NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Fokus

Menyandingkan Isu Bohong dan Catatan Peneliti Soal Kerawanan Gempa dan Tsunami di Banggai

Selasa, 05 /09/ 2017 05:33:18 13272 Pembaca  

lustrasi sensor tsunami (Foto:bom.gov)
lustrasi sensor tsunami (Foto:bom.gov)

Transsulawesi.com, Luwuk - Isu Tsunami bakal melanda wilayah pesisir Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep ) dan Kabupaten Banggai membetot perhatian warga dalam lima pekan terakhir. Isu yang pertamakali menyebar di sebuah akun media sosial tidak hanya membuat resah, namun adapula yang bersiap mengungsi kedataran tinggi.

Kepanikan warga terkait isu sunami tersebut langsung mendera warga yang bermukim diwilayah pesisir pantai,  di kecamatan Moilong Kabupaten Banggai misalnya, sejumlah warga yang bermukim didesa Tou dikabarkan, Minggu (3/9/2017) kemarin, mulai mengemasi barang bawaannya untuk pindah ketempat yang lebih tinggi, hal serupa juga terjadi didesa Nonong, walau tak sepanik warga Tou sejumlah warga yang berhasil ditemui transsulawesi.com mengaku berencana akan kedesa Ondoondolu karena dianggap aman dari terjangan tsunami jika itu benar terjadi.

Sementara di Kabupaten Banggai Kepulauan sendiri, warga Buko yang juga sempat panik mendapat isu serupa lebih awal telah mempersiapkan segalanya untuk mengungsi.

Dari hasil penelusuran transsulawesi.com, isu akan terjadi Tsunami akibat patahan lempeng yang berada diselat peling antara wilayah Bangkep dan Banggai tidaklah benar, walau demikian sejumlah warga percaya isu patahan bakal terjadi pada pekan ini tepatnya 5 September 2017. Bahkan kejadian tersebut menjadi akan tercatat sebagai bencana terdahsyat diabad ini.

Isu mentah ini sempat dialami Feny (bukan nama sebenarnya) salah satu warga asal desa Uso Kecamatan Batui yang kebetulan berada di Bungku Utara Kabupaten Morowali, kepada transsulawesi.com dirinya mengaku takut pulang kekampung halaman pasca merebaknya isu tersebut, ia menyebut mendapat informasi dari rekannya tsunami akan terjadi sekitar bulan September.

“Terus terang kami sekeluarga ada disini (Bungku Utara), kebetulan ada nikahan keluarga. Rencana mau balik ke batui tapi ada isu Tsunami jadi sementara kami tunda pulang,” ujarnya melalui pesan singkat.

Sungguh kami sangat takut, karena waktu kejadian dikabarkan tanggal 5 (September) imbuh dia pula.

Hingga berita ini diturunkan isu tidaklah terbukti, bahkan ada beberapa sumber yang memiliki profesi yang cukup berhubungan dengan isu pemberitaan ini mengatakan bahwa isu tsunami seperti yang dapatkan warga adalah berita bohong.

“Apalagi kalau sampai menyebut tanggal kejadian,” kata dia.

Namun demikian kata sumber, akan lebih spesifik jika isu bencana tsunami yang tentunya berkaitan dengan aktivitas gunung api  aktif, maka secara pasti bisa mendapat informasi dari dari BVMG (Badan Vulaknologi dan Mitigasi Bencana Geologi).

“Langsung ke BVMG aja mas,” ujar Sumber.

Transsulawesi.com mencoba menghubungi BVMG (Badan Vulaknologi dan Mitigasi Bencana Geologi) via surat elektronik namun belum mendapat jawaban terkait hal itu.

Bermula dari Catatan Peneliti

Memang ada catatan dari peneliti yang aktif bekerja di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait hal itu, namun ia tidak menyebutkan kapan akan terjadinya bencana tersebut.

Peneliti atas nama Daryono dalam catannya hanya menyebutkan jika Kabupaten Banggai berada di zona “triple junction”, atau terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik.

Sehingga menurut Daryono, saat ketiganya bertumbukan akan mengakibatkan Daerah Banggai menjadi salah satu daerah yang memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang tinggi.

