NEW EDITION
    Voice of East Sulawesi

Luwuk, Kota Kecil Tanpa Identitas Pariwisata

Opini Sabtu, 26 /08/ 2017 10:14:38 18709 Pembaca  

Oleh : Subrata Kalape, S.Sn

“Perlu membangun RELASI untuk penguatan Identitas Lokal”

Beberapa bulan lalu tepatnya di bulan April 2017, saya kedatangan salah satu sahabat saya dari Jakarta yang untuk pertama kalinya  berkunjung ke Luwuk Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah atas desakan dan undangan saya.

Saya kemudian membawanya ke beberapa obyek wisata yang ada di Kabupaten Banggai diantaranya adalah Pantai Kilo lima, Salodik dan Pulau Dua. Kurang lebih seminggu dia berada di Luwuk dan sengaja menghabiskan uangnya untuk menikmati cuti liburannya di Luwuk.

Malam tepat di hari ke tiga ia berada di Luwuk, saya membawanya ke bukit Keles untuk melihat panorama kota Luwuk di malam hari yang konon disebut Hongkong city in the night.

Dan terakhir sehari sebelum ia pulang saya menyempatkan untuk mengajaknya menikmati indahnya Teluk Lalong dan mapir menikmati kopi dengan iringan live music acoustic berirama jazz di salah satu Warkop di sekitar lokasi Luwuk Shoping Mall.

Ia bertanya apakah ada CD/DVD instrument musik tradisional yang dapat ia dengar di warkop itu? Saya menggeleng tanpa bisa berkata banyak. Dalam obrolan selanjutnya, ia lalu mengatakan bahwa  besok ia akan segera pulang dan pesawatnya akan berangkat pukul 11.50 wita, lalu ia meminta saya mengantarkannya besok pagi ke pasar barang seni untuk membeli oleh-oleh cendera mata khas Luwuk buat istri dan anak serta teman-teman kantornya di Jakarta.

Pikirnya ini Jawa atau Bali yang punya tempat khusus seperti itu. Praktis saya kembali menjawab bahwa Luwuk belum punya pasar khusus seperti itu. Ada kain Tenun Nambo tetapi harus langsung datang ke tempat pembuatannya di Nambo. Itupun masih dengan stok kain dan varian motif yang terbatas pula. Tidak ada varian pilihan untuk cendera mata lainnya.

Akhirnya saya hanya membawanya ke toko Golden Hill untuk membeli beberapa makanan ringan/kripik seadanya yang juga sudah umum ia peroleh di kota2 lain di Indonesia seperti pisang sale, kripik keladi, kripik nangka, sambal ikan rowa, dan lainnya,  yang baginya itu sudah biasa dan tidak  dapat dijadikan pajangan benda koleksi barang seni antik di ruang tamu.

Pagi harinya saya mengantarnya ke Bandara Bubung dan menemaninya di ruang tunggu. Ia masih juga bertanya mengapa sejak seminggu ia berada di Luwuk, tak satupun ia temui ornamen/ragam hiasan khusus pada bangunan-bangunan yang menjadi ciri khas etnis di Kabupaten Banggai yang ada seperti di Kalimantan dengan ornamen Dayak, Papua dengan ornament Asmat, atau Bali dengan gambar kotak-kotak hitam putih dan kepala Barong/leak khas Bali terpajang  di mana-mana, juga kota-kota lain di Indonesia.

Ia mulai mencari-cari di setiap sudut ruangan bandara tak satupun ia temui ornament/ragam hias itu, lalu ia dengan sedikit tersenyum dan nada seperti mengejek mengatakan “wah, daerahmu ini seperti tidak memiliki identitas lokal” (Local Wisdom/local genius).

Saya membela diri untuk menghindari malu dengan sedikit pernyataan “sabar kawan, daerahku ini  kan lagi dalam tahap pembangunan di berbagai sektor dan basisnya adalah kearifan lokal dan budaya. Kau datanglah kembali ke sini  lima tahun ke depan.

Beri kami waktu untuk memenuhi semua keinginanmu. Yakinlah, saat kau kembali lagi ke Luwuk, akan kau temui perubahan besar.” Nadaku sedikit meyakinkan. Ia berjanji akan datang kembali untuk menagih janji saya itu, sambil menitipkan kata-kata terakhirnya  “itu tugas dan tanggung jawabmu sebagai anak daerah ini yang notabene bergelut di bidang itu, saya tuggu kerja dan langkah inovasimu untuk pembangunan daerah ini, saya mengangguk pasti dan berjabatan tangan dengannya lalu Tak lama kamipun berpisah karena ia harus segera naik pesawat menuju Jakarta.

Pertemuan singkat dengan sahabat saya itu, dengan pertanyaan dan kesannya terhadap Kota Luwuk, merupakan tamparan keras sekaligus menimbulkan kegelisahan dan motivasi bagi saya untuk melakukan  langkah inovasi ke arah perubahan. Bagi saya ini harus segera mungkin dilakukan.

Dua bulan berlalu, kemudian atas tuntutan peningkatan karir, saya harus mengikuti Diklat Pim IV untuk jenjang eselon IV yang dilaksanakan oleh Badan Kepegawaian dan Pengembagan SDM Kabupaten Banggai. Setiap peserta diklat wajib membuat dan merealisasikan proyek perubahan di masing-masing OPD tempat peserta bekerja.

Proyek perubahan itu diharapkan benar-benar berangkat dari masalah yang paling prioritas untuk diselesaikan pada tupoksi masing-masing peserta. Tidak terkecuali Dinas Pariwisata tempat saya saat ini bekerja.

Memang benar bahwa pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Banggai dalam kurun waktu 10 tahun terakhir belum dapat sepenuhnya menjawab tujuan pembangunan kepariwisataan di suatu daerah secara umum, walaupun dalam hal ini organisasi perangkat daerah yang khusus menpunyai tugas pokok kepariwisataan daerah telah ada yaitu Dinas Pariwisata Kabupaten Banggai.

Masalah ini di sebabkan beberapa faktor yaitu :

1. Kepariwisataan di Kabupaten Banggai merupakan OPD pilihan, yang hanya merupakan OPD pelengkap dan Pemerintah daerah lebih menekankan pada urusan wajib pemerintah seperti Pendidikan, Kesehatan, Pengentasan Kemiskinan, dan Industri real.

2. Belum adanya kesadaran masyarakat akan industri pariwisata yang apabila dikelola secara baik yang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

3. Tidak adanya  promosi secara luas dalam hal ini promosi secara elektronik yang dapat dipublikasikan secara luas dan menembus batas imajiner (Website).

4. Kurangnya keseriusan pemerintah daerah dalam hal pengembangan kepariwisatan daerah dalam hal ini peningkatan dan pengadaan sarana dan prasarana kepariwisataan dan pengembangan dan pelestarian seni dan budaya asli daerah.

5. Kurangnya inovasi dan kreasi seni budaya diakibatkan pembinaan dan pendampingan OPD yang selalu mengalami kekurangan dalam hal pendanaan.

6. Belum optimalnya sinergitas eksekutif dan legislatif dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan industri pariwisata.

7. Kurangnya minat investor dalam mengembangkan bisnis kepariwisataan di Kabupaten Banggai disebabkan respon pemerintah, persyaratan dan izin yang masih dirasa memberatkan.

Menjawab tuntutan tugas peserta Diklat PIM IV tadi, serta berbagai masalah yang dihadapi Dinas Pariwisata di atas, Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan sebuah proyek perubahan dengan membentuk wadah yang kemudian saya sebut dengan Relasi, merupakan akronim dari Ruang Eksplorasi Seni. Ruang ini diharapkan mampu menjawab permasalahan serta tantangan dari apa yang diharapkan oleh semua pihak termasuk sahabat saya itu.

Mengapa harus RELASI? menurut hasil kajian dan diskusi panjang dengan berbagai pihak, bahwa ternyata melalui relasi maka 15 Subsektor dari Industri kreatif di Indonesia akan dapat dicapai seperti:  Periklanan, Arsitektur, Seni Pertunjukan, Penerbitan Dan Percetakan, Layanan Komputer Dan Piranti Lunak (Software), Televisi & Radio ( Broadcasting), Riset Dan Pengembangan ( R & D), Kuliner, Kerajinan (Craft), Desain, Fesyen (Fashion), Video, Film Dan Fotografi, Permainan Interaktif (Game), Musik, yang kesemuanya akan bermuara pada terciptanya “Pasar Barang Seni” di Kota Luwuk, sehingga apa yang dialami sahabat saya itu tidak menimpa pada tamu-tamu lain yang datang dan berkunjung di Kota Luwuk. Yang terpenting lagi, Kota luwuk akan memiliki kekuatan Identitas lokal yang lebih dikenal di Indonesia.

Atas dorongan dan support dari berbagai pihak, Penulis bersama teman-teman seniman di Kabupaten Banggai saat ini telah melakukan langkah pembentukan RELASI yang diharapkan mampu menjadi ruang untuk berdiskusi,berkolaborasi, serta menjadi sarana dalam memediasi pelaku dan pasar Industri kreatif di Indonesia sehingga Usaha Industri kreatif dapat tumbuh dan berkembang di Kabupaten Banggai sesuai dengan Visi Misi Pemerintah Daerah saat ini yang menitik beratkan seluruh sektor pembangunan pada basis kearifan lokal dan budaya.

Harapan penulis semoga langkah inovasi ini juga akan mendapat dukungan pula dari berbagai pihak pemangku kepentingan dan pengambil kebijakan (stakeholder) demi kemajuan sektor pariwisata sejalan dengan visi Dinas Pariwisata yaitu ‘Mewujudkan Destinasi Wisata Nasional dan Internasional Berbasis Kearifan Lokal dan Budaya di Kabupaten Banggai Tahun 2021’.

*) Penulis adalah Alumni dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung tahun 1999, dan saat ini menjabat sebagai Kepala Seksi Usaha Pariwisata Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kabupaten Banggai.


 
BERITA TERKINI

#HEADLINE


Masukkan Email Anda Untuk Berlangganan