rampung dalam waktu dekat.

“Tinggal PLTG lagi yang jadi kesempatan untuk dapat gaji, karena PAU (Perusahaan Amonia) sudah mau selesai” tutup dia.

BACA : Kebutuhan Listrik Akan Terpenuhi, PLTG Akan Dibangun di Banggai

Menanti Ganti Rugi

Tak hanya menanti kesempatan bekerja, banyak juga warga yang menanti aji mumpung berupa ganti rugi lahan pada jalur Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) untuk mendukung sektor ketenagalistrikan yang dicanangkan.

Akibat itu sejumlah warga yang berhasil ditemui transsulawesi.com mengaku sudah mempersiapkan segala sesuatunya agar ganti rugi lahan bisa lebih tinggi.

“Pokoknya kita bangun apa saja yang kesannya sangat bernilai supay bisa ditaksir mahal oleh PLTG,” ungkap salah seorang sumber yang dirahasiakan namanya.

Seperti menanam tanaman yang bernilai tinggi, maka dengan demikian pihak pengembang akan membayar mahal lahan yang dilintasinya.

“Ini Cuma strategi, malah teman saya ada yang rencana buat kolam ikan, sampai restoran,” imbuh sumber yang mengaku memiliki lahan di Desa Koyowa.

Seperti yang di ketauhi, Pertamina berencana memasok gas dari CPP Matindok untuk Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap Sulawesi Bagian Tengah dengan kapasitas 150 MW.

Dimana hal itu terkait aturan yang dirancang pemerintah yang memastikan bahwa pembangkit listrik bertenaga gas akan mendapatkan alokasi gas dari dalam negeri.

Seperti yang pernah dikemukakan Menteri ESDM Ignasius Jonan, bakal ada regulasi berupa Keputusan Menteri (Kepmen) yang mewajibkan seluruh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang memiliki lapangan gas di dalam negeri mengalokasikan sejumlah produksinya untuk PLTG. Tujuannya, lanjut Jonan, memaksimalkan harga listrik yang lebih terjangkau dengan meminimalkan biaya transportasi untuk energi primer dalam hal ini gas.

"Ada kesepakatan produsen hulu migas dengan PLN bahwa produsen gas di suatu tempat harus memasok gas di plant gate PLN yang [yang terdekat] baik yang ada sekarang maupun ke depannya," kata Jonan pada awal April 2017 lalu.

(SYF)