Dalam catatanya pula Daryono menyinggung Struktur Sesar seperti sesar Naik Balantak, Sesar Naik Batui, Sesar Naik Sangihe Timur dan Sesar Naik Sorong Utara, Sesar Naik Sula, Sesar Matano dan Sesar Sorong Utara yang kesemuanya merupakan generator gempabumi yang berpotensi mengguncang wilayah Kabupaten Banggai dan sekitarnya (Steve et al., 1998).

Lebih jelas lagi Daryono dalam catatannya yang diposting pada 9 Agustus 2010 pukul 16:36 dilaman resmi www.bmkg.go.id memiliki kajian berikut;

Berdasarkan peta seismisitas Daerah Banggai tampak aktivitas kegempaan di daerah ini cukup tinggi, hal ini disebabkan karena lokasinya yang berada pada zona sesar aktif baik di daratan dan di lautan. Melihat daerahnya yang kaya sumber gempabumi berupa patahan aktif serta dilingkupi beberapa zona pembangkit gempabumi di lautan, maka daerah Kabupaten Banggai merupakan kawasan yang memiliki risiko tinggi terhadap gempabumi dan tsunami.

Sejarah kegempaan Daerah Banggai merupakan sumber informasi utama tentang kegempaan yang pernah terjadi. Meskipun kejadian gempabumi masa lalu di daerah ini tidak banyak dilaporkan, namun data seismisitas regional merupakan cerminan tingginya aktivitas kegempaan. Sejarah gempabumi yang ada masih sebatas data kerusakan, namun demikian cukup untuk menggambarkan besarnya tingkat kerusakan akibat gempabumi yang terjadi pada saat itu.

Jika mencermati fakta sejarah kegempaan Banggai, sejak dahulu daerah ini merupakan kawasan yang sudah berulangkali mengalami kerusakan setiap terjadi gempabumi kuat. Sejarah gempabumi merusak yang dilaporkan pernah terjadi di Daerah Banggai adalah Gempabumi Sulawesi Tengah 1939. Pada tanggal 4 Mei 2000 lalu di Kabupaten Banggai juga pernah terjadi bencana gempabumi berkekuatan 6,5 SR yang mengakibatkan puluhan rumah dan bangunan kantor pemerintah serta rumah ibadah mengalami kerusakan yang cukup parah. Bahkan, jalan aspal sepanjang 200 meter menuju ke arah bandar udara Bubung retak selebar 30-45 sentimeter. Gempa bumi Banggai juga mengakibatkan tsunami dengan ketinggian air hingga tiga meter di wilayah Kecamatan Totikum. Sedangkan di wilayah Salakan sejumlah rumah penduduk dan kantor pemerintahan rusak berat. Korban meninggal dunia dalam bencana ini mencapai 40 orang dan ratusan korban luka-luka.

Pada 10 Juli 2009 wilayah Kabupaten Banggai dan Banggai Kepulauan kembali diguincang gempabumi. Episentrum gempa yang mengguncang wilayah timur Provinsi Sulteng itu berada pada koordinat 0,24 Lintang Utara dan 123,44 Bujur Timur, dengan kedalaman 211 kilometer dari permukaan laut. Pusat gempa ini berada di Teluk Tomini atau sekitar 52 kilometer arah tenggara Kota Gorontalo dan sangat dekat dengan kota Luwuk (ibukota Kabupaten Banggai di Provinsi Sulteng). Informasi yang diperoleh menyebutkan warga di kota ini merasakan getaran gempa sekitar III-IV MMI (Modified Mercally Intensity). Guncangan gempa tersebut terasa hingga 10 detik. Penduduk di Buelemo dan Balantak yang keduanya merupakan ibukota kecamatan di Kabupaten Banggai dan berada di "Kepala Burung" Pulau Sulawesi itu, merasakan getaran gempa tersebut sekitar IV-V MMI. Sedangkan di kota Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, getaran gempa dirasakan sekitar II-III MMI.

Pustaka
Steve, J.M. and Moyra E.J.W., 1998, Biogeographic Implication of the Tertiary paleogeaographic evolution of Sulawesi and Borneo, SE Asia Research Group, University of

(SF/sam)

 

Komentar

BERITA TERKINI


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan