Kelompok nelayan kecamatan batui. (Foto: Transsulawesi.com)
Kelompok nelayan kecamatan batui. (Foto: Transsulawesi.com)

Transsulawesi.com, Banggai -- Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir rumah tangga nelayan di Indonesia terus mengalami penurunan dari yang semula berjumlah 1,6 juta menjadi 800 ribu KK. Berkurangnya jumlah nelayan bukan tanpa sebab yang mendasarinya. Secara nasional penyerobotan penangkap ikan dari negara lain, mengakibatkan minimnya hasil tangkapan ikan para nelayan yang berdampak pada kesejahteraan nelayan.

Namun, selain penyerobotan wilayah tangkapan ikan, beberapa permasalahan teknis menjadi menghambat kesejahteraan nelayan, antara lain sebagian besar masih nelayan memiliki struktur armada penangkapan yang masih tradisional, sumberdaya manusia, minimnya penguasan teknologi, dan manajemen bisnis usaha nelayan. Sehingga perlu adanya upaya untuk mengembangkan masyarakat nelayan untuk saat ini.

Salah satu upaya pengembangan masyarakat nelayan di Kabupaten Banggai misalnya, perusahaan gas alam cair PT Donggi Senoro Lng (DSLNG) turut mengambil peran melakukan pemberdayaan terhadap masyarakat nelayan di tiga Kecamatan yakni Batui, Kintom dan Nambo.

Dalam melakukan programnya, DSLNG terlebih dahulu memetakan kendala yang dihadapi masyarakat nelayan itu sendiri. Setelah itu kemudian mengambil langkah langkah strategis untuk mengembangkan nelayan di tiga kecamatan tersebut. Adapun pengembangan yang dilakukan DSLNG terhadap nelayan sebagai berikut:

Penguasaan Tekhnis Alat Tangkap Ikan Terhadap Nelayan

Bertempat di “Fishery Training Center” DSLNG, acara sarasehan yang bertema “Manajemen Usaha Dan Tekhnis Alat Tangkap Ikan” di ikuti oleh sebanyak tujuh kelompok nelayan.  Pada program tersebut, pengembangan nelayan berupa training praktek lapangan dan teori. Yakni meliputi cara bertahan dan menyelamatkan diri saat berada di laut dan mengenai navigasi saat malam hari, (28/4/2017).

Dalam program pengembangan terhadap nelayan, penguasaan tekhnis alat tangkap ikan modern menjadi sasaran utama pada pelatihan tersebut. Sebagai penunjang, nelayan diberikan bantuan peralatan (tool) untuk melaut.

Manajemen Usaha Koperasi Perikanan

Pada tempat yang sama (FTC), melanjuti program pelatihan awal, DSLNG menggelar sarasehan perikanan pada sejumlah kelompok nelayan binaan di tiga Kecamatan. Acara tersebut merupakan lanjut dari upaya pengembangan terhadap nelayan dengan membentuk unit usaha koperasi perikanan kelompok nelayan, (27/7/2017).

Koperasi Perikanan sendiri dibentuk dengan anggota-anggota kelompok nelayan itu sendiri. Koperasi ini terbentuk untuk mendukung manajemen dalam menjalankan usaha perikanan baik dari produksi, pengolahan, pembelian atau penjualan bersama hasil-hasil usaha perikanan kelompok nelayan binaan DSLNG.

Bentuk Perhatian DSLNG Terhadap Nelayan

Program pengembangan terhadap nelayan merupakan sebuah perhatian perusahaan terhadap kehidupan ekonomi nelayan bagaimana kendala kendala yang dihadapi. Sehingga dengan adanya program tersebut, diharapkan nelayan bisa lebih meningkatkan hasil tangkapannya. Namun tentunya, dengan pemantauan, pelaporan, dan evaluasi program yang diberikan.

Pelaksana CSR DSLNG, Rohani Simbolon mengatakan bahwa kelompok nelayan dikembangkan dibeberapa kecamatan yakni Batui, Kintom dan Nambo. “untuk kecamatan batui ada 7 kelompok, satu kelompok terdiri dari 5 orang nelayan, totalnya 35 orang”.

Sementara itu, Corporate Communication Manager DSLNG, Thamrin Hanafi yang lama bergelut di bidang pengembangan CSR (Corporate Social Responsibility) mengatakan bahwa perhatian terhadap nelayan merupakan program perusahaan pada upaya pengembangan masyarakat. “Program di donggi senoro itu tidak di titik beratkan pada pemberdayaan, tapi pengembangan masyarakat”. Ungkapnya.

Pengembangan terhadap nelayan perlu dilakukan semua pihak terkait saat ini, ketika mata pencaharian sebagai nelayan tidak lagi menguntungkan maka sudah pasti tidak akan ada lagi masyarakat yang mau berprofesi sebagai nelayan di kemudian hari.

(Mhr